PANCASILA JATIDIRI BANGSA INDONESIA

by

Iman sampoerna

PENDAHULUAN

Bagi bangsa Indonesia yang sadar akan kondisi nyata yang dimilikinya itu, tentulah semakin meyakini dasar negara yang telah disepakati bangsa Indonesia yakni Pancasila dan berusaha mengimplementasikannya. Namun masalah besar yang masih harus dihadapi ialah bagaimana menjabarkannya sehingga dapat dijadikan pedoman dalam kehidupan nyata masyarakat di segenap aspek kehidupan masyarakat berbangsa dan bernegara. Hal tersebut amat diperlukan pada era reformasi saat ini, yang arahnya Pancasila nampak telah benar-benar dilupakan oleh berbagai kelompok dalam masyarakat, walaupun secara formal melalui ketetapan-ketetapan MPR-RI tetap diakui sebagai dasar negara yang harus dilaksanakan secara konsisten dalam kehidupan bernegara.

Dalam upaya untuk membahas dan memahami Pancasila sebagai jatidiri bangsa Indonesia, terdapat beberapa permasalahan mendasar yang memerlukan klarifikasi lebih dahulu, agar memudahkan dalam usaha implementasinya dalam kehidupan nyata. Permasalahan tersebut adalah sebagai berik:

  1. Perlu difahami dan dibahas makna jatidiri, apakah jatidiri itu, apakah suatu bangsa memerlukan jatidiri untuk melestarikan eksistensinya. Apa kedudukan jatidiri bagi suatu bangsa. Bagaimana suatu bangsa yang tidak memiliki suatu jatidiri.
  2. Menyangkut persoalan bangsa, apakah pada era globalisasi ini masih pada tempatnya untuk membicarakan peran dan kedudukan bangsa dalam percaturan global yang berindikasi tak bermaknanya batas-batas antar negara. Ada pihak-pihak yang mengatakan bahwa dengan globalisasi ini berakhirlah peran dan kedudukan negara bangsa. Apakah bangsa Indonesia perlu tetap eksis dalam menghadapi era globalisasi ini.
  3. Menyangkut Pancasila itu sendiri. Benarkah Pancasila sebagai jatidiri bangsa Indonesia. Apakah Pancasila ini bukan hanya sekedar suatu rekayasa politik yang tidak memenuhi syarat sebagai suatu jatidiri. Prinsip dasar dan nilai dasar mana saja yang terdapat dalam Pancasila.
  4. Bagaimana implementasi Pancasila ini dalam kehidupan yang nyata. Kalau Pancasila memang merupakan jatidiri bangsa Indonesia, seharusnya telah ada dalam kehidupan yang nyata dalam masyarakat. Mengapa masih memerlukan sosialisasi.

APA ITU JATIDIRI?

Jatidiri terjemahan dari identity adalah suatu ciri yang menentukan suatu individu atau entitas, sedemikian rupa sehingga diakui sebagai suatu pribadi yang membedakan dengan individu atau entitas yang lain. Ciri yang menggambarkan suatu jatidiri bersifat unik, khas, yang mencerminkan pribadi individu atau entitas dimaksud. Jatidiri akan mempribadi dalam diri individu atau entitas yang akan selalu nampak dengan konsisten dalam sikap, tingkah laku dan perbuatan individu dalam menghadapi setiap permasalahan.

Dalam mengadakan reaksi terhadap suatu stimulus, individu tidak secara otomatis mengadakan respons terhadap stimulus tersebut, tetapi organisme atau individu yang bersangkutan memberikan warna bagaimana respons yang akan diambilnya. Setiap organisme memiliki corak yang berbeda dalam mengadakan respons terhadap stimulus yang sama. Hal ini disebabkan oleh uniknya jatidiri yang dimiliki setiap organisme, individu atau entitas, meskipun dapat saja respons ini disadari atau tidak.

Meskipun diakui dalam perjalanan hidupnya suatu individu dalam menghadapi permasalahan mengalami perkembangan dan perubahan dalam mengadakan reaksi terhadap suatu permasalahan yang berulang, tetapi pada hakikatnya selalu bersendi pada ciri dasar yang telah mempribadi, yang menjadi jatidiri individu dimaksud.

Adanya jatidiri pada  suatu individu, khususnya manusia, memang merupakan karunia Tuhan. Suatu bukti menunjukkan bahwa setiap manusia memiliki ciri khusus secara fisik dalam bentuk sidik jari, dan DNA . Demikian halnya dalam segi mental,  manusia juga memiliki ciri khusus yang membedakan manusia yang satu dengan manusia yang lain.

Di samping itu manusia juga dapat dibedakan dengan makhluk yang lain, yang manggambarkan jatidiri manusia. Berbagai predikat dilimpahkan pada manusia yang menggambarkan jatidiri manusia dalam hubungannya dengan makhluk yang lain. Predikat tersebut di antaranya : political animal, rational being, homo sapiens, homo economicus, homo socius, khalifah Tuhan di bumi, dan masih banyak lagi.

Dengan memiliki jatidiri dan menerapkannya secara konsisten, seseorang tidak akan mudah terombang-ambing oleh berbagai gejolak yang menerpanya. Ia memiliki keyakinan diri, harga diri, dan kepercayaan diri, sehingga tidak mudah tergiur oleh rayuan yang menyesatkan. Dari uraian tersebut jelas bahwa jatidiri sangat diperlukan bagi seseorang untuk mencapai sukses dalam membawakan dirinya.

Timbul suatu pertanyaan, apakah suatu bangsa, khususnya negara-bangsa memerlukan jatidiri. Untuk menjawab pertanyaan ini nampaknya perlu disepakati lebih dahulu apa yang dimaksud dengan negara-bangsa.

APA ITU BANGSA?

Konsep bangsa diduga baru lahir sekitar abad XVIII, mulai berkembang di Eropa, dan Amerika Utara, melebarkan sayapnya ke Amerika Latin dan Asia, kemudian ke Afrika. Sebelumnya telah terdapat masyarakat yang mungkin sangat maju dan sangat berkuasa, tetapi tidak mencerminkan adanya suatu bangsa. Pada waktu itu yang dikenal adalah faham keturunan yang kemudian menciptakan dinasti dan bangsa, yang berarti keluarga. Baru setelah terjadi revolusi Prancis pada akhir abad XVIII dan permulaan abad XIX mulailah orang memikirkan masalah bangsa.

Otto Bauer seorang legislator dan seorang teoretikus yang hidup pada permulaan abad XX  (1881-1934), dalam bukunya Die Nationalitatenfrage und die Sozialdemokratie (1907) menyebutkan, bangsa adalah: “Eine Nation ist eine aus Schikalgemeinschaft erwachsene Charactergemeinschaft.” Otto Bauer lebih menitik beratkan pengertian bangsa dari sudut karakter atau perangai yang dimiliki sekelompok manusia yang dijadikan jatidiri suatu bangsa. Karakter ini akan tercermin pada sikap dan perilaku warga-bangsa. Karakter ini menjadi ciri khas suatu bangsa yang membedakan dengan bangsa yang lain, yang terbentuk berdasar pengalaman sejarah budaya bangsa yang tumbuh dan berkembang bersama dengan tumbuh kembangnya bangsa.

Sebagai contoh dapat ditemukan di sini tradisi dan kultur negara-bangsa Amerika Serikat yang  dikemukakan oleh Jean J. Kirkpatrick, dalam bukunya Rationalism and Reason in Politics, yang dikutip oleh M. Syafaat Habib, menggambarkan jatidiri bangsa Amerika sebagai berikut:

  1. Selalu mengedepankan konsensus sebagai dasar legitimasi otoritas pemerintah.
  2. Berbuat realistik sebagai tolok ukur realisme yang mendorong adanya harapan besar apa yang dapat diselesaikan oleh politik.
  3. Mempergunakan belief reasoning dalam menata efektivitas rekayasa (engineering) kegiatan politik.
  4. Langkah dan keputusan yang deterministik dalam mencapai tujuan multi demensi dengan selalu melalui konstitusi.

Contoh lain tentang terbentuknya karakter bangsa sebagai akibat pengalaman sejarah,  adalah negara-negara Eropa kontinental bersifat rasionalistik, Inggris empirik,  Amerika scientific, India non-violencedengan satyagrahanya, dan Indonesia integralistik  dengan Pancasilanya.

Lain halnya dengan Ernest Renan seorang filsuf, sejarawan dan pemuka agama yang hidup antara tahun 1823 – 1892, yang menyatakan bahwa bangsa adalah sekelompok manusia yang memiliki kehendak untuk bersatu sehingga merasa dirinya satu, le desir d`etre ensemble. Dengan demikian faktor utama yang menimbulkan suatu bangsa adalah kehendak dari warga untuk membentuk bangsa.

Bangsa ini kemudian mengikatkan diri menjadi negara yang bersendi pada suatu idee.  Hegel menyebutnya bahwa negara adalah penjelmaan suatu idee, atau “een staat is de tot werkelijkheid geworden idee.”

Teori lain tentang timbulnya bangsa adalah didasarkan pada lokasi. Tuhan menciptakan dunia ini dalam bentuk wilayah-wilayah atau lokasi-lokasi yang membentuk suatu kesatuan yang merupakan entitas politik. Bila kita lihat peta dunia maka akan nampak dengan jelas adanya kesatuan-kesatuan wilayah seperti Inggris, Yunani, India, Korea, Jepang, Mesir, Filipina, Indonesia. Wilayah-wilayah tersebut dibatasi oleh samudera yang luas atau oleh gunung yang tinggi atau padang pasir yang luas sehingga memisahkan penduduk yang bertempat tinggal di wilayah tersebut dari wilayah yang lain, sehingga terbentuklah suatu kesatuan yang akhirnya terbentuklah suatu bangsa. Teori inilah yang biasa disebut sebagai teori geopolitik.

Istilah geopolitics yang merupakan singkatan dari geographical politicsdikenal sesudah terjadi Glorious Revolution Inggris, Revolusi Amerika dan Revolusi Perancis, yang merupakan titik awal kelahiran negara bangsa. Istilah ini diperkenalkan secara umum pada tahun 1900 oleh pemikir politik Swedia Rudolf Kjellen, yang dikutip oleh M. Syafaat Habib, yang menyebut tiga demensi geopolitk yakni:

  • Environmental, yaitu fisik geografis negara bangsa, dengan kekayaan alamnya dan segala limitasinya untuk tujuan pembangunan dan masa depan negara bangsa.
  • Spatial, yakni distribusi lokasi dengan faktor-faktor strategis bagi pertahanan negara bangsa, dan
  • Intellectual, yakni segala pemikiran dan konsep yang demokratis ideal bagi masa depan rakyatnya.

Menurut Ensiklopedi Nasional Indonesia, bahwa bangsa menurut hukum adalah rakyat atau orang-orang yang ada di dalam suatu masyarakat hukum yang terorganisir. Kelompok orang-orang yang membentuk suatu bangsa ini pada umumnya menempati  bagian atau wilayah tertentu, berbicara dalam bahasa yang sama, memiliki sejarah, kebiasaan, dan kebudayaan yang sama, serta terorganisir dalam suatu pemerintahan yang berdaulat. Pengertian bangsa semacam ini kemudian disebutnegara bangsa atau nation state yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

  1. Memiliki cita-cita bersama yang mengikat warganya menjadi satu kesatuan.
  2. Memiliki sejarah hidup bersama, sehingga tercipta rasa senasib sepenang gungan.
  3. Memiliki adat budaya, kebiasaan yang sama sebagai akibat pengalaman hidup bersama.
  4. Memiliki karakter atau perangai yang sama yang mempribadi dan menjadi jatidirinya.
  5. Menempati suatu wilayah tertentu yang merupakan kesatuan wilayah.
  6. Terorganisir dalam suatu pemerintahan yang berdaulat, sehingga warga bangsa ini terikat dalam suatu masyarakat hukum.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan arti dari bangsa adalah::

  1. Bahwa rakyat yang menempati ribuan kepulauan yang terbentang antara samudera India dan samudera Pasifik, dan di antara dua benua Asia dan Australia, memenuhi syarat bagi terbentuknya suatu negara-bangsa, yang bernama Indonesia. Hal ini juga telah dikukuhkan sebagai anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa.

  2. Bahwa suatu negara-bangsa memiliki ciri khusus yang membedakan dengan negara-bangsa yang lain berupa karakter atau perangai yang dimilikinya, idee yang melandasinya, sehingga merupakan pribadi dari negara-bangsa tersebut. Secara fisik ciri khusus ini dilambangkan oleh bendera negara, lagu kebangsaan dan atribut lain yang mewakili negara.
  3. Bagi bangsa Indonesia ciri khusus ini di samping bendera Sang Saka Merah Putih, lagu kebangsaan Indonesia Raya, lambang negara Bhinneka Tunggal Ika, terdapat prinsip dasar dan nilai dasar yang dapat ditemukan pada Pembukaan UUD 1945, yang merupakan pribadi bangsa Indonesia.

JATIDIRI BANGSA INDONESIA

The founding fathers pada waktu merancang berdirinya negara Republik Indonesia membahas dasar negara yang akan didirikan. Ir. Soekarno mengusulkan agar dasar negara yang akan didirikan itu adalah Pancasila, yang merupakan prinsip dasar dan nilai dasar yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat Indonesia, yang mempribadi dalam masyarakat dan merupakan suatu living reality. Pancasila ini sekaligus merupakan jatidiri bangsa Indonesia.

Sejak berdirinya Negara Republik Indonesia, Pancasila selalu ditetapkan sebagai dasar negaranya, hal ini nampak dalam setiap Pembukaan atau Mukadimah setiap Undang-Undang Dasar yang berlaku di Indonesia, sehingga Pancasila sebagai jatidiri bangsa memiliki legitimasi atau keabsahan, karena merupakan kesepakatan bangsa.

Dasar Negara yang menjadi landasan statis bagi Negara-bangsa Indonesia berkembang menjadi panduan dan dasar dalam mencapai cita-cita bangsa dalam menjangkau masa depan yang lebih baik. Dasar Negara yang bersifat statis ini akhirnya menjadi ideologi nasional bangsa Indonesia, suatu landasan dinamis dalam membangun bangsanya. Akhirnya Pancasila sebagai dasar Negara dan sebagai ideologi nasional ini menyatu menjadi pegangan kejiwaan rakyat dalam menghadapi segala permasalahan kehidupan, maka berwujudlah pandangan hidup bangsa. Pancasila sebagai dasar Negara, ideologi nasional, dan pandangan hidup bangsa ini membentuk jatidiri bangsa Indonesia.

Dari uraian tersebut maka dapat ditarik kesimpulan bahwa jatidiri bangsa, adalah pandangan hidup yang berkembang dalam masyarakat yang menjadi kesepakatan bersama, berisi konsep, prinsip dan nilai dasar, yang diangkat menjadi dasar negara sebagai landasan statis, dan ideologi nasional, dan sebagai landasan dinamis bagi bangsa yang bersangkutan dalam menghadapi segala permasalahan menuju cita-citanya. Jatidiri bangsa Indonesia tiada lain adalah Pancasila yang bersifat khusus, otentik dan orisinal yang membedakan bangsa Indonesia dengan bangsa yang lain.

Namun dalam memasuki abad XXI perlu dipertanyakan, masih relevankah membahas Pancasila di era reformasi ini? Bukankah sejak bergulirnya reformasi orang enggan untuk berbicara Pancasila, bahkan TAP MPR No. II/MPR/1978 tentang P4 telah dicabut. Keengganan berbicara mengenai Pancasila mungkin disebabkan oleh berbagai alasan di antaranya:

  1. Dengan runtuhnya Uni Soviet yang berideologi komunis, orang meragukan manfaat ideologi bagi kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Orang beranggapan bahwa ideologi tidak mampu memberikan jaminan kesejahteraan bagi rakyat penganutnya. Ideologi sekadar dipandang sebagai pembenaran terhadap kebijakan yang diperjuangkan oleh para elit politik.

  2. Pancasila selama dua periode, yakni selama “Orde Lama” dan “Orde Baru” belum mampu mengantarkan rakyat Indonesia mencapai kehidupan yang sejahtera bahagia, bahkan setiap periode berakhir dengan kondisi yang memprihatinkan. Orde Lama berakhir dengan tragedi G-30-S/PKI, Orde Baru berakhir dengan kondisi kehidupan yang diwarnai oleh KKN. Timbul pertanyaan mengapa Pancasila yang mengandung prinsip-prinsip dan nilai-nilai yang baik dan benar, dalam prakteknya membawa berbagai bencana?
  3. Terjadinya fobia dalam masyarakat terhadap pengalaman masa lampau yang mengangkat Pancasila menjadi ideologi bangsa untuk kemudian disakralkan dan dijadikan tameng bagi para penguasa. Pancasila dipergunakan oleh penguasa untuk mempertahankan kemapanan dan status quo. Sebagai akibat terjadilah penyimpangan-penyimpangan tindakan pada para penguasa dalam menentukan kebijakannya yang tidak sesuai lagi dengan hakikat Pancasila itu sendiri.

Hal-hal tersebut di atas yang di antaranya menyebabkan orang enggan untuk membicarakan ideologi, termasuk ideologi Pancasila. Sebagian orang beranggapan bahwa yang penting, pada dewasa ini, adalah bagaimana membawa rakyat dan bangsa Indonesia mencapai kesejahteraan lahir dan batin. Yang diperlukan adalah langkah nyata untuk mencapai maksud tersebut. Nampaknya mereka lupa, bahwa sikap semacam itu berdasar pada suatu ideologi tertentu juga.

Namun dewasa ini orang mulai memasalahkan Pancasila lagi, karena dengan berlangsungnya reformasi yang dilanda oleh berbagai faham atau ideologi seperti demokrasi yang bersendi pada faham kebebasan yang individualistik, dan hak asasi manusia universal, justru mengantar rakyat Indonesia kepada disintegrasi bangsa dan dekadensi moral. Orang mulai menilai lagi bahwa kejatuhan dari orde terdahulu bukan karena orde tersebut menetapkan Pancasila sebagai dasar bagi kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, tetapi karena orde tersebut menyalah-gunakan Pancasila sebagai alat untuk mempertahankan hegemoninya, dan Pancasila tidak dilaksanakan secara konsisten dan konsekuen.

Analisis berbagai pihak juga berkesimpulan, apabila penyelenggaraan pemerintahan tidak melaksanakan Pancasila secara konsisten – murni dan konsekuen – maka akan mengalami kegagalan. Hal ini terbukti dari pengalaman sejarah baik selama Orde Lama maupun selama Orde Baru. Tiada mustahil bahwa Orde Reformasi, apabila tidak melaksanakan Pancasila secara konsisten dalam menyelenggarakan kekuasannya akan mengulang lagi kekeliruan orde sebelumnya, yang akan berakhir dengan kejatuhan ordenya. Oleh karena itu orang mulai bertanya-tanya bagaimana Pancasila dapat dengan tepat dan benar melandasi dan bagaimana penerapannya bagi kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

SIMPULAN

Jatidiri bangsa dapat saja luntur oleh guyuran gagasan yang datang dari luar baik dengan sengaja atau tidak. Oleh karena itu perlu adanya usaha terus menerus untuk mempertahankan jatidiri bangsa. Tuhan mengaruniai manusia dengan berbagai potensi untuk dapat dimanfaatkan secara optimal sehingga selalu tercipta keseimbangan dalam menghadapi berbagai gejolak Manusia selalu menghadapi perubahan yang tidak mungkin dihindarinya. Dengan potensi fisik dan psikisnya yang berupa kemampuan rasional, emosional dan spiritual, manusia mampu membawa diri sesuai dengan jatidirinya dengan mengadakan adaptasi terhadap perubahan tersebut.

Untuk merealisasikan pikiran tersebut hanya dengan jalan mengimplementasikan Pancasila secara nyata dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Hanya dengan cara ini, maka Pancasila sebagai jatidiri bangsa akan tetap kokoh dan lestari, yang sekaligus berarti tetap tegaknya integritas bangsa Indonesia yang sejahtera dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Referensi:

zp8497586rq

PEMBELAJARAN PUISI DENGAN MENGGUNAAN METODE DEMONSTRASI (Survey Pada Siswa Kelas VIII SMP Wilayah Bina 1 Kabupaten Lebak Tentang Minat Terhadap Apresiasi Puisi) Oleh Mohamad Soleh

by

ABSTRAKS

Kata Kunci: Meningkatakan Apresiasi puisi menggunakan metode demonstrasi.

 Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh data tentang: keefektifan pembelajaran puisi dengan menggunakan metode  demonstrasi di kelas VIII SMP Wilayah Bina 1 SMP Kabupaten Lebak. Metode demonstrasi merupakan metode yang dinilai paling efektif untuk penyampaian materi apresiasi puisi khususnya berkaitan dengan cara-cara membaca puisi yang baik dan benar. Metode demonstrasi ini adalah metode atau teknik pengajaran puisi yang dilakukan dengan cara guru  memberikan contoh membaca puisi yang baik dan benar, dengan memperlihatkan penjiwaan, ekspresi, keatraktifan dalam membaca puisi, sehingga pusi tersebut seolah-olah hidup saat dibaca. Kesempurnaan sebuah puisi dapat terlihat ketika seseorang mampu membacanya dengan baik, sehingga pendengar puisi akan merasakan kenikmatan dan kepuasan saat puisi tersebut di baca.

Tujuan penelitian ini adalah melihat dampak dari penggunaan metode demonstrasi terhadap keefektifan pembelajaran dan peningkatan minat serta pengembangan bakat apresiasi puisi pada siswa SMP.

Kurangnya minat terhadap pembelajaran sastra khususnya puisi, antara lain disebabkan oleh pembelajaran sastra yang kurang menarik. Berbagai faktor mempengaruhi di dalamnya, baik faktor dari segi guru maupun dari siswa sendiri. Keterlibatan berbagai unsur penting yang saling terkait di antaranya unsur guru, kurikulum, metode, pengajaran, sarana dan prasarana, akan sangat mendukung terciptanya keefektifan dalam tercapainya tujuan pendidikan.

Dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode survey karena penulis ingin mengungkapkan masalah yang aktual, yaitu tentang pembelajaran puisi dengan menggunakan metode demonstrasi, juga untuk mengukur keefektifan pembelajaran puisi..

            Hasil penelitian yang penulis lakukan di kelas VIII SMP Wilayah Bina 1 Kabupaten Lebak  memeberikan gambaran bahwa minat siswa terhadap apresiasi puisi dipengaruhi oleh ketepatan pemilihan metode guru pada waktu  pembelajaran puisi. Apabila pembelajaran guru memberikan contoh semaksimal mungkin dalam membaca puisi yang baik dan penuh keatraktifan, yang  akan menjadi pedoman bagi siswa untuk meniru cara-cara membaca puisi yang benar, sehingga  siswa memperoleh gambaran bagaimana  cara membaca  puisi yang baik.

A.    Pendahuluan

Puisi merupakan ragam karya sastra yang tercipta melalui bentuk tulisan, dirangkai seindah mungkin dengan menuangkan kata-kata puitis dan pemilihan kata konotasi yang memiliki nilai rasa tinggi, baik dari segi estetis maupun makna etika bahasa. Kesempurnaan sebuah puisi akan tercipta manakala dibacakan dengan penuh penjiwaan, ekspresi dari wajah si pembaca yang benar-benar imajinatif, mampu menggetarkan rasa pada diri penonton, sehingga puisi tidak sekadar dibaca dengan  cara yang menoton dan membuat jenuh suasana. Bentuk-bentuk apresiasi terhadap puisi merupakan wadah untuk   memberikan suatu penghargaan terhadap karya sastra, seperti pementasan puisi, perlombaan-perlombaan membaca puisi, penobatan-penobatan terhadap penyair, akan memberikan kebanggaan yang mendalam.

Karya sastra dianggap mampu membuka pintu hati pembacanya untuk menjadi manusia berbudaya, yakni manusia yang responsif terhadap lingkungan komunitasnya dan berusaha menghindari perilaku negatif yang bisa menodai citra keharmonisan hidup.   Hal ini bisa terwujud manakala seseorang memiliki tingkat apresiasi sastra yang cukup, khususnya di bidang apresiasi puisi. Artinya ia mampu menangkap pernak-pernik makna yang tersirat dalam karya puisi dan sanggup menikmati menu estetika kata yang terhidang di dalamnya.

Puisi adalah bagian dari karya sastra yang wajib diperkenalkan atau disampaikan kepada siswa, karena materi tersebut tercantum  di dalam kurikulum sekolah. Dunia sekolah merupakan  dunia yang tepat untuk mensosialisasikan puisi kepada siswa.

Keberadaan pembelajaran puisi di sekolah harus diakui masih sangat minim dan kurang atraktif. Kenyataan yang sering ditemui adalah, siswa dalam membaca puisi masih terasa dangkal, tidak ada penjiwaan. Di sisi lain lemahnya pembelajaran puisi, karena peran guru yang kurang maksimal dalam  mendemonstrasikan membaca puisi yang benar. Penulis mengamati beberapa kemungkinan masalah yang timbul dalam pengajaran puisi adalah :

  1. Kurang adanya minat siswa terhadap puisi
  2. Tidak diberikan kesempatan melihat ataupun ikut perlombaan mencipta dan     membaca  puisi.
  3. Guru yang kurang pandai dalam mendemonstrasikan pembacaan puisi yang       menarik.

Kemampuan mengapresiasi puisi di kalangan siswa kurang mendapat perhatian baik dari guru bahasa indonesia maupun guru bidang studi lainnya yang mendukung. Metode yang tepat dalam pelaksanaan pengajaran harus terus diasah dan dikembangkan, agar  pengajaran puisi tidak mengalami kegagalan, bahkan harus dijadikan sebagai wadah untuk mengembangkan bakat siswa.

Pengajaran puisi adalah suatu proses pemberian materi dalam bentuk sebuah rangkaian tulisan yang memiliki makna konotatif, berbentuk  simbol-simbol kata, serta diakhiri dengan cara-cara mengapresiasi dan pengekspresian puisi dengan baik. Tujuan pengajaran puisi diberikan, dengan harapan siswa mampu menciptakan  karya puisi yang memiliki  bahasa puitis, dan  nilai-nilai estetis tinggi, sehingga dapat menyentuh rasa para penikmat puisi. Di samping itu, tujuan pengajaran puisi adalah agar siswa dapat membacakan puisi dengan penuh ekspresif, imajinatif dan memberikan daya tarik yang kuat bagi penonton  sehingga puisi tidak lagi dibacakan dengan cara monoton.

Penulis mengadakan wawancara dengan guru Bahasa Indonesia, berkaitan dengan proses belajar mengajar khususnya pelajaran apresiasi puisi. Metode yang digunakan dalam penyampaian materi apresiasi puisi di antaranya memang juga menggunakan metode demonstrasi di samping divariasikan dengan metode ceramah sebagai alat penyampai informasi, dan diskusi untuk mengulas materi apresiasi puisi secara berkelompok. Penggunaan metode demonstrasi menurut salah satu guru SMP di Wilayah Bina 1 Kabupaten Lebak  memang dinilai efektif sebagai media penyampain materi puisi, tetapi hasilnya belum menunjukkan persentase yang memuaskan. Apabila dilihat dari segi pendidik, guru bahasa indonesia SMP  Wilayah Bina 1 Kabupaten Lebak  di pandang cukup kompeten dalam penyampaian materi puisi. Hanya saja guru  dalam memberikan contoh membacakan puisi, kurang adanya fantasi saat membaca puisi.

  Pada penelitian ini penulis mencoba melakukan jajak pendapat terhadap siswa  di lima sekolah Wilayah Bina 1 SMP Kabupaten  Lebak  tentang bagaimana keefektifan  metode demonstrasi dalam pengajaran puisi sebagai upaya meningkatkan kemampuan mengapresiasi puisi.

B.    Kajian Teori

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia(1997) dituangkan bahwa metode adalah cara yang teratur untuk melaksanakan suatu pekerjaan agar tercapai sesuai dengan yang dikehendaki, cara kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai tujuan yang ditentukan.

Metode demonstrasi menurut Djamarah dan Zain adalah cara penyajian bahan pelajaran dengan memeragakan atau mempertunjukkan kepada siswa suatu proses,  situasi, atau benda tertentu yang sedang dipelajari, baik sebenarnya maupun tiruan. (2003 : 102)

Dari ungkapan tersebut penulis menyimpulkan bahwa metode demonstrasi adalah suatu proses memberikan contoh kepada siswa berkaitan dengan materi yang akan disampaikan  agar  siswa dapat meniru, memeragakan ulang segala sesuatu yang berkaitan dengan materi yang akan disampaikan kepada siswa, melalui cara kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaan kegiatan guna mencapai tujuan yang diinginkan.

Pengertian pengajaran dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia yaitu : 1. proses, cara, perbuatan mengajar atau mengajarkan; 2. perihal mengajar; segala sesuatu mengenai mengajar; 3. peringatan (pengalaman, peristiwa yang dialami atau dilihatnya).  Suatu kegiatan yang bernilai edukatif mewarnai interaksi yang terjadi antara guru dengan anak didik. Kegiatan belajar mengajar merupakan interaksi yang bernilai edukatif dikarenakan kegiatan belajar mengajar yang dilakukan, diarahkan untuk mencapai tujuan yang telah dirumuskan, demikian  pendapat yang disampaikan oleh  Djamarah. Kesimpulan yang dapat penulis sampaikan bahwa pengajaran adalah suatu proses kegiatan pembelajaran formal dengan acuan kurikulum sebagai pedoman dalam pencapaian tujuan pendidikan Nasional.

Definisi apresiasi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia(1997)  adalah kesadaran terhadap nilai seni dan budaya.

Aminuddin(1987)  mengungkapkan kembali bahwa definisi apresiasi sastra secara langsung adalah kegiatan mengapresiasi sastra pada performansinya, misalnya saat Anda melihat, mengenal, memahami, menikmati ataupun memberikan penilaian pada kegiatan membaca puisi, cerpen, pementasan drama, baik di radio, televisi maupun di panggung terbuka. Efffendi mengungkapkan bahwa apresiasi sastra adalah perwujudan pengalaman-pengalaman sastrawan atau pujangga yang diungkapkan dengan jujur, terus terang, sungguh-sungguh, dan penuh imajinasi (daya bayang) dengan bahasa yang khas pula. Pemahaman yang dapat disimpulkan yaitu apresiasi khususnya di bidang puisi adalah cara menikmati dan memahami kajian-kajian dalam pernak-pernik puisi yang disampaikan oleh penyair sekaligus memberikan penghargaan terhadap puisi dengan cara pembacaan yang atraktif sehingga kesempurnaan puisi nyata dinikmati oleh penikmat puisi.

Sastra menurut Fanamie adalah karya fiksi yang merupakan hasil kreasi berdasarkan luapan emosi yang spontan yang mampu mengungkapkan aspek estetik baik yang didasarkan aspek kebahasaan maupun aspek makna.

Puisi adalah ragam sastra yang bahasanya terikat oleh irama, matra, rima, serta penyusunan lirik dan bait,  demikian definisi puisi  yang terdapat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia.

Puisi itu sendiri menurut Ahmad Syubhanuddin(2005) adalah hasil proses kreatif penyair melalui penjelajahan empiris (unsur pengalaman), estetis (unsur keindahan), dan analistis (unsur pengamatan).

 C.    Metode dan Teknik Penelitian

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Metode Survay. Metode tersebut dalam penelitian menjadi tolok ukur untuk mengetahui minat siswa terhadap puisi sebagai dampak dari  keefektifan pengajaran puisi dengan menggunakan metode demonstrasi yang dilakukan guru.

Dalam mengumpulkan data penelitian, penulis memberikan angket kuisioner mengenai proses pembelajaran sastra, khususnya puisi dan pengalaman siswa terhadap proses pembelajara tersebut, hasilnya diolah dalam bentuk persentase  untuk memperoleh kesimpulan akhir.

 D.    Populasi Dan Sampel Penelitian

Populasi penelitian ini adalah  siswa kelas VIII  SMP Wilayah Bina 1 Kabupaten Lebak yang berjumlah 12 SMP, namun yang dijadikan populasi sebanyak  lima sekolah, yakni siswa SMPN 1,  SMPN 2 dan SMPN 3 Cibadak, SMPN 1 dan SMPN 4 Rngkasbitung di wilayah Bina 1 Kabupaten Lebak. Sedangka sampel diambil sebanyak 44 siswa dari populasi sasaran  secara acak.    Keempat puluh empat siswa tersebut adalah yang dijadikan  responden sebagai sumber data primer penelitian. Pengambilan sampel didasarkan kepada tingkat variatif siswa dengan karakteristik yang mengacu pada prestasi siswa di kelasnya.

 E.    Deskripis Data dan Analisis

Pengisian angket yang di berikan kepada siswa, bertujuan untuk menjaring dan mengetahui minat serta bakat siswa terhadap apreasi puisi. Di bawah ini adalah hasil angket apreasi puisi kelas VIII  SMP Wilayah Bina 1 Kabupaten Lebak.

Penulis perlu mengetahui seberapa besar siswa memiliki minat terhadap pengajaran puisi. Berbagai faktor dan kendala yang dihadapi, baik oleh pengajar maupun siswa, berpengaruh besar terhadap siswa dalam menumbuhkan minat untuk menyenangi puisi. Memang bukan suatu hal yang mudah unutk dipaksakan kepada siswa agar menyenangi pelajaran puisi. Apabila siswa tidak memiliki bakat yang kuat, minimal siswa bisa mengaplikasikan teori – teori mem,baca puisi dalamkonteks pelaksanaanya secara benar.

Penulis membagi dua kelompok pertanyaan untuk mengetahui mengenai kegiatan pembelajaran puisi :

  1. Pertanyaan yang berkaitan dengan pengalaman siswa dalam pembelajaran puisi.
  2. Pertanyaan mengenai minat siswa terhadap pengajaran apreasi puisi .

Setelah memberikan beberapa pertanyaan yang berkaitan dengan pengajaran apresiasi puisi, sedikitnya penulis dapat memperoleh gambaran tentang minat siswa terhadap apresiasi puisi

Beberapa Informasi mengenai pengajaran apresiasi puisi dan  minat siswa yang penulis peroleh yaitu di antaranya:

 1.     Analisis Pengajaran Apresiasi Puisi

1)     Pertanyaan yang penulis ajukan adalah: Pernakah kamu mendapat Pengajaran Apresiasi Puisi?

      Seluruh responden yang berjumlah 44 orang menjawab Pernah. Ini  menunjukan bahwa siswa kelas VIII SMP  Wilayah Bina 1 Kabupaten Lebak semua pernah mendapatkan pengajaran apresiasi puisi. Puisi memang merupakan mata pelajaran yang tercantum pada kurikulum. Dengan demikian, mata pelajaran sastra, khususnya puisi, wajib disampaikan kepada anak didik.

2)     Pertanyaan yang berikut adalah : Jenis puisi apakah yang sering diajarkan oleh gurumu?

      Dari Jumlah siswa sebanyak 44 orang, 56,8% atau 25 siswa menjawab puisi konvensioanal, sementara 47,5% atau 19 responden menjawab puisi jenis kontemporer.

3)     Pertanyaan ketiga : Metode apa yang digunakan guru dalam menyampaikan pengajaran puisi?

Jawaban yang menyatakan ceramah, 50% atau 22 responden, yang menyatakan diskusi sebanyak 30% atau 13 responden,dan yang menyatakan jawaban lain-lain adalah 20% atau 9 siswa.

4)     Penulis memberikan pertanyaan : Menyenangkankah gurumu dalam memberikan pelajaran puisi?

Responden yang menyatakan menyenangkan berjumlah 34,1% atau 15 siswa, yang menyatakan membosankan sebesar 45,% atau 20 responden, sedangkan yang menyatakan tidak menyenangkan adalah sebesar 20,5% atau sebanyaka 9 siswa.

5)     Apakah gurumu selalu memberikan contoh cara membaca puisi yang baik? 45,5% atau sebanyak 20 siswa memnjawab pernah, 06,8% atau 3 siswa menjawab tidak pernah, 47,7% atau sebanyak 21 siswa menyatakan jarang-jarang.

6)     “Dalam tes praktik membaca puisi, apakah gurumu selalu memberikan penilaian?” Yang menjawab YA sebanyak 75% atau sejumlah 30 siswa, yang menjawab kadang-kadang yaitu sebanyak 22,7% atau sejumlah 10 siswa, sementara sisanya adalah menjawab tidak pernah yaitu 0,9% atau sejumlah 4 siswa.

7)     Penulis mengajukan pertanyaan lebih lanjut yaitu: Berhasilkah gurumu menumbuhkembangkan bakat siswa dalam membaca puisi, dengan menggunakan metode yang dipakainya?

      22,7% atau sebanyak 10 siswa, menyatakan berhasil, sementara sejumlah 77,3% atau sebanyak 34 siswa menyatakan kurang berhasil.

8)     Sesuai dengan judul yang penulisangkat “ Penggunaan Metode Demontrasi dalam pengajaran Puisi”. Penulis juga mengajukan pertanyaan : “Pernahkah gurumu menyampaikan pelajaran puisi dengan menggunakan metode demontrasi?

      siswa yangmenjawab pernah sebanyak 50% atau 22 anak, sementara yang menjawab tidak pernah juga sebanyak 50% atau 22 siswa.

9)     Pertanyaan selanjutnya adalah: Apakah kamu menyenangi pelajaran puisi? Sebanyak 56,8% atau sebanyak 25 siswa menyenangi puisi. Sementara yang menjawab tidak menyenangi yaitu sebanyak 19 siswa atau 43,2%.

10)  Lebih lanjut Penulis mengajukan pertanyaan: Menurutmu perlukah di sekolah mendapat pelajaran apresiasi puisi

      Rata-rata mereka menyatakan jawaban perlu, yaitu sekitar 88,6% atau sejumlah 39 siswa. Sementara sisanya 11,4% atau 5 siswa yang menjawab tidak perlu.

2.Analisis Minat siswa Terhadap Pengajaran Apresiasi Puisi

Penulis perlu mengetahui seberapa besar siswa memiliki minat terhadap pengajaran puisi. Berbagai faktor dan kendala yang dihadapi, baik oleh pengajar maupun siswa, berpengaruh besar terhadap siswa dalam menumbuhkan minat untuk menyenangi puisi.

Beberapa Informasi mengenai minat siswa yang penulis peroleh yaitu diantaranya:

1). Senangkah kamu dengan pelajaran puisi?

Jawaban yang penulis peroleh yaitu 73,7% atau sebanyak 32 siswa menyenangi puisi, sisanya 27,3% atau sebanyak 12 siswa tidak menyenangi puisi. Dari analisa tersebut,memang pada dasarnya siswa kelas VIII SMP Wilayah Bina 1 Kabupaten Lebak sebagian besar menyenangi puisi. Seusia mereka yang mulai mengalami pubertas lebih condong menyukai pengungkapan kata-kata puitis, kata-kata yang mengandung makna indah luapan isi hatinya.

2)     Pertanyaan berikut yang penulis ajukan adalah “Senangkah kamu membaca puisi?”

Siswa yang  menjawab  senang membaca puisi adalah 64,6% atau sebanyak 28 anak, sedangkan yang tidak menyenangi membaca puisi yaitu 36,4% atau sebanyak 16 siswa

3)     Selanjutnya penulis memberikan pertanyaan senangkah kamu menulis puisi?”

Jawaban terhadap pertanyaan itu adalah 45,5% atau sebanyak 20 anak menjawab senang, dan 55,5% atau sebanyak 24 siswa menjawab tidak senang

4)     Apakah Anda selalu memperhatikan ketika guru sedang memberikan contoh membaca puisi?

Jawaban memperhatikan persentasenya sebesar 34,1% atau sebanyak 15 anak, kurang memperhatikan 22,7% atau sebanyak 10 anak, sisanya menjawab tidak memperhatikan 43,2% atau sebanyak 19 anak.

Hasil analisis  pada pertanyaan poin ini, banyak berbagai faktor yang menjadi penyebabnya, mengapa anak kurang memperhatikan disaat guru memberikan contoh membaca puisi ? resume siswa yang dikemukakan antara lain kurang menarik perhatian tatkala guru mendemontrasikan membaca puisi.

5)     Apakah kamu senang apabila ditunjuk untuk ikut lomba membaca puisi?

Pertanyaan terakhir yang penulis ajukan kepada siswa bertujuan untuk menganalisa keberhasilan guru dalam memberikan pelajaran apresiasi puisi, sekaligus melihat antusias siswa dalam merespon kegiatan apresiasi puisi dalam konteks kompetisi membaca puisi. Persentase yang diperoleh yaitu 11,4% atau sdebanyak 5 siswa menjawab senang, yang menjawab tidak senang yaitu 88,6% atau sebanyak 39 siswa.

 F.     Simpulan

 Berdasarkan uraian pada uraian di atas , dapat ditarik simpulan bahwa pada dasarnya  para siswa mempunyai kemampuan untuk mengapresiasikan puisi dengan baik, tetapi hal ini juga tidak terlepas dari kemampuan guru dalam membangkitkan minat dan kemampuan siswa tersebut. Para siswa pada umumnya, sebelum melakukan apresiasi sangat memerlukan teori-teori tentang apresiasi puisi, apa yang disebut dengan apresiasi dan bagaimana tata cara mengapresiasikan puisi tersebut. Untuk materi apresiasi puisi, guru dituntut dapat memberikan contoh-contoh membaca puisi yang benar, atraktif, penjiwaan, pengekspresian, serta penguasaan puisi, karena memang benar bahwa seorang siswa selalu mencontoh hal-hal yang diperbuat oleh gurunya. Untuk itu penulis yakin apabila seorang guru mampu membaca puisi dengan baik, niscaya siswanyapun akan mengikuti, meniru, apa yang dicontohkan oleh gurunya.

                                Penggunaan Metode Demonstrasi dalam Pengajaran Puisi dapat meningkatkan minat siswa untuk mengapresiasi Puisi”, bahwa penyampaian materi aprsiasi puisi dengan menggunakan metode demonstrasi, sangat efektif dilaksanakan dan mudah untuk diikuti oleh siswa dalam mengembangkan kemampuan membaca puisi, dengan catatan guru benar-benar mendemonstrasikan membaca puisi dengan sebaik-baiknya, sehingga siswa dapat secara langsung melihat, merasakan keatraktifan puisi yang dibaca oleh gurunya.

 G.    Daftar Pustaka

Alwy, Ahmad Syubhanudin,2005. Mozaik Sastra Indonesia.Bandung : Nuansa

Aminuddin, 1987. Pengantar Apresiasi Karya Sastra. Bandung : Sinar Baru.

Arikunto, Suharsimi. Prosedur Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta

Depdikbud. 1997. Kamus Besar bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka

Depdiknas. 2005. Bahasa Dan Satra Indonesia : Direktorat Jenderal Pendidikan  Dasar Dan Menengah

Depdikanas. 2007. Kamus Besar Indonesia. Jakarta :Balai Pustaka

Effendi, S. 2002. Bimbingan Apresiasi Puisi. Jakarta : Pustaka Jaya

Endraswara, Suwardi. 2008. Sanggar Sastra. Jogjakarta : Ramadhan Press

Fanamie, Zainuddin. 2000. Telaah Sastra. Surakarta : Muhammadiyah University Press

Rahmanto, B. 1988. Metode Pengajaran Sastra. Yogyakarta :Kanisius

Rosidi, Ajip.1968. Ikhtisar Sejarah Sastra Indonesia. Bandung : BinaCipta

Sarumpaet, Riris K. Toha. 2002. Apresiasi Puisi Remaja. Jakarta : Grasindo

zp8497586rq

Kawasan Taman Nasional Gunung Halimun – Salak (TNGHS)

by

p style=”text-align: justify;”>Taman Nasional Gunung Halimun – Salak (TNGHS) adalah salah satu taman nasional yang terletak di Jawa bagian barat. Kawasan konservasi dengan luas 113.357 hektare ini menjadi penting karena melindungi hutan hujan dataran rendah yang terluas di daerah ini, dan sebagai wilayah tangkapan air bagi kabupaten-kabupaten di sekelilingnya. Melingkup wilayah yang bergunung-gunung, dua puncaknya yang tertinggi adalah Gunung Halimun (1.929 m) dan Gunung Salak (2.211 m). Keanekaragaman hayati yang dikandungnya termasuk yang paling tinggi, dengan keberadaan beberapa jenis fauna penting yang dilindungi di sini seperti elang jawa, macan tutul jawa, owa jawa, surili dan lain-lain. Kawasan TNGHS dan sekitarnya juga merupakan tempat tinggal beberapa kelompok masyarakat adat, antara lain masyarakat adat Kasepuhan Banten Kidul dan masyarakat Baduy.

Sejarah Kawasan

Wilayah Gunung Halimun telah ditetapkan menjadi hutan lindung semenjak tahun 1924, luasnya ketika itu 39.941 ha. Kemudian pada 1935 kawasan hutan ini diubah statusnya menjadi Cagar Alam Gunung Halimun. Status cagar alam ini bertahan hingga tahun 1992, ketika kawasan ini ditetapkan menjadi Taman Nasional Gunung Halimun dengan luas 40.000 ha, sesuai dengan Surat Keputusan Menteri Kehutanan No. 282/Kpts-II/1992 tanggal 28 Februari 1992. Sampai dengan lima tahun kemudian, taman nasional yang baru ini pengelolaannya ‘dititipkan’ kepada Taman Nasional Gunung Gede – Pangrango yang wilayahnya berdekatan. Baru kemudian pada 23 Maret 1997, taman nasional ini memiliki unit pengelolaan yang tersendiri sebagai Balai Taman Nasional Gunung Halimun.[1]

Pada tahun 2003 atas dasar SK Menteri Kehutanan No.175/Kpts-II/2003, kawasan hutan BTN Gunung Halimun diperluas, ditambah dengan kawasan hutan-hutan Gunung Salak, Gunung Endut dan beberapa bidang hutan lain di sekelilingnya, yang semula merupakan kawasan hutan di bawah pengelolaan Perum Perhutani. Sebagian besar wilayah yang baru ini, termasuk kawasan hutan G. Salak di dalamnya, sebelumnya berstatus hutan lindung. Namun kekhawatiran atas masa depan hutan-hutan ini, yang terus mengalami tekanan kegiatan masyarakat dan pembangunan di sekitarnya, serta harapan berbagai pihak untuk menyelamatkan fungsi dan kekayaan ekologi wilayah ini, telah mendorong diterbitkannya SK tersebut. Dengan ini, maka kini namanya berganti menjadi Balai Taman Nasional Gunung Halimun – Salak, dan luasnya bertambah menjadi 113.357 ha.[2]

Letak dan keadaan fisik

 Ci Berang lewat dekat Rangkasbitung, sebelum bermuara ke Ci Ujung

Secara administratif, kawasan konservasi TN Gunung Halimun – Salak termasuk ke dalam wilayah tiga kabupaten, yakni Kabupaten Bogor dan Sukabumi di Jawa Barat, dan Lebak di Propinsi Banten. Topografi wilayah ini berbukit-bukit dan bergunung-gunung, pada kisaran ketinggian antara 500–2.211 m dpl. Puncak-puncaknya di antaranya adalah G. Halimun Utara (1.929 m), G. Ciawitali (1.530 m), G. Kencana (1.831 m), G. Botol (1.850 m), G. Sanggabuana (1.920 m), G. Kendeng Selatan (1.680 m), G. Halimun Selatan (1.758 m), G. Endut (timur) (1.471 m), G. Sumbul (1.926 m), dan G. Salak (puncak 1 dengan ketinggian 2.211 m, dan puncak 2 setinggi 2.180 m).[1] Jajaran puncak gunung ini acapkali diselimuti kabut (Sd. halimun), maka dinamai demikian.

Wilayah ini merupakan daerah tangkapan air yang penting di sebelah barat Jawa Barat. Tercatat lebih dari 115 sungai dan anak sungai yang berhulu di kawasan Taman Nasional. Tiga sungai besar mengalir ke utara, ke Laut Jawa, yakni Ci Kaniki dan Ci Durian (yang bergabung dalam DAS Ci Sadane), serta Ci Berang, bagian dari DAS Ci Ujung. Sementara terdapat 9 daerah aliran sungai penting yang mengalir ke Samudera Hindia di selatan, termasuk di antaranya Cimandiri (Citarik, Cicatih), Citepus, Cimaja, dan Cisolok. Sungai-sungai ini mengalir melintasi wilayah Bogor, Tangerang, Rangkasbitung, Bayah dan Palabuhanratu.[1]

Kawasan TN Gunung Halimun – Salak memang merupakan daerah yang basah. Curah hujan tahunannya berkisar antara 4.000 – 6.000 mm, dengan bulan kering kurang dari 3 bulan di antara Mei hingga September. Iklim ini digolongkan ke dalam tipe A hingga B menurut klasifikasi curah hujan Schmidt dan Ferguson. Suhu bulanannya berkisar antara 19,7 – 31,8 °C, dan kelembaban udara rata-rata 88%.[1]

Kekayaan hayati kawasan taman nasional ini telah lama menarik perhatian para peneliti, dalam dan luar negeri. Banyak catatan telah dibuat, terutama setelah status kawasan ditingkatkan menjadi taman nasional, dan banyak pula yang telah diterbitkan, khususnya semasa masih bernama TN Gunung Halimun. Informasi berikut ini masih merujuk pada hasil-hasil penelitian di TN Gunung Halimun tersebut, terkecuali apabila disebutkan lain.

Hutan pegunungan

Tutupan hutan di taman nasional ini dapat digolongkan atas 3 zona vegetasi[3]:

• Zona perbukitan (colline) hutan dataran rendah, yang didapati hingga ketinggian 900 – 1.150 m dpl.

• Zona hutan pegunungan bawah (submontane forest), antara 1.050 – 1.400 m dpl; dan

• Zona hutan pegunungan atas (montane forest), di atas elevasi 1.500 m dpl.

Keanekaragamannya cenderung berkurang dengan bertambahnya ketinggian. Dua petak coba permanen, masing-masing seluas 1 ha, di zona submontana ditumbuhi 116 dan 105 spesies pohon. Sementara satu plot lagi dengan luas yang sama di zona montana didapati hanya berisi 46 spesies pohon.

Catatan sementara mendapatkan lebih dari 500 spesies tumbuhan, yang tergolong ke dalam 266 genera dan 93 suku, hidup di kawasan konservasi ini[4]. Hasil ini diduga masih jauh di bawah angka yang sesungguhnya, mengingat bahwa TN Gede Pangrango yang berdekatan dan mirip kondisinya, namun luasnya kurang dari sepertujuh TNGHS, tercatat memiliki 844 spesies tumbuhan berbunga[5]. Apalagi penelitian di atas belum mencakup wilayah-wilayah yang ditambahkan semenjak 2003.

Penelitian pada zona perbukitan di wilayah Citorek mendapatkan 91 spesies pohon, dari 70 marga dan 36 suku. Suku yang dominan adalah Fagaceae, yang diwakili oleh 10 spesies dan 144 (dari total 519) individu pohon; diikuti oleh Lauraceae, yang diwakili oleh 9 spesies dan 26 individu pohon. Jenis-jenis yang memiliki nilai penting tertinggi, berturut-turut adalah ki riung anak atau ringkasnya ki anak (Castanopsis acuminatissima), pasang parengpeng (Quercus oidocarpa), puspa (Schima wallichii), saketi (Eurya acuminata), dan rasamala (Altingia excelsa). Jenis-jenis tersebut selanjutnya membentuk tiga tipe komunitas hutan yang terbedakan di lapangan, yakni tipe Castanopsis acuminatissima – Quercus oidocarpa; Schima wallichii – Castanopsis acuminatissima, dan Schima wallichii – Eurya acuminata.[6]

Dua plot permanen yang dibuat pada hutan submontana di ketinggian 1.100 m dpl., yakni dekat Stasiun Riset Cikaniki dan di gigir utara G. Kendeng, berturut-turut didominasi oleh rasamala (A. excelsa) dan ki anak (C. acuminatissima). Sedangkan plot permanen pada hutan montana di bawah puncak G. Botol pada elevasi 1.700 m dpl, didominasi oleh pasang Quercus lineata.[7] Hutan montana di atas 1.500 m dpl. umumnya dikuasai oleh jenis-jenis Podocarpaceae, seperti jamuju (Dacrycarpus imbricatus), ki bima (Podocarpus blumei) dan ki putri (P. neriifolius).[1]

Di taman nasional ini juga didapati sekurang-kurangnya 156 spesies anggrek; diyakini jumlah ini masih jauh di bawah angka sebenarnya apabila dibandingkan dengan kekayaan anggrek Jawa Barat yang tidak kurang dari 642 spesies.[8]

Hutan-hutan primer dan pelbagai kondisi habitat lainnya menyediakan tempat hidup bagi aneka jenis margasatwa di TN Gunung Halimun – Salak. Tidak kurang dari 244 spesies burung, 27 spesies di antaranya adalah jenis endemik Pulau Jawa yang memiliki daerah sebaran terbatas. Dari antaranya terdapat 23 spesies burung migran.[9] Wilayah ini juga telah ditetapkan oleh BirdLife, organisasi internasional pelestari burung, sebagai daerah burung penting (IBA, important bird areas) dengan nomor ID075 (Gunung Salak) dan ID076 (Gunung Halimun). Wilayah-wilayah ini terutama penting untuk menyelamatkan jenis-jenis elang jawa (Spizaetus bartelsi), luntur jawa (Apalharpactes reinwardtii), ciung-mungkal jawa (Cochoa azurea), celepuk jawa (Otus angelinae), dan gelatik jawa (Padda oryzivora).[10]

Catatan sementara herpetofauna di taman nasional ini mendapatkan sejumlah 16 spesies kodok, 12 spesies kadal dan 9 spesies ular[11]. Daftar ini kemudian masing-masing bertambah dengan 10, 8, dan 10 spesies, berturut-turut untuk jenis-jenis kodok, kadal dan ular[12]. Namun demikian, daftar ini belum lagi mencakup jenis-jenis biawak dan kura-kura yang hidup di sini.

Mamalia terdaftar sebanyak 61 spesies. Di antaranya termasuk jenis-jenis langka seperti macan tutul jawa (Panthera pardus melas), owa jawa (Hylobates moloch), surili (Presbytis aygula), lutung budeng (Trachypithecus auratus), dan juga ajag (Cuon alpinus).[1]

Ancaman dan Tantangan Pengelolaan

Dilihat dari bentuk kawasannya, Taman Nasional Gunung Halimun Salak berbentuk seperti bintang atau jemari, sehingga batas yang mengelilingi kawasan taman nasional ini menjadi lebih panjang. Pengelolaan kawasan seperti ini lebih sulit dibandingkan dengan pengelolaan kawasan yang berbentuk relatif bulat. Apalagi di dalamnya terdapat beberapa enklave berupa perkebunan, pemukiman masyarakat tradisional serta beberapa aktifitas pertambangan emas, pembangkit energi listrik panas bumi dan pariwisata. Termasuk pula pemukiman-pemukiman masyarakat adat Kasepuhan Banten Kidul.

Banyak para petani tradisional maupun pendatang sudah tinggal di wilayah ini sebelum kawasan ini ditetapkan sebagai areal konservasi. Sehingga menjadi tantangan pengelola, para pihak dan masyarakat lokal dalam mengembangkan model pengelolaan kawasan TNGHS yang lebih kolaboratif dan berkelanjutan.

Catatan kaki

1. ^ a b c d e f HARTONO, T., H. KOBAYASHI, H. WIDJAYA, M. SUPARMO. 2007. Taman Nasional Gunung Halimun – Salak. Edisi revisi. JICA – BTNGHS – Puslit Biologi LIPI – PHKA. Pp. 48 vi

2. ^ SK Menteri Kehutanan No.175/Kpts-II/2003

3. ^ SIMBOLON, H., M. YONEDA, & J. SUGARDJITO. 1998. Biodiversity and its conservation in Gunung Halimun National Park. in H. Simbolon, M. Yoneda, & J. Sugardjito. (eds.) Research and Conservation of Biodiversity in Indonesia. Vol. IV: Gunung Halimun, the last submontane tropical forest in West Java. JICA – LIPI – PHPA. Pp. v- vi

4. ^ WIRIADINATA, H. 1997. Floristic study of Gunung Halimun National Park. in M. Yoneda, H. Simbolon, & J. Sugardjito. (eds.) Research and Conservation of Biodiversity in Indonesia. Vol. II: The inventory of natural resources in Gunung Halimun National Park. JICA – LIPI – PHPA. Pp. 7–13

5. ^ SOENARNO, B. & RUGAYAH. 1992. Flora Taman Nasional Gede Pangrango. Herbarium Bogoriense. Bogor. 375 hal.

6. ^ MIRMANTO, E. & H. SIMBOLON. 1998. Vegetation analysis of Citorek forest, Gunung Halimun National Park. in H. Simbolon, M. Yoneda, & J. Sugardjito. (eds.) op. cit.. Pp. 41–59

7. ^ SUZUKI, E., M. YONEDA, H. SIMBOLON, Z. FANANI, T. NISHIMURA, & M. KIMURA. 1998. Monitoring of vegetational changes on permanent plots in Gunung Halimun National Park. in H. Simbolon, M. Yoneda, & J. Sugardjito. (eds.) op. cit. Pp. 60–81

8. ^ MAHYAR, U.W., & A. SADILI. 1998. Orchids inventory and their distribution in south-western part of Gunung Halimun National Park. in H. Simbolon, M. Yoneda, & J. Sugardjito. (eds.) op. cit. Pp. 21–32

9. ^ PRAWIRADILAGA, D.M., S. WIJAMUKTI & A. MARAKARMAH. 2002. Buku Panduan Identifikasi Burung Pegunungan di Jawa: Taman Nasional Gunung Halimun. Biodiversity Conservation Project. LIPI – JICA – PHKA. Pp. 106 iv

10. ^ BirdLife International (2009) Important Bird Area factsheet: ID075 Gunung Salak, ID076 Gunung Halimun. Downloaded from the Data Zone at http://www.birdlife.org on 29/4/2010

11. ^ SIDIK, I. 1998. An inventory of amphibians and reptiles at Gunung Halimun National Park. in H. Simbolon, M. Yoneda, & J. Sugardjito. (eds.) op. cit. Pp. 141–147

zp8497586rq
Komentar Dinonaktifkan pada Kawasan Taman Nasional Gunung Halimun – Salak (TNGHS)