BIMBINGAN PEMERINTAH DAERAH TERHADAP SUKU BADUY PEMUKIMAN DI KEC. LEUWIDAMAR KAB. LEBAK

by

Oleh : Iman Sampurna

Baduy bukanlah suku terasing melainkan mereka (suku baduy0 mengasingkan diri (di wilayah banten Selatan).  masyarakat Baduy terdiri dari 2 kelompok, yaitu Baduy tangtu (dalam) dan Baduy Penamping (Luar).  Sebagai upaya agar tidak terjadi kesenjangan budaya antar budaya Baduy dengan budaya masyarakat sekitarnya maka pemerintah daerah melaksanakan program “Pemukiman Bagi Warga baduy Luar”  Program ini dilaksanakan dalam upaya memberikan perlakuan yang seimbang atas dan sesama wargmasyarakat sekitarnya.  Masalah dalam penelitian inia dalah “bagaimanakah Bimbingan Yang dilakukan Pemerintah daerah Terhadap Suku Baduy Luar?”.  Adapun tujuan penelitian yang dilakukan adalah untuk mengetahui bimbingan apa yang dilakukan oleh pemerintah  daerah terhadap suku Baduy Pemukiman, sedangkan kegunaannya adalah  sebagai sumber informasi dan penambah wawasan bagi pembaca dan penyusun  tentang bimbingan yang dilakukan terhadap suku Baduy pemukiman.

Pada dasarnya usaha pemerintah  daerah kabupaten Lebak telah melaksanakan bimbingan terhadap suku Baduy Pemukiman (luar0, namun demikian berbagai program yang ada dan dilakukan baru hanya sebatas “Proyek” disamping memang membimbing suku Baduy tidaklah semudah yang dibayangkan, karena pola piker mereka yang masih terlalu kuat memegang teguh adat.

Meode yang digunakan dalam penelitian adalah metode deskriftif dengan menggunakan beberapa teknik pengumpulan data antara lain: teknik observasi, dokumenyasi, kepustakaan serta teknik wawancara.  Mengingat data yang diperoleh tidak berbentuk angka-angka maka teknik analisis datanya adalah kualitatif.    Kesimpulan yang didapat dari penelitian adalah masyarakat Suku baduy Pemukiman bukanlah masyarakat terasing atau mengasingkan diri, sebab mereka adalah masyarakat yang mecoba untuk mempertahankan adat leluhurnya seingga masyarakat baduy pemukiman hendaknya mendapatkan treatmen khusus dari pemerintah.  Dalam proses bimbingan terhadap masyarakat Baduy pemukiman hendaknya tidak dilakukan dengan pendekatan proyek, artinya masyarakat Baduy tidak dijadikan sebagai komoditas untuk mendapatkan keuntungan tetapi mereka seharusnya benar-benar dibimbing agar kelak siap untuk dap[at hidup layak dan berdampingan dengan masyarakat lainnya.

zp8497586rq

PENGEMBANGAN KARAKTER

by

p class=”MsoNormal”> SINDO, Minggu, 09/12/2007

KARAKTER adalah titian ilmu pengetahuan (knowledge) dan keterampilan (skill). Pengetahuan tanpa landasan kepribadian yang benar akan menyesatkan dan keterampilan tanpa kesadaran diri akan menghancurkan.

Karena itu, karakter menjadi prasyarat dasar dan integral. Karakter itu akan membentuk motivasi, pada saat yang sama karakter dibentuk dengan metode dan proses yang bermartabat. Karena itu, karakter bukan sekadar penampilan lahiriah, melainkan secara implisit mengungkapkan hal-hal tersembunyi.

Itu sebabnya orang mendefinisikan karakter sebagai ”siapa Anda dalam kegelapan”( character is what you are in the dark). Jika pembentukan karakter yang sehat dan benar itu membutuhkan suatu proses, pantaslah kita bertanya bagaimana caranya?

Buku Pendidikan Karakter – Strategi Mendidik Anak di Zaman Global ini adalah jawabannya. Proses metodologis yang tertuang di dalamnya memancing setiap individu untuk bisa bertanya tentang siapa dirinya dan bagaimana seharusnya dia mengembangkan diri secara sehat dan wajar.

Buku ini oleh penulisnya, Doni Koesoema, dibagi dalam sembilan bab. Pada Bab I dijelaskan bahwa manusia sejatinya selalu berusaha menaklukkan keterbatasan dirinya melalui pendidikan. Dengan tindakannya mendidik, manusia mewariskan kepada generasi berikutnya nilai-nilai budaya yang berharga bagi perkembangan dan pertumbuhannya sebagai individu dan anggota masyarakat.

Pada bab ini penulis mengajak kita berselancar melewati lautan gagasan dan pemahaman tentang proses pembentukan dan penyempurnaan manusia dalam arus waktu,terutama aktivitasnya dalam mendidik manusia- manusia yang lain. Pada Bab II, penulis membahas secara khusus pemahaman tentang pendidikan.

Di situ penulis menegaskan bahwa pendidikan merupakan sebuah kegiatan manusia yang di dalamnya terdapat tindakan edukatif dan didaktis yang diperuntukkan bagi generasi yang sedang bertumbuh. Dalam kegiatan mendidik ini, manusia menghayati adanya tujuan-tujuan pendidikan.

Perbedaan sudut pandang, perbedaan konsepsi tentang manusia membuat penentuan tujuan pendidikan menjadi bermasalah atau paling tidak memunculkan beberapa persoalan.Tanpa gagasan tentang tujuan pendidikan,praksis pendidikan karakter akan kehilangan visi.
Agar tidak terjadi demikian, pada Bab III penulis membahas pemahaman dan persoalan seputar istilah karakter. Karakter merupakan struktur antropologis manusia. Di sanalah manusia menghayati kebebasannya dan mengatasi keterbatasan dirinya.

Karakter Subyektif
Dengan dua pemahaman dasar tentang pendidikan dan karakter pada bab yang terpisah, penulis selanjutnya mencoba membuat sintesis tentang konsep pendidikan karakter. Menurut Doni Koesoema, karakter lebih bersifat subjektif karena berkaitan dengan struktur antropologis manusia dalam memaknai kebebasan sehingga ia mengukuhkan keunikannya berhadapan dengan orang lain.

Secara singkat, pendidikan karakter bisa diartikan sebagai sebuah bantuan sosial agar individu itu dapat bertumbuh dalam menghayati kebebasannya dalam hidup bersama dengan orang lain dalam dunia. Pendidikan karakter bertujuan membentuk setiap pribadi menjadi insan yang berkeutamaan.

Karena itulah bergema kembali persoalan dasar yang telah lama menjadi pertanyaan Plato, ”Apakah keutamaan itu dapat diajarkan?” Untuk mengakhiri Bab IV, penulis memberikan panorama tentang urgensi pendidikan karakter,faktor-faktor yang menyebabkan pendidikan karakter mengalami kemunduran, dan tujuan pendidikan karakter.

Ada dua macam paradigma dalam pendidikan karakter. Yang pertama memandang pendidikan karakter dalam cakupan pemahaman moral yang sifatnya lebih sempit (narrow scope to moral education). Yang kedua melihat pendidikan karakter dari sudut pandang pemahaman isu-isu moral yang lebih luas, terutama melihat keseluruhan peristiwa dalam dunia pendidikan itu sendiri (educational happenings).

Integrasi atas kedua paradigma inilah yang melahirkan gagasan baru tentang pendidikan karakter sebagai pedagogi yang menyertakan tiga matra pertumbuhan manusia. Pendidikan sebagai pedagogi dibahas oleh penulis dalam Bab V.

Penjelasan lebih spesifik tentang dua macam paradigma pendidikan karakter sebagai sebuah pedagogi dibahas dalam BabVI danVII.Pada Bab VI penulis melihat pendidikan karakter dari sudut pandang pemahaman isu-isu moral yang lebih luas, terutama melihat keseluruhan peristiwa dalam dunia pendidikan itu sendiri (educational happenings). Momen pertama dalam pendidikan karakter di dalam lembaga pendidikan adalah penentuan visi dan misi lembaga pendidikan (hlm 162).

Bab VII menelaah pendidikan karakter dalam cakupan pemahaman moral yang sifatnya lebih sempit.Pendekatan pada bab ini lebih analitis sistematis (hlm 193). Setelah membuat klarifikasi pemahaman, buku ini juga ingin menawarkan sebuah pemaparan tentang nilai-nilai yang bisa dipakai dan dimanfaatkan dalam pembuatan program pendidikan karakter di sekolah.
Tentu, tidak akan lengkap kalau tidak membahas metode dan prinsip-prinsip dasar pendidikan karakter di sekolah. Dua gagasan ini menutup pembahasan dalam Bab VI tentang pendidikan karakter di sekolah.

Praksis Pendidikan Karakter
Mungkin kita bertanya, setelah analisis sistematis tentang pendidikan karakter di sekolah, di mana saja kita bisa menerapkan pendidikan karakter itu secara praktis di sekolah? Pada Bab VIII yang berjudul Locus educationis pendidikan karakter di sekolah, penulis memetakan momen-momen khusus yang terjadi dalam lingkup pergaulan di sekolah yang dapat menjadi tempat praksis pendidikan karakter itu dapat dilaksanakan.

Jika kita ingin agar program pendidikan karakter itu berjalan dengan baik dan efektif, kita mesti memiliki parameter untuk mengukur berhasil tidaknya sebuah program pendidikan karakter. Persoalan seputar penilaian pendidikan karakter inilah yang dibahas dalam Bab IX. Bagaimana menilai dan mengevaluasi hasil dari pendidikan karakter?

Dalam pendidikan karakter yang terutama dinilai adalah perilaku, bukan pemahaman. Inilah persoalan pertama yang muncul berkaitan dengan penilaian pendidikan karakter. Untuk menjawab persoalan ini, pada Bab IX dipaparkan siapa subjek yang menilai, kesulitan-kesulitan apa yang menjadi kendala,kriteria apa saja yang menjadi pedoman penilaian serta hakikat penilaian pendidikan karakter.

Pendidikan karakter, jika berhasil, dapat meningkatkan performa sekolah dan performa sekolah bisa meningkat jika ada pola kepemimpinan yang berjiwa pendidikan karakter di sekolah. Sebagaimana setiap pembahasan konseptual tentang sebuah ide,pembahasan yang tersaji dalam buku ini merupakan cercahan ide yang terbuka bagi pendalaman dan pemahaman lebih lanjut.
Apa yang kurang dalam pembahasan, antara lain, tantangan pendidikan karakter dalam mempersiapkan setiap individu menjadi warga negara sebuah masyarakat global, juga program praktis pendidikan karakter di sekolah tidak dibahas secara lebih detail karena pemikiran dan pembuatan program pendidikan karakter di sekolah menurut penulis membutuhkan pemahaman mendalam tentang latar belakang historis sekolah, visi dan misi, kultur yang melingkupi, sumber daya manusiawi yang dipunyai serta kelengkapan sarana-sarana komunikasi sebagaimana dapat diakses secara berbeda oleh tiap sekolah.
Untuk itu, masih banyak tugas yang mesti dilakukan oleh sekolah,para pendidik,dan masyarakat pada umumnya yang berminat dan memberikan perhatian besar pada perkembangan pendidikan di Indonesia.(*)

Sixtus Tanje Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum di SMP St Kristoforus II,Jakbar

zp8497586rq
Komentar Dinonaktifkan pada PENGEMBANGAN KARAKTER

Research and development

by

, often called R&D, is a phrase that means different things in different applications. In the world of business, research and development is the phase in a product”s life that might be considered the product”s “conception”. That is, basic science must exist to support the product”s viability, and if the science is lacking, it must be discovered – this is considered the research phase. If the science exists, then turning it into a useful product is the development phase. Further terminology refinements might call it engineering to refine production so that the product can be made for a cost that appeals to consumers.
Research and development is an investment in a company”s future – companies that do not spend sufficiently in R&D are often said to be “eating the seed corn”; that is, when their current product lines become outdated and overtaken by their competitors, they will not have viable successors in the pipeline. So how much is reasonable to spend on research and development? That is highly dependent both on the technology area and how fast the market is moving. Two percent of company revenue, not profit, might be enough in a fairly sedate market, but to keep up in rapidly changing markets, companies should expect to spend fifteen percent or more in research and development just to keep up with the rest of the pack.
There is considerable debate over which is the “R” and which is the “D” in research and development. Traditionally, research was broken into basic research and applied research, with basic research delving into basic scientific principles and applied research looking for ways to use the basic science to better human lives. More recently, there is very little truly basic research being done in the corporate world; it is mainly the province of academia, often with corporate or government funding support.
Older standards hold that research looked at least five to ten years into the future, and development one to five years, but those timeframes have shortened as the speed of technology has increased. It is always difficult, in times of tight money, to justify spending significant sums on something that may not yield returns for another ten to fifteen years, if ever. But spending on research and development is vital to continued growth and prosperity, both for a company and for a country or world.
From: http://www.wisegeek.com