Mensristek Dikti Dorong Pengembangan SDM Anak Muda Kurang Mampu

by

Jakarta – Menteri Ristek dan Pendidikan Tinggi (Menristek Dikti) M Nasir prihatin masih banyak generasi muda yang tidak bisa mengenyam pendidikan tinggi karena keterbasan ekonomi keluarga. Padahal banyak dari mereka yang memiliki prestasi cemerlang.

“Saya terus terang sedih melihat fenomena ini, karena masih banyak anak-anak kita yang sebenarnya punya prestasi tapi tidak punya biaya untuk melanjutkan studi di perguruan tinggi,” kata Nasir dalam keterangan tertulis yang diterima detikcom, Kamis (14/5/2015).

Untuk itu, Nasir berjanji, pemerintah melalui Kemenristekdikti akan berupaya keras untuk menyelesaikan masalah itu. “Insya Allah dengan ikhtiar kita bersama kita akan bantu anak-anak berprestasi yang kurang mampu secara ekonomi,” tuturnya.

Dikatakan Nasir, kementerian yang dinahkodainya sudah menyiapkan segala program yang kaitanya dengan pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM). Diharapkan tidak ada lagi anak muda yang berprestasi tidak bisa mengenyam bangku pendidikan tinggi karena masalah ekonomoi.

“Semua program itu sudah kami siapkan, termasuk program beasiswa seperti Bidikmisi, program prestasi akademik dan lain-lain. Prinsipnya tidak boleh ada lagi generasi bangsa ini yang mengalami keterbelakangan SDM,” ucapnya.

sumber: http://news.detik.com/read/2015/05/15/054622/2915159/10/mensristek-dikti-dorong-pengembangan-sdm-anak-muda-kurang-mampu?utm_source=twitterfeed&utm_medium=twitter

CITOREK

by

Oleh: YUYUN ROSALIA

 

Citorek atau biasa di sebut dengan masyarakat kesepuhan citorek,yang berasal dari guradog kecamatan curug bitung, Pada zaman dahulu para kesepuhan mengadakan musyawarah yang bertempat di guradog yang di pimpin oleh kesepuhan yang bernama, aki buyut sainta , dan hasil musyawarah itu menentukan atau mencari lahan yang luas untuk mendirikan pemukiman dan ladang, kesepuhan tersebut mengutus 10 orang untuk mencari lahan itu , lamanya perjalanan tiga hari tiga malam untuk mencari lahan tersebut, sesudah tiga hari tiga malam itu orang yang di perintahkan belum ketemu air (sungai).

Sudah tiga hari baru ketemu sungai yang di cari selama ini, sesudah di temukan sungai itu orang-orang yang di perintahkan itu langsung memberitahukan kepada para sesepuh bahwa ada sungai yang sama sekali tidak kedengaran suaranya yang kemudian di beri nama CITOREK, Sesudah berhasil orang -orang suruhan tadi di suruh pulang oleh para sesepuh, jarak perjalanan cepat 2(dua) hari l(satu) malam tiba di guradog, dan para sesepuh mengadakan musyawarah lagi tetapi musyawarah tersebut di tunda selama 4 (empat) tahun ,4 (empat) tahun kemudian masyarakat kesepuhan guradog, mengumumkan hasil musyawarah tersebut, dan hasilnya masyarakat akan menetap di CITOREK,

SEJARAH merupakan langkah awal dimana kita menuju kesuksesan, maka dengan ini kami sengaja menyusun sebuah buku yang berisi tentang ASAL-USUL CITOREK tujuan nya adalah agar kita semua dapat memahami awal mulanya ada citorek dan bagaimana proses terjadi nya citorek ini, karna dulu pernah menjabat yang kita tahu bahwa citorek merupakan perkampungan yang sangat melekat dengan adat istiadat nya. Di dalam buku ini juga di bahas mengenai keturunan-keturunan kesepuahan citorek yang pernah menjadi (pemimpin di desa kesepuhan citorek atau yang di sebut (kokolot). Kokolot atau pemimpin adat adalah seorang tokoh masyarakat yang memiliki keturunan dari keluarga nya untuk menjadi seorang pemimpin adat dan biasanya orang citorek menyebut nya dengan sebutan bapa kolot. Dengan demikian bahwa dengan ada nya sebuah sejarah kita bisa mengetahui akan kejadian tempo dulu untuk melangkah lebih maju dalam menatap masa depan dalam kehidupan, karna dalam sebuah riwayat mengatakan bahwa apa bila ingin menjadi seorang pemimpin yang baik dan benar haruslah di pahami dahulu akan sejarah wilayah tersebut. Pada tahun 1842 , masyarakat citorek atau biasa di sebut dengan masyarakat kesepuhan citorek,yang berasal dari guradog kecamatan curug bitung,

Pada zaman dahulu para kesepuhan mengadakan musyawarah yang bertempat di guradog yang di pimpin oleh kesepuhan yang bernama, aki buyut sainta , dan hasil musyawarah itu menentukan atau mencari lahan yang luas untuk mendirikan pemukiman dan ladang, kesepuhan tersebut mengutus 10 orang untuk mencari lahan itu , lamanya perjalanan tiga hari tiga malam untuk mencari lahan tersebut, sesudah tiga hari tiga malam itu orang yang di perintahkan belum ketemu air (sungai). Sudah tiga hari baru ketemu sungai yang di cari selama ini, sesudah di tumukan sungai itu orang-orang yang di perintahkan itu langsung memberitahukan kepada para sesepuh bahwa ada sungai yang sama sekali tidak kedengaran suaranya yang kemudian di beri nama CITOREK, Sesudah berhasil orang -orang suruhan tadi di suruh pulang oleh para sesepuh, jarak perjalanan cepat 2(dua) hari l(satu) malam tiba di guradog, dan para sesepuh mengadakan musyawarah lagi tetapi musyawarah tersebut di tunda selama 4 (empat) tahun ,4 (empat) tahun kemudian masyarakat kesepuhan guradog, mengumumkan hasil musyawarah tersebut, dan hasilnya masyarakat akan menetap di CITOREK,

Pada tahun 1846 tujuan mereka meninggalkan guradog adalah mencari lahan yang luas di sebelah selatan yang sering di sapa “gunung keneng ” untuk mengembangkan pertanian sesuai dengan wangsit dari leluhur sejak dari guradog,Mereka sudah tahu bahwa akan menuju suatu wilayah yang akan menjadi wewengkon (wilayah adat) wilayah adat tersebut di tandai mulai dari parakan saat di sebelah timur , pasir sage di sebelah barat, dan gunung keneng di sebelah utara .Pada mulanya datang ke citorek hanyalah bertani bikin huma, dari tahun 1846 sampai tahun 1930, itu bertani huma, dari tahun 1930 ketika jaro Negara di pegang oleh RATAM, sesuai wangsit leluhur pada tahun 1964 masyarakat kesepuhan citorek sempat pindah ke ciawitali dan pada awal tahun 1966 masyarakat citorek kembali lagi ke citorek untuk menetap di citorek, sampai sekarang, Masyarakat meyakini bahwa mereka adalah “keturunan pangawinan” (masyarakat kesepuhan di wilayah kidul kecamatan bayah dan cibeber, cikotok) Dan sejarah kepemimpinan masyarakat kesepuhan citorek meyakini bahwa kesepuhan citorek merupakan masyarakat yang bernegara, bermasyarakat dan ber adat , sebagai wujud dari keyakinan tersebut mereka memiliki kepemimpinan yang mewarisi ketiga perinsip tersebut, yaitu kesepuhan sebutan untuk kepemimpin kesepuhan yaitu (oyok), jaro kolot (jaro adat) penghulu (pimpinan agama) jaro Negara sekarang di sebut keapala desa, dan baris kolot. Dalam perkembangan di citorek di angkatlah jadi jaro Negara yaitu jaro RATAM, yang kemudian jaro MARJA’I menjadi jaro kolot. Kesepuhan ini di wariskan secara turun- temurun, dan tidak bisa di gantiakn begitu saja selama orang yang di wariskan tersebut masih ada, dan hanya kematian yang bisa menggantikan nya,

Pada masa jabatan jaro nurkib atau yang biasa di sebut sekarang kepala desa , desa citorek di pekarkan menjadi 2(dua) desa yaitu desa citorek dan ciparay, ciparay menccakup wilayah baru dimana bermukim kesepuhan dan baris kolot, pada saat itu desa citorek di duduki 15.465 orang jiwa sebagian besar menetap di wewengkon citorek, MASYARAKAT KESEPUHAN CITOREK

Yang di maksud kesepuhan citorek adalah tradisi dari para pengurus adat, Incu putu (anak cucu keturunannya), anggota masyarakat lain yang bersedia untuk ikut “nyusup nubuy” dan ” ciri sabumina cara sadesana” yang artinya setuju untuk mengikuti seluruh tradisi yang ada di wewengkon citorek, misalnya: ikut melaksanakn balik tahun, atau yang biasa di sebut oleh masyarakat wewengkon citorek adalah seren tahun , dimana acara tersebut di laksanakan sesudah panen padi, atau bisa di sebut hajatan panen padi, yang biasa di lakukan oleh masyarakat wewengkon citorek 1 (satu) tahun sekali , karena msayarakat di wewengkon citorek ini hampir semua masyarakat bertani, pertanian masyarakat yang di dominasi oleh penanaman padi lokal dengan masa tanaman satu tahun sekali dan seluruh kegiatan di awali hanya pada hari senin adapun penanamannya tidak dapat atau tidak di perbolehkan memakai alat – alat modern, pertanian itu di ikuti oleh seluruh- seluruh masyarakat wewengkon citorek.

Desa Citorek terletak di Kabupaten Lebak, Kec. Cibeber, dan mempunyai 4 wilayah adat/kasepuhan yaitu :

1. Citorek Timur yang dipimpin oleh Olot Didi

2. Citorek Barat dipimpin oleh Olot Umar

3. Citorek Tengah dipimpin oleh Olot Undikar

4. Citorek Selatan dipimpin oleh Olot Kusdi

Pada waktu di Lebak Singka ada Raja bernama Raja Suna, beliau membawa 2 orang keturunan Pangawinan (Pacalikan), kedua orang tersebut yaitu sepasang laki-laki dan perempuan, yang laki-laki dibawa ke Cikaret (Cisungsang, Cicarucub, dll) disebut Dulur Lalaki dan diberi bekal kemenyan, sedangkan yang perempuan dibawa ke Citorek disebut Dulur Awewe diberi bekal Panglay (kunyit besar), Masyarakat Citorek disebut juga dengan pangawinan kehidupannya sudah setengah modern karena jalan sudah ada, listrik dan Televisi sudah ada dan bangunan rumahnya beberapa sudah modern tetapi sebagian besar rumahnya masih asli (rumah panggung). Bahasa yang dimenggunakan bahasa Sunda, sebagian besar masyarakatnya menganut agama Islam dan setiap melakukan suatu kegiatan biasanya memakai kalender hijriah/islam, untuk itu setiap melakukan/menanam sesuatu harus membaca dua kalimat syahadat. Dalam kehidupan sosialnya menganut 3 (tiga) sistim yang di anut yaitu : Negara (jaro/lurah), Agama (panghulu), dan Karuhun (kasepuhan/kaolotan). Masyarakat Citorek sebagian besar penghidupannya dari menanam padi (nyawah), oleh karena itu masyarakat desa citorek jika ingin mempunyai istri harus bisa menanam padi. Ada hari-hari tertentu masyarakat Citorek tidak boleh melakukan kegiatan terutama di sawah yaitu hari Jumat dan Minggu, maksudnya kalau hari Jumat mereka harus melaksanakan shalat jumat, dan hari minggu mereka menghormati hari libur nasional/menghormati pemerintah. Dahulu masyarakat Citorek/pangawinan tidak boleh/dilarang memakai pakaian warna hitam, kain yang dibelah dua (semacam kain bugis), kopiah/laken, sepatu, rok/anderok , kebiasaan tersebut sekarang sudah tidak berlaku lagi, tapi kalau perempuannya sebagian besar masih memakai kain (tidak pakai rok). Setiap mengadakan perayaan selalu diiringi Goong Gede (Goong besar), goong gede ini dimainkan setahun 4 kali yaitu pada saat Ngaseuk, Mipit, Gegenek dan Seren Tahun. Goong gede terdiri dari saron, kecrek, kenong, dan kending. dimainkan oleh kurang lebih lima orang. Masyarakat Citorek sekarang sudah banyak meninggalkan tradisinya misal Neres dan Sedekah Bumi sudah tidak pernah dilakukan lagi karena masyarakatnya sudah modern dan tidak percaya kepada keyakinan leluhurnya.

1. Kasepuhan Citorek timur pertama di pimpin oleh Aki Mardai kakek dari Oyot/Oyok Didi, setelah beliau meninggal dunia digantikan oleh anaknya bernama Oyot Ijrai, Oyot Ijrai meninggal dunia digantikan oleh anak yaitu Oyot Didi sampai sekarang.

2. Kasepuhan Citorek Barat pertama di pimpin oleh seorang santri bernama Kiai Sarkam setelah meninggal dunia digantikan oleh anaknya bernama Oyot Sartim, setelah meninggal dunia digantikan oleh adiknya bernama oyot Usup dan beliau meninggal dunia digantikan oleh cucunya bernama Oyot Umar sampai sekarang.

3. Citorek Tengah pertama di pimpin oleh Aki Saki, setelah meninggal dunia diganti oleh anaknya Aki Sali dan satu bulan yang lalu beliau meninggal dunia digantikan oleh anaknya yang masih sekolah di kelas 3 SMP bernama Aki undikar.

4. Citorek Selatan yang sekarang dipimpin oleh Aki Kusdi

1. Neres

Neres adalah ritual yang dilakukan untuk menghilangkan penyakit masyarakat atau dilakukan jika daerah tersebut mengalami kejadian-kejadian yang merugikan, seperti menyebarnya wabah penyakit, paceklik, setiap menanam padi atau pepohonan yang hasilnya tidak bagus. Ritual ini dilakukan tidak setiap tahun tetapi sesuai dengan kejadian yang dialami.

a. Neres ada 2 yaitu :

– Neres Cai dilakukan di pinggir kali/walungan/parakan

– Neres Darat dilakukan didepan rumah masing-masing.

b. Peralatan Neres

– Rumput /Palias

– Basin/Baskom/Tobas (di isi oleh air yang muter /cai mulang dan ikan paray yang hidup).

– Sesajen (isinya Nasi kuning, dodol dll)

c. Cara-cara Neres

Neres bisa dilakukan dengan cara neres cai atau neres darat, pertama masyarakat berkumpul di pinggir kali atau di depan rumah sambil berjejer lalu kasepuhan/kaolotan memercikan air yang ada di basin oleh rumput yang telah dicelupkan ke basin tersebut beberapa kali setelah selesai air tersebut dibuang ke kali Cimadur. Sekarang Neres tidak pernah dilakukan lagi terakhir Neres dilakukan 15 tahun yang lalu, karena masyarakat sudah tidak percaya lagi dengan ritual tersebut.

2. Sedekah Bumi

Sedekah bumi adalah selamatan/ruatan yang dilakukan oleh masyarakat dengan cara menyembelih kerbau. Tujuannya agar tanah leluhurnya selalu mendapat keberkahan, selalu subur, aman dan tentram. Sedekah Bumi dilakukan 3 tahun sekali. Caranya : kerbau disembelih , kepalanya di kubur dan dagingnya dibagikan ke masyarakat, setelah sebelumnya diadakan syukuran/selametan. Sekarang tidak pernah dilakukan lagi, terlakhir dilakukan pada waktu Jaro Nurkib kurang lebih 50 tahun yang lalu.

3. Seren taun

Seren taun adalah ritual yang dilakukan oleh masyarakat Citorek tiap satu tahun sekali, biasanya di bulan Syawal. Tujuannya untuk menghormati dan sebagai tanda terima kasih kepada Yang Maha Kuasa dan Leluhur yang telah memberikan keberkahan dan kesuburan. Masyarakat Citorek setiap mengadakan perayaan Sunatan/hajatan selalu dilakukan saat seren taun, perayaan sunatan dilakukan secara besar-besaran beda dengan mengadakan perayaan pernikahan dilakukan hanya dengan penghulu tanpa perayaan. Sampai sekarang Perayaan Seren taun masih dilakukan. Sebelum dilakukan perayaan Seren taun, masyarakat melakukan hal-hal sebagai berikut :

1. Ngaseuk

Ngaseuk adalah waktu menanam padi, dan Acara Ngaseuk biasanya dirayakan dengan menabuh Goong besar (goong gede). Pada waktu ngaseuk dilaksanakan Tanur/tandur (binih kana binih) yang biasanya dilakukan waktu Silih Mulud . Pada saat padi sudah bagus (pare geus gumuna) atau supaya padi jadi bagus masyarakat Citorek biasanya tidak memakai pupuk yang memakai bahan kimia dari luar atau tidak pernah membeli pupuk, mereka biasanya membuat pupuk sendiri yaitu dari padi yang dibikin tepung atau bikin bubur dicampur dengan kelapa muda dan gula merah.

2. Mipit

Mipit adalah perayaan di waktu panen (ngambil padi). Biasanya dirayakan dengan menabuh Goong besar (goong gede). Sebelum sawah tangtu atau sawah yang punya kokolot/kasepuhan dipanen, maka masyarakat tidak akan memanen sawahnya walaupun sawah masyarakat tersebut sampe busuk sebelum sawah tangtu di ambil harus nunggu (kajeun teuing nu kami buruk lamun sawah tangtu can kolot atau can asak ulah di ala heula). Mipit biasanya dilakukan bulan Rewah/Ruwah. Setelah dipanen disimpan di lantai atau di jemur setelah kering diangkut/direngkong, dimasukan dan didudukan ke leuit (tempat padi).

3. Gegenek / Bendrong lisung

Gegenek adalah saat numbuk padi dan dilakukan oleh ibu-ibu sebanyak kurang lebih sepuluh orang, sambil nyanyi-nyanyi/lalaguan dan diiringi oleh goong gede. Sebelum padi ditumbuk harus nganyaran/dianyaran maksudnya jika padi sudah dipanen maka harus di jemur lalu di tumbuk, tetapi sebelumnya harus mengadakan syukuran/salametan.

5. Seren taun di Desa Adat Citorek :

1. Nganjang/babawaan

Nganjang yaitu satu hari sebelum perayaan seren tahun (sebelum hari H) harus membawa/masrahkeun sisa hasil bumi kepada kasepuhan yang disebut ngajiwa dan biasanya di tempat Olot Didi. Hasil buminya biasanya apa saja yang mereka punya misal : padi, pisang, ternak dll. Dengan diiringi Goong Gedek sambil iring-iringan.

2. Hiburan/raramean

Hiburan dilakukan pada malam hari sebelum perayaan seren taun, biasanya hiburan topeng, koromong, Angklung, dankdutan dll.

3. Memotong Kerbau

Motong kerbau dilakukan pagi hari dilakukan oleh para sesepuh/kokolot setelah itu daging tersebut yang disebut daging jiwaan dibagikan kepada seluruh masyarakat Citorek/ kepada tiap keluarga (susuhunan), semua masyarakat harus dapat bagian walaupun sedikit. Daging Kerbau tersebut dibeli dari iuran masyarakat.

5. Rasul serah tahun / syukuran / selametan

Syukuran dilakukan di Citorek Timur di tempat Oyok Didi, biasanya para kasepuhan/kokolot, jaro, panghulu berkumpul sambil makan-makan dan musyawarah.

6. Hajatan/Sunatan

Kebiasaan masyarakat Citorek jika akan mengadakan perayaan sunatan selalu dilakukan sekalian pada saat seren taun, dilakukan setelah selametan/syukuran.

7. Kariyaan/mulangkeun ka kolot

Penutup acara sambil menabuh Goong gede, mereka menyebut acara asup leuweung menta kahirupan maksudnya mulai ke kehidupan rutinitas, masyarakat mulai kerja seperti biasa ada yang pergi kerja ke kota atau ke sawah.

CITOREK adalah sebuah perkampungan yang sangat strategis, yang letak nya berada di kaki gunung halimun ujung kulon.citorrek merupkan desa yang di dalam nya terdapat adat istiadat yang sangat melekat dalam jiwa penduduk citorek.selain dari pada itu warga citorek juga memilki keunikan tersendiri yaitu warga citorek hampir 100% semua nya tani dan mengharapkan hasil tanah yang biasanya menanam padi dan di panenen pada satu tahun sekali. Citorek memiliki adat yang berbeda dengan desa lain seperti membawa arak-arakan padi dari sawah kokolot kampung yang di sebut dengan istilah ( ngarengkong), sebenranya banyak berbagai kunikan yang di miliki oleh kesepuhan desa citorek, maka ini tugas kita bersama bagaimana unntuk melestarikan nya.

Rabu, 25 juni 2012, http://www.bantenculturetourism.com

Kusanaka adimardja “pengolahan lingkungan secara tradisoinal di kawasan gunung halimun jawa barat. Penerbit taristi. 1992

 

WAWANCARA

(43 TAHUN) Maman. Tokoh masyarakat citorek

(30 TAHU ) ROHENDI. Kordinator kesepuahan

 

 

 

 

 

BINUANGEUN AS PROVINCIAL FISHERIES CENTER AND THE SEVEN ELEMENTS OF CULTURE BANTEN

by

by Laura

STKIP setia Budhi Rangkasbitung in Lebak districts, conduct research in the south, more precisely in the district wanasalam, estuary village, the village that became the object of research Binuangeun student seven elements that become the object of research, ranging from religious elements, science, economy, technology , linguistic, and art that are in the area.

estuary village of origin

estuary is a river meeting the sea that forms the mainland to become a village called the village Binuangeun estuary village. of history that specifically Binuangeun which means hiding place. Binuangeun village, estuary village, wanasalam subdistrict, Lebak district in the southern region of the province of Banten.

estuary is an area of 1210 Ha villagers to borders:

north is bordered by the village cipedang

the south by the ocean Indonesia

west bordering Pandeglang

the east by the village wanasalam

estuary village population 10,177 with a total of 5229 male and 4948 female person. because this region very close to the coast which has beautiful scenery with white sand makes the beautiful panoramic views Binuangeun

elements that are Binuangeun area, the estuary village, district wanasalam, Lebak district, will be discussed in detail

1. religious elements

Binuangeun community that is mostly Moslem amounted to 10,171 persons, besides the religion of Islam there is also a catholic religion as much as 6 people who came from immigrants. much different from other Islamic religious person, they also worship obligatory and sunnah prayer and fasting in the month of Ramadan. but its implementation is slightly different from the clock that is if they want the evening prayers because they are always there amid the sea and do not know what time, then they reference is the sunset.

2. language elements

Binuangeun native language is Sundanese language offerings, the majority of citizens Binuangeun earns a meager living as a fisherman in accordance with existing conditions in the area Binuangeun. community that is in Binuangeun mostly migrants from other regions such as Aceh, Bugis, Javanese, and desert. in the presence of migrants from other regions not so affected but Binuangeun native language of immigrants who are affected by native language Binuangeun. although there are some people who use the native language of the region. language in Binuangeun berfungsisebagai means of communication between people, when they were in the community they use the native language Binuangeun but when they are in their environment using native language bleak: Javanese, Buginese, Acehnese and desert. one of the original vocabulary

Sundanese language offerings in Binuangeun village, the village of estuaries that are used

everyday such as: Imah (home), ulin (play),

he’es (sleep), Rug-Rug (collapse), mumuluk (breakfast), ceurik (crying), ngojay (swimming), gacong (profit sharing), nuhun (thanks) nyangu (cooked rice), kuriyak (mutual assistance).

3. art elements

Binuangeun areas not seen a significant art, because most of these are a fisherman at sea. but there are a bunch Binuangeun local mothers who are pounding rice with a pestle to produce a rhythmically vibrant music to accompany a song that is sung by the mothers, played by rice pestle alternately stomping usually this game is displayed to the day of harvest, but This game is now shown also to welcome the event of high officials or foreign tourist area

4. elements of the economy, technology and science

because the area is located on the coast Binuangeun majority of his livelihood as fishermen, in view of the state of society Binuangeun, most of its people have an affluent economy. dipergunakannya technology that was already quite advanced, although still there are people who still use traditional tools. other than that the knowledge possessed by people Binuangeun not inferior to other areas, many residents who have knowledge Binuangeun ample, can be viewed from the level of education that they are following.

BINUANGEUN

Beach Wanasalam Binuangeun in Lebak District, 4 km from the bus terminal Bayah, 17 km from Terminal Malingping. Can be easily reached by public transport or private.

Located on Highway Binuengeun. Here one can enjoy the activities of the fishermen landing their catch to be auctioned.

Along the coast are many comfortable places to relax with family.

There is a villa resort facilities that can be rented.

Binuangeun estuary, fishing village located on the estuary of the river mouth that is big enough it look more busy than any other beach, situated about 4 km west of the coast bagedur, there are so many boats fishing boats seen, there is also a traditional fish auction place, you can get lobster with low prices, shrimp, fish krapu, snapper fish, the price is incredibly cheap. Village Binuangeun Estuary has one of the most comfortable hotel in the area Malimping, the hotel is situated on the banks of the river that is wide enough to each cottagenya can lean fishing boat trolling for a variety of fish on the south coast. Binuangeun Estuary is a paradise for the professional angler, sometimes they can go fishing kekawasan Ujung Kulon National Park.

Besides being a beautiful tourist beach, Beach Binuangeun better known as the biggest fish auction place in Lebak south coast, with the distance is not far from the city about 20 km Malimping make this place easy to reach, in this place can be seen fishing activities that were catching fish and shrimp, especially in the dry season, this place is also always be good fishing tour event locally and nationally Scala considering the abundant marine wealth potential, in this place there is also a beach a tourist attraction called Karang Malang beach, Beach is decorated with beautiful coral reef that juts sea, coconut trees waving palm beach add to the cool atmosphere with stunning beauty of the island Tinjil from a distance.

customized fat loss program

Komentar Dinonaktifkan pada BINUANGEUN AS PROVINCIAL FISHERIES CENTER AND THE SEVEN ELEMENTS OF CULTURE BANTEN