LAHIRNYA SAYAP KANAN

by

LAHIRNYA SAYAP KANAN

Dalam dunia gerakan/organisasi kita mengenal istilah sayap kiri dan sayap kanan. Meski istilah ini tidak terlalu popular di tataran lokal Banten namun sebagai bahan analogi saya rasa pantas untuk dikupas lebih jauh. Kiri sebagai simbol perlawanan, oposisi dan kanan sebagai kelompok pro, dan sedang berkuasa “biasanya.” Penulis pada kesempatan ini ingin sharing dengan analisa dari realita dan pengalaman diri penulis setelah sekian lama belajar berorganisasi. Mudah-mudahan ini menjadi bagian penting untuk disimak meski hanya dikabarkan dalam satu hari saja. Yang pasti catatan ini adalah catatan penting bagi siapa saja yang ada di organisasi baik NGO maupun mereka yang ada di dalam lingkaran birokrasi.

Hidup berada di sebelah kiri itu mengasikkan. Lebih bebas, lepas, kita tidak terlalu sibuk untuk mengendalikan kemudi karena itu ada yang ngurus yaitu sayap kanan. Kalaupun terjadi kesalahan dalam mengandalikan kemudi, bukan urusan kelompok kiri karena si kiri tidak mengoperasikannya. Lantas si kiri bisa dengan leluasa untuk memberikan kritik, dan “maido” jika memang itu diperlukan. Sedang kanan harus bertanggung jawab atas kendali yang dipegangnya.

Jika memang bersinergi sesuai peran masing-masing ini tampak indah saja di pandang mata. Namun hasil kajian kami mengindikasikan faktanya lain, kiri dalam tujuan awal menginginkan terbuka, fair, dengan dalih untuk kepentingan rakyat. Ternyata Rakyat hanya jadi tameng semata, karena ternyata self & group lebih dominan dibanding kepentingan rakyat/penduduk secara umum.

Dalam beberapa referensi misalnya Aksen Sinaga dalam paparanya menyampaikan tentang Istilah “non-governmental organization” (NGO). Bahwa sejak berdirinya PBB pada tahun 1945, tepatnya pada pada Piagam PBB Pasal 71 Bab 10 tentang peranan konsultatif NGO. Defenisi “international NGO” (INGO) pertama kali diberikan dalam resolusi 288 (X) ECOSOC pada 27 Pebruari 1950.

Selanjutnya, World Bank, mendefenisikan NGO sebagai “organisasi swasta yang menjalankan kegiatan untuk meringankan penderitaan, mengentaskan kemiskinan, memelihara lingkungan hidup, menyediakan layanan sosial dasar atau melakukan kegiatan pengembangan masyarakat”. Dalam sebuah dokumen penting World Bank, Working With NGOs, disebutkan, “Dalam konteks yang lebih luas, istilah NGO dapat diartikan sebagai semua organisasi nirlaba (non-profit organization) yang tidak terkait dengan pemerintahan.

Artinya NGO merupakan organisasi yang mandiri di luar pemerintahan. Pengelolaan termasuk masalah pendanaan itu mandiri. Sharing dan berbagi dalam konteks konsep “ya” dan bukan soal dana. Tujuan akhirnya sama yaitu untuk kepentingan pengembangan/kesejahteraan masyarakat. Kalaupun ada NGO yang hidup dan kehidupannya dari dana pemerintah apalagi “merecoki” maka NGO tersebut dipertanyakan ke NGO an nya. Apalagi sehari-harinya menggantungkan hidup dari lingkaran APBD/APBN namun tujuannya belum jelas apakah untuk pribadi atau untuk masyarakat.

Maka, saya rasa tidak haram ketika sedari dini mendeklarasikan diri bahwa organisasinya memang benar sebagai organisasi yang akan bermitra dengan pemerintah. Pemerintah di dalamnya juga manusia yang memiliki keterbatasan, mengapa tidak?, kalau memang tujuan awalnya untuk kesejahteraan dan kemanfaatan bagi masyarakat berarti sama seperti halnya pemerintah. Bermitra, bersinergi dan bersama-sama mengembangkan dan memberi manfaat untuk masyarakat.

Menjawab dinamika yang sudah semakin kian menjadi, maka Sahabat Muda Pendukung Pembangunan (SMPP) lahir dan hadir di tengah-tengah masyarakat Banten. Berwacana “ya” tapi dengan dasar analisis dan hasil kajian. Bekerja konkrit untuk kepentingam masyarakat “ya” dan itu jauh lebih penting. Maka kami segenap pengurus anggota SMPP seluruh Banten berucap dan mencoba untuk mematah “Sayap Kiri” dan menggantinya dengan “Sayap Kanan”. Kemudian kami akan mencoba bangkit dengan mengganti kedua belah sayap (kiri dan kanan) agar keduanya bisa mengepakkan sayab lebih kencang dan bisa membawa terbang jauh-jauh. Sehingga akhirnya tidak ada lagi istilah sayap kiri dan kanan yang aproduktif dan tidak bermakna itu…. Salam Sahabat…..

Penulis:

Wandi S. Assayid

Sekum SMPP Kab. Lebak Pekerja Sosial dan Akademisi

zp8497586rq
Komentar Dinonaktifkan pada LAHIRNYA SAYAP KANAN

Informasi BKM 2012

by

Berikut adalah informasi daftar anggota kelompok peserta Bhakti Karya Mahasiswa (BKM) STKIP Setia Budhi Rangkasbitung Tahun 2012. Silahkan scroll sampai anda menemukan kelompok dimana anda bergabung.

GDE Error: Unable to load profile settings
zp8497586rq
Komentar Dinonaktifkan pada Informasi BKM 2012

Belajar Dari Seorang CR Nurdin

by

 

Tas, baju, dan celana yang tidak terlalu bagus dikenakannya. Tampak jauh, kayaknya sandal yang dikenakan. Turun dari kendaraan umum, kemudian berjalan kaki menuju kantor tempat bekerja. Nampaknya kesehariannya mungkin seperti itu. Karena hamper satu tahun lebih saya tidak pernah bertemu apalagi bercakap-cakap. Namun cerita tentang kepribadiannya tidak jarang terdengan dari teman dekat saya. Bahkan dari sang pengintai yang secara formal jelas adanya dan dibiayai oleh negara. Itulah sekilas pengantar awal yang saya akan kupas tentang sosok yang kayaknya secara subjektif saya amati dan saya berpendapat untuk level Lebak, sekelas pejabat public saya belum menemukannya. “dari beberapa sudut pandang versi subjektif seorang Wandi S. Assayid.”

Jauh dari kehidupan serba bergelimang benda mewah disekelilingnya. Namun menjalani hidup dengan apa adanya, sederhana dan tidak terlalu asik bergelut dengan harta kekayaan milik negara. Tidak sedikit orang biasanya menjadikan alat penguat kesombongan dalam kehidupan sehari-hari. Cara bersosialisasi yang santun, tutur kata tidak berlebihan, ucap tidak banyak basa-basi, adalah miliknya yang terus dijalankan setiap kali beraktivitas. Saya sering berdialog dengan banyak orang yang sering mengamati beliau. Ternyata memang layak seorang CR Nurdin untuk dijadikan panutan bagi orang banyak. Secara fair saya akui bahwa andai saja para gegedug yang super hebat bisa dengan legowo memiliki kesederhanaan seperti figure yang saya bicarakan. Mungkin dalam skala kecil untuk Lebak, tidak akan terlalu banyak uang negara yang terbuang percuma hanya untuk jajan yang tidak semestinya.

Mari kita hitung berapa banyak mobil mewah  (untuk kelas kabupaten miskin) seperti Lebak. Strada, Camry, Terano, Fortuner, dan banyak mobil lain bertebaran di tiap dinas dan tempat gegeden mangkal. Miris, jika kita melihat banyak tayangan di Koran, televisi yang mengangkat tentang kehidupan yang memperihatinkan di Kabupaten miskin ini. Apalagi ternyata di lebak masih banyak penduduk yang sampai saat ini tidak merdeka karena masih sedikitpun belum emrasakan nikmatnya rumah terang dialiri listrik. Tapi kok, asik kayaknya para gegeden itu hilir mudik menggunakan duit rakyat untuk poya-poya. Mobil, bensin, ongkos semua mereka dapatkan. Tapi nyatanya kesadarannya nuraninya tidak kunjung dating sampai uban mereka menumpuk.

Apa salah menurut aturan para pejabat menggunakan mobil yang wajar. Tidak memaksakan so mampu. Padahal kalau secara fair kita akui kayaknya secara murni kabupaten Lebak kayaknya kesulitan untuk membiayai satu dinas/Satker saja, misal dinas pendidikan. Lantas kemana hasil kekayaan melimpah dari sumber daya alam, emas, batubara, pasir, dan banyak bahan tambang yang memiliki nilai tinggi. Apa harus Lebak ini menjadi lading untuk memperkaya diri bagi beberapa kalangan saja. Apakah akan selamanya kita menjadikan Rumah Sakit sebagai tempat mendulang penghasilan. Apakah akan selamanya kita mendapat gelar sebagai kabupaten “gering” karena penghasilannya mungkin paling besar dari Rumah Sakit, naudhubillah.

Miris kiranya kalau kita melihat banyak pandangan miring dari banyak kalangan. Jika dibandingkan dengan antara miskin atau kaya sebuah kabupaten. Maka jawabannya justru lebih mengasikkan kabupatennya berlabel miskin. Karena dengan kemiskinan yang banyak, kebodohan yang banyak, buta aksara yang banyak, jembatan yang ancur justru katanya itu bisa jadi sumber anggaran yang besar. Bantuan pusat, maupun funding akan datang dengan sendirinya jika keterbelakangan, kemiskinan dan sejenisnya melimpah di suatu daerah. So, kemiskinan itu harus dikelola dan dilestarikan supaya langgeng dan abadi adanya. Apakah seperti itu dasar rasionalisasi sebuah pengelolaan kedaerahan.

Lebih dari 60 tahun kita merdeka, ternyata negara masih saja kesulitan hanya dalam mengurus administrasi penduduknya. Adanya kebijakan dalam penataan administasi penduduknya ternyata tidak berjalan dengan baik. Kini ada sebuah dinas misalnya yang kayaknya paling sibuk didatangi orang untuk mengurus administrasi kependudukan. Kantornya sudah begitu megah (karena baru dibangun), namun lagi-lagi karena mungkin ada pengelola yang mentalnya masih abnormal maka program yang seolah-olah harus rapi, dari tingkat RT sampai tingkat dinas harus ditata, dan teratur. Kini tidak lagi berjalan dengan amanah (versi subjektif saya). Pengalaman rill saya alami sendiri, “kok?” ada ternyata dalam lembaga formal pemerintahan di negeri ini  yang memasang tarif administrasi seiklasnya. “Kok?” ada ternyata pembuatan dukumen pribadi warga negara yang harusnya diurus mulai dari RT tapi tiba-tiba bisa diurus di dinas. “Ko?” kok ada orang lain menunggu berjam-jam bahkan berminggu-minggu namun beberapa orang bisa hanya dengan hidungan menit. Katanya tertib administrasi, katanya harus rapi, “kok kayak begitu?” “oh mungkin karenan banyak “kok-nya” kita namakan saja pengelola “kokok beluk”. Jangankan mengurus yang terlalu banyak, diri saja masih cengegesan dalam melayani masyarakat bahkan parahnya sambil main-main handphone. Bagaimana bisa mengurus negeri yang kompleks ini.

Makin gerah lagi kita melihat, pembagunan yang dilakukan pemerintah saat ini. Belanda itu penjajah kok membangun di tanah orang bisa bagus, rapi, kuat mampu bertahan hingga sekarang. Lihat tuan rumah, orang Indonesia, bahkan orang Lebak, membangun di Lebak. Kok ada sih sekarang cerita pembangunan irigasi yang duitnya sudah keluar untuk membangun tapi bangunannya tidak bisa difungsikan. Jalan raya banyak yang dibangun, tapi nyatanya hanya bertahan dalam hitungan bulan. Emang manusia sudah beralih makanannya?, mungkin tidak lagi memakan beras. Tapi kini batu, aspal, semen, kayu itu menjadi makanan yang di’mat bagi manusia. Sehingga wajar setiap pembangunan yang menggunakan bahan-bahan tersebut, maka dengan sendirinya akan susut karena termakan manusia beton, manusia kayu, manusia aspal dan lainnya.

Saya meyakini bahwa disela kejadian itu semua ada memang manfaat yang diperbuat mereka. Wajar manusia tempatnya “hilaf” dan “tidak tahu”. Secara optimis mereka yang berpihak kepada umat akan hadir dengan sendirinya. Saya yakin akan menyaksikan pejabat yang naik kendaraan dinas yang biasa-biasa saja. Saya yakin di kemudian hari akan menyaksikan pengelola negara yang rumahnya sama dengan rumah tukan becak. Saya haqul yakin bahwa penyelenggara negara/pejabat publik tidak akan banyak berbasa basi untuk menutupi kekurangan. Karena rakyat merasa cukup dengan melihat perbuatan yang diperbuatnya saja.

Akhirnya saya merasa nyaman dan makin yakin karena ternyata hari ini saya masih menyaksikan ada pejabat publik yang hidupnya sederhana. Ketika saya sedang enak makan soto, membawa kendaraan sederhana, ternyata ada pejabat publik yang lewat di hadapan saya dengan berjalan kaki. Mengenakan kostum yang amat sederhana pula. Bahkan kesederhanaan apa yang dikenakannya tidak ada apa-apanya dibanding dengan kesederhanaan yang pernah diceritakan teman saya tentangnya. Dialah salah seorang yang harus saya menjadikan beliau sebagai salah satu cermin untuk kehidupan saya. Meski perkenalan saya diawali dari teriakan keras dijalanan dengan megaphone terhadapnya. Namun ternyata fakta hidupnya jauh lebih dari apa yang saja duga selama ini. Dia adalah seorang jurnalis, ustad dan kini menjabat anggota KPU Lebak. “seorang CR Nurdin”. Ini cermin kita, dan bukan untuk dikultuskan, mohon maaf atas kecongkakkan, menulis tulisan ini…..

 

 

Penulis,

Tukang Jualan Madu……

Anggota BPK KUMALA……

Dosen STKIP Setiabudhi