Kres.. kres.. kres… Suara gunting memotong kertas terdengar nyaris serempak di tiga kelas pelatihan diseminasi alat peraga matematika untuk guru SD. Dalam pelatihan yang digelar di SDN Percobaan 2 Kota Malang, kemarin pagi, obrolan-obrolan kecil ikut mewarnai kerja sama para guru membuat alat bantu pembelajaran matematika tersebut. Alat peraga yang dibuat para guru bermacam-macam. Kertas yang dipotong digunakan untuk membuat bangun tiga dimensi. Ada segitiga, kubus, jajaran genjang, dan bukur sangkar. Potongan kertas itu dilekatkan dengan lem. Potongan kertas karton sekaligus digunakan untuk membuat bidang-bidang irisan melintang yang menjadi penyusun sebuah bangun tiga dimensi. Kertas yang dipotong kecil-kecil digunakan membuat papan tempel penjumlahan bilangan. Kertas itu digambari bunga, buah, atau bentuk sederhana lainnya. Setelah itu ditempel di stereofoam. Potongan stereofoam lebih banyak lagi fungsinya. Ada yang digunakan untuk membuat muka jam beserta jarum penunjuknya. Stereofoam yang berbentuk lembaran juga dimanfaatkan para peserta pelatihan untuk membuat berbagai bentuk mainan. Mainan-mainan itu digunakan untuk berhitung.

Sedotan juga bisa digunakan untuk membuat alat peraga. Dirangkai dengan kawat atau benang, maka sedotan bisa untuk menjelaskan sisi sebuah bangun datar. Juga bisa digunakan untuk jarum jam dan lidi hitung. Lilyana Abibah, salah seorang tentor dari Meqip (Mathematic Education Quality Improvement Program) Kota Malang mengungkapkan, para guru diajak berkreasi secara sederhana. Diharapkan dengan ajang kreasi alat peraga untuk SD akan memunculkan kebiasaan membuat alat peraga. Dalam proses pembelajaran, kata Lilyana, alat peraga sangat penting membantu siswa mamahami materi. Sebab, siswa akan senang, tidak tegang dan akan selalu ingat dengan apa yang diterangkan guru melalui alat peraga. “Jangan sampai siswa SD takut dengan matematika. Kalau dibiarkan, maka matematika akan jadi momok,” kata Lilyana. Alat peraga tak harus terbuat dari bahan lembaran plastik atau mika tebal. Dari bahan-bahan sederhana sejenis kertas dan stereofoam pun bisa tetap bermanfaat. “Harapannya guru bisa membuat yang lebih permanen. Tetapi bahan sederhana pun dimaklumi, yang penting tujuannya tercapai,” kata guru SD Laboratorium ini. Yang juga penting dari sebuah alat peraga adalah guru tidak hanya membuat satu alat peraga saja. Melainkan beberapa buah dengan model yang sama. Tujuannya agar semua siswa bisa mencoba sendiri-sendiri. Tidak bergantian. Ini untuk menjawab masalah waktu yang banyak terbuang dalam pembelajaran menggunakan alat peraga. Sedangkan diseminasi diikuti 500 orang guru SD. Lokasinya dibagi tiga, yakni SDN Bandungrejosari 2, SD Percobaan 2, dan SDN Dinoyo 2. (yos/ziz)

Sumber: http://www.jawapos.com/radar

Komentar-Komentar

Tulis Komentar

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *