PANCASILA JATIDIRI BANGSA INDONESIA

by

Iman sampoerna

PENDAHULUAN

Bagi bangsa Indonesia yang sadar akan kondisi nyata yang dimilikinya itu, tentulah semakin meyakini dasar negara yang telah disepakati bangsa Indonesia yakni Pancasila dan berusaha mengimplementasikannya. Namun masalah besar yang masih harus dihadapi ialah bagaimana menjabarkannya sehingga dapat dijadikan pedoman dalam kehidupan nyata masyarakat di segenap aspek kehidupan masyarakat berbangsa dan bernegara. Hal tersebut amat diperlukan pada era reformasi saat ini, yang arahnya Pancasila nampak telah benar-benar dilupakan oleh berbagai kelompok dalam masyarakat, walaupun secara formal melalui ketetapan-ketetapan MPR-RI tetap diakui sebagai dasar negara yang harus dilaksanakan secara konsisten dalam kehidupan bernegara.

Dalam upaya untuk membahas dan memahami Pancasila sebagai jatidiri bangsa Indonesia, terdapat beberapa permasalahan mendasar yang memerlukan klarifikasi lebih dahulu, agar memudahkan dalam usaha implementasinya dalam kehidupan nyata. Permasalahan tersebut adalah sebagai berik:

  1. Perlu difahami dan dibahas makna jatidiri, apakah jatidiri itu, apakah suatu bangsa memerlukan jatidiri untuk melestarikan eksistensinya. Apa kedudukan jatidiri bagi suatu bangsa. Bagaimana suatu bangsa yang tidak memiliki suatu jatidiri.
  2. Menyangkut persoalan bangsa, apakah pada era globalisasi ini masih pada tempatnya untuk membicarakan peran dan kedudukan bangsa dalam percaturan global yang berindikasi tak bermaknanya batas-batas antar negara. Ada pihak-pihak yang mengatakan bahwa dengan globalisasi ini berakhirlah peran dan kedudukan negara bangsa. Apakah bangsa Indonesia perlu tetap eksis dalam menghadapi era globalisasi ini.
  3. Menyangkut Pancasila itu sendiri. Benarkah Pancasila sebagai jatidiri bangsa Indonesia. Apakah Pancasila ini bukan hanya sekedar suatu rekayasa politik yang tidak memenuhi syarat sebagai suatu jatidiri. Prinsip dasar dan nilai dasar mana saja yang terdapat dalam Pancasila.
  4. Bagaimana implementasi Pancasila ini dalam kehidupan yang nyata. Kalau Pancasila memang merupakan jatidiri bangsa Indonesia, seharusnya telah ada dalam kehidupan yang nyata dalam masyarakat. Mengapa masih memerlukan sosialisasi.

APA ITU JATIDIRI?

Jatidiri terjemahan dari identity adalah suatu ciri yang menentukan suatu individu atau entitas, sedemikian rupa sehingga diakui sebagai suatu pribadi yang membedakan dengan individu atau entitas yang lain. Ciri yang menggambarkan suatu jatidiri bersifat unik, khas, yang mencerminkan pribadi individu atau entitas dimaksud. Jatidiri akan mempribadi dalam diri individu atau entitas yang akan selalu nampak dengan konsisten dalam sikap, tingkah laku dan perbuatan individu dalam menghadapi setiap permasalahan.

Dalam mengadakan reaksi terhadap suatu stimulus, individu tidak secara otomatis mengadakan respons terhadap stimulus tersebut, tetapi organisme atau individu yang bersangkutan memberikan warna bagaimana respons yang akan diambilnya. Setiap organisme memiliki corak yang berbeda dalam mengadakan respons terhadap stimulus yang sama. Hal ini disebabkan oleh uniknya jatidiri yang dimiliki setiap organisme, individu atau entitas, meskipun dapat saja respons ini disadari atau tidak.

Meskipun diakui dalam perjalanan hidupnya suatu individu dalam menghadapi permasalahan mengalami perkembangan dan perubahan dalam mengadakan reaksi terhadap suatu permasalahan yang berulang, tetapi pada hakikatnya selalu bersendi pada ciri dasar yang telah mempribadi, yang menjadi jatidiri individu dimaksud.

Adanya jatidiri pada  suatu individu, khususnya manusia, memang merupakan karunia Tuhan. Suatu bukti menunjukkan bahwa setiap manusia memiliki ciri khusus secara fisik dalam bentuk sidik jari, dan DNA . Demikian halnya dalam segi mental,  manusia juga memiliki ciri khusus yang membedakan manusia yang satu dengan manusia yang lain.

Di samping itu manusia juga dapat dibedakan dengan makhluk yang lain, yang manggambarkan jatidiri manusia. Berbagai predikat dilimpahkan pada manusia yang menggambarkan jatidiri manusia dalam hubungannya dengan makhluk yang lain. Predikat tersebut di antaranya : political animal, rational being, homo sapiens, homo economicus, homo socius, khalifah Tuhan di bumi, dan masih banyak lagi.

Dengan memiliki jatidiri dan menerapkannya secara konsisten, seseorang tidak akan mudah terombang-ambing oleh berbagai gejolak yang menerpanya. Ia memiliki keyakinan diri, harga diri, dan kepercayaan diri, sehingga tidak mudah tergiur oleh rayuan yang menyesatkan. Dari uraian tersebut jelas bahwa jatidiri sangat diperlukan bagi seseorang untuk mencapai sukses dalam membawakan dirinya.

Timbul suatu pertanyaan, apakah suatu bangsa, khususnya negara-bangsa memerlukan jatidiri. Untuk menjawab pertanyaan ini nampaknya perlu disepakati lebih dahulu apa yang dimaksud dengan negara-bangsa.

APA ITU BANGSA?

Konsep bangsa diduga baru lahir sekitar abad XVIII, mulai berkembang di Eropa, dan Amerika Utara, melebarkan sayapnya ke Amerika Latin dan Asia, kemudian ke Afrika. Sebelumnya telah terdapat masyarakat yang mungkin sangat maju dan sangat berkuasa, tetapi tidak mencerminkan adanya suatu bangsa. Pada waktu itu yang dikenal adalah faham keturunan yang kemudian menciptakan dinasti dan bangsa, yang berarti keluarga. Baru setelah terjadi revolusi Prancis pada akhir abad XVIII dan permulaan abad XIX mulailah orang memikirkan masalah bangsa.

Otto Bauer seorang legislator dan seorang teoretikus yang hidup pada permulaan abad XX  (1881-1934), dalam bukunya Die Nationalitatenfrage und die Sozialdemokratie (1907) menyebutkan, bangsa adalah: “Eine Nation ist eine aus Schikalgemeinschaft erwachsene Charactergemeinschaft.” Otto Bauer lebih menitik beratkan pengertian bangsa dari sudut karakter atau perangai yang dimiliki sekelompok manusia yang dijadikan jatidiri suatu bangsa. Karakter ini akan tercermin pada sikap dan perilaku warga-bangsa. Karakter ini menjadi ciri khas suatu bangsa yang membedakan dengan bangsa yang lain, yang terbentuk berdasar pengalaman sejarah budaya bangsa yang tumbuh dan berkembang bersama dengan tumbuh kembangnya bangsa.

Sebagai contoh dapat ditemukan di sini tradisi dan kultur negara-bangsa Amerika Serikat yang  dikemukakan oleh Jean J. Kirkpatrick, dalam bukunya Rationalism and Reason in Politics, yang dikutip oleh M. Syafaat Habib, menggambarkan jatidiri bangsa Amerika sebagai berikut:

  1. Selalu mengedepankan konsensus sebagai dasar legitimasi otoritas pemerintah.
  2. Berbuat realistik sebagai tolok ukur realisme yang mendorong adanya harapan besar apa yang dapat diselesaikan oleh politik.
  3. Mempergunakan belief reasoning dalam menata efektivitas rekayasa (engineering) kegiatan politik.
  4. Langkah dan keputusan yang deterministik dalam mencapai tujuan multi demensi dengan selalu melalui konstitusi.

Contoh lain tentang terbentuknya karakter bangsa sebagai akibat pengalaman sejarah,  adalah negara-negara Eropa kontinental bersifat rasionalistik, Inggris empirik,  Amerika scientific, India non-violencedengan satyagrahanya, dan Indonesia integralistik  dengan Pancasilanya.

Lain halnya dengan Ernest Renan seorang filsuf, sejarawan dan pemuka agama yang hidup antara tahun 1823 – 1892, yang menyatakan bahwa bangsa adalah sekelompok manusia yang memiliki kehendak untuk bersatu sehingga merasa dirinya satu, le desir d`etre ensemble. Dengan demikian faktor utama yang menimbulkan suatu bangsa adalah kehendak dari warga untuk membentuk bangsa.

Bangsa ini kemudian mengikatkan diri menjadi negara yang bersendi pada suatu idee.  Hegel menyebutnya bahwa negara adalah penjelmaan suatu idee, atau “een staat is de tot werkelijkheid geworden idee.”

Teori lain tentang timbulnya bangsa adalah didasarkan pada lokasi. Tuhan menciptakan dunia ini dalam bentuk wilayah-wilayah atau lokasi-lokasi yang membentuk suatu kesatuan yang merupakan entitas politik. Bila kita lihat peta dunia maka akan nampak dengan jelas adanya kesatuan-kesatuan wilayah seperti Inggris, Yunani, India, Korea, Jepang, Mesir, Filipina, Indonesia. Wilayah-wilayah tersebut dibatasi oleh samudera yang luas atau oleh gunung yang tinggi atau padang pasir yang luas sehingga memisahkan penduduk yang bertempat tinggal di wilayah tersebut dari wilayah yang lain, sehingga terbentuklah suatu kesatuan yang akhirnya terbentuklah suatu bangsa. Teori inilah yang biasa disebut sebagai teori geopolitik.

Istilah geopolitics yang merupakan singkatan dari geographical politicsdikenal sesudah terjadi Glorious Revolution Inggris, Revolusi Amerika dan Revolusi Perancis, yang merupakan titik awal kelahiran negara bangsa. Istilah ini diperkenalkan secara umum pada tahun 1900 oleh pemikir politik Swedia Rudolf Kjellen, yang dikutip oleh M. Syafaat Habib, yang menyebut tiga demensi geopolitk yakni:

  • Environmental, yaitu fisik geografis negara bangsa, dengan kekayaan alamnya dan segala limitasinya untuk tujuan pembangunan dan masa depan negara bangsa.
  • Spatial, yakni distribusi lokasi dengan faktor-faktor strategis bagi pertahanan negara bangsa, dan
  • Intellectual, yakni segala pemikiran dan konsep yang demokratis ideal bagi masa depan rakyatnya.

Menurut Ensiklopedi Nasional Indonesia, bahwa bangsa menurut hukum adalah rakyat atau orang-orang yang ada di dalam suatu masyarakat hukum yang terorganisir. Kelompok orang-orang yang membentuk suatu bangsa ini pada umumnya menempati  bagian atau wilayah tertentu, berbicara dalam bahasa yang sama, memiliki sejarah, kebiasaan, dan kebudayaan yang sama, serta terorganisir dalam suatu pemerintahan yang berdaulat. Pengertian bangsa semacam ini kemudian disebutnegara bangsa atau nation state yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

  1. Memiliki cita-cita bersama yang mengikat warganya menjadi satu kesatuan.
  2. Memiliki sejarah hidup bersama, sehingga tercipta rasa senasib sepenang gungan.
  3. Memiliki adat budaya, kebiasaan yang sama sebagai akibat pengalaman hidup bersama.
  4. Memiliki karakter atau perangai yang sama yang mempribadi dan menjadi jatidirinya.
  5. Menempati suatu wilayah tertentu yang merupakan kesatuan wilayah.
  6. Terorganisir dalam suatu pemerintahan yang berdaulat, sehingga warga bangsa ini terikat dalam suatu masyarakat hukum.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan arti dari bangsa adalah::

  1. Bahwa rakyat yang menempati ribuan kepulauan yang terbentang antara samudera India dan samudera Pasifik, dan di antara dua benua Asia dan Australia, memenuhi syarat bagi terbentuknya suatu negara-bangsa, yang bernama Indonesia. Hal ini juga telah dikukuhkan sebagai anggota Perserikatan Bangsa-Bangsa.

  2. Bahwa suatu negara-bangsa memiliki ciri khusus yang membedakan dengan negara-bangsa yang lain berupa karakter atau perangai yang dimilikinya, idee yang melandasinya, sehingga merupakan pribadi dari negara-bangsa tersebut. Secara fisik ciri khusus ini dilambangkan oleh bendera negara, lagu kebangsaan dan atribut lain yang mewakili negara.
  3. Bagi bangsa Indonesia ciri khusus ini di samping bendera Sang Saka Merah Putih, lagu kebangsaan Indonesia Raya, lambang negara Bhinneka Tunggal Ika, terdapat prinsip dasar dan nilai dasar yang dapat ditemukan pada Pembukaan UUD 1945, yang merupakan pribadi bangsa Indonesia.

JATIDIRI BANGSA INDONESIA

The founding fathers pada waktu merancang berdirinya negara Republik Indonesia membahas dasar negara yang akan didirikan. Ir. Soekarno mengusulkan agar dasar negara yang akan didirikan itu adalah Pancasila, yang merupakan prinsip dasar dan nilai dasar yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat Indonesia, yang mempribadi dalam masyarakat dan merupakan suatu living reality. Pancasila ini sekaligus merupakan jatidiri bangsa Indonesia.

Sejak berdirinya Negara Republik Indonesia, Pancasila selalu ditetapkan sebagai dasar negaranya, hal ini nampak dalam setiap Pembukaan atau Mukadimah setiap Undang-Undang Dasar yang berlaku di Indonesia, sehingga Pancasila sebagai jatidiri bangsa memiliki legitimasi atau keabsahan, karena merupakan kesepakatan bangsa.

Dasar Negara yang menjadi landasan statis bagi Negara-bangsa Indonesia berkembang menjadi panduan dan dasar dalam mencapai cita-cita bangsa dalam menjangkau masa depan yang lebih baik. Dasar Negara yang bersifat statis ini akhirnya menjadi ideologi nasional bangsa Indonesia, suatu landasan dinamis dalam membangun bangsanya. Akhirnya Pancasila sebagai dasar Negara dan sebagai ideologi nasional ini menyatu menjadi pegangan kejiwaan rakyat dalam menghadapi segala permasalahan kehidupan, maka berwujudlah pandangan hidup bangsa. Pancasila sebagai dasar Negara, ideologi nasional, dan pandangan hidup bangsa ini membentuk jatidiri bangsa Indonesia.

Dari uraian tersebut maka dapat ditarik kesimpulan bahwa jatidiri bangsa, adalah pandangan hidup yang berkembang dalam masyarakat yang menjadi kesepakatan bersama, berisi konsep, prinsip dan nilai dasar, yang diangkat menjadi dasar negara sebagai landasan statis, dan ideologi nasional, dan sebagai landasan dinamis bagi bangsa yang bersangkutan dalam menghadapi segala permasalahan menuju cita-citanya. Jatidiri bangsa Indonesia tiada lain adalah Pancasila yang bersifat khusus, otentik dan orisinal yang membedakan bangsa Indonesia dengan bangsa yang lain.

Namun dalam memasuki abad XXI perlu dipertanyakan, masih relevankah membahas Pancasila di era reformasi ini? Bukankah sejak bergulirnya reformasi orang enggan untuk berbicara Pancasila, bahkan TAP MPR No. II/MPR/1978 tentang P4 telah dicabut. Keengganan berbicara mengenai Pancasila mungkin disebabkan oleh berbagai alasan di antaranya:

  1. Dengan runtuhnya Uni Soviet yang berideologi komunis, orang meragukan manfaat ideologi bagi kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Orang beranggapan bahwa ideologi tidak mampu memberikan jaminan kesejahteraan bagi rakyat penganutnya. Ideologi sekadar dipandang sebagai pembenaran terhadap kebijakan yang diperjuangkan oleh para elit politik.

  2. Pancasila selama dua periode, yakni selama “Orde Lama” dan “Orde Baru” belum mampu mengantarkan rakyat Indonesia mencapai kehidupan yang sejahtera bahagia, bahkan setiap periode berakhir dengan kondisi yang memprihatinkan. Orde Lama berakhir dengan tragedi G-30-S/PKI, Orde Baru berakhir dengan kondisi kehidupan yang diwarnai oleh KKN. Timbul pertanyaan mengapa Pancasila yang mengandung prinsip-prinsip dan nilai-nilai yang baik dan benar, dalam prakteknya membawa berbagai bencana?
  3. Terjadinya fobia dalam masyarakat terhadap pengalaman masa lampau yang mengangkat Pancasila menjadi ideologi bangsa untuk kemudian disakralkan dan dijadikan tameng bagi para penguasa. Pancasila dipergunakan oleh penguasa untuk mempertahankan kemapanan dan status quo. Sebagai akibat terjadilah penyimpangan-penyimpangan tindakan pada para penguasa dalam menentukan kebijakannya yang tidak sesuai lagi dengan hakikat Pancasila itu sendiri.

Hal-hal tersebut di atas yang di antaranya menyebabkan orang enggan untuk membicarakan ideologi, termasuk ideologi Pancasila. Sebagian orang beranggapan bahwa yang penting, pada dewasa ini, adalah bagaimana membawa rakyat dan bangsa Indonesia mencapai kesejahteraan lahir dan batin. Yang diperlukan adalah langkah nyata untuk mencapai maksud tersebut. Nampaknya mereka lupa, bahwa sikap semacam itu berdasar pada suatu ideologi tertentu juga.

Namun dewasa ini orang mulai memasalahkan Pancasila lagi, karena dengan berlangsungnya reformasi yang dilanda oleh berbagai faham atau ideologi seperti demokrasi yang bersendi pada faham kebebasan yang individualistik, dan hak asasi manusia universal, justru mengantar rakyat Indonesia kepada disintegrasi bangsa dan dekadensi moral. Orang mulai menilai lagi bahwa kejatuhan dari orde terdahulu bukan karena orde tersebut menetapkan Pancasila sebagai dasar bagi kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, tetapi karena orde tersebut menyalah-gunakan Pancasila sebagai alat untuk mempertahankan hegemoninya, dan Pancasila tidak dilaksanakan secara konsisten dan konsekuen.

Analisis berbagai pihak juga berkesimpulan, apabila penyelenggaraan pemerintahan tidak melaksanakan Pancasila secara konsisten – murni dan konsekuen – maka akan mengalami kegagalan. Hal ini terbukti dari pengalaman sejarah baik selama Orde Lama maupun selama Orde Baru. Tiada mustahil bahwa Orde Reformasi, apabila tidak melaksanakan Pancasila secara konsisten dalam menyelenggarakan kekuasannya akan mengulang lagi kekeliruan orde sebelumnya, yang akan berakhir dengan kejatuhan ordenya. Oleh karena itu orang mulai bertanya-tanya bagaimana Pancasila dapat dengan tepat dan benar melandasi dan bagaimana penerapannya bagi kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

SIMPULAN

Jatidiri bangsa dapat saja luntur oleh guyuran gagasan yang datang dari luar baik dengan sengaja atau tidak. Oleh karena itu perlu adanya usaha terus menerus untuk mempertahankan jatidiri bangsa. Tuhan mengaruniai manusia dengan berbagai potensi untuk dapat dimanfaatkan secara optimal sehingga selalu tercipta keseimbangan dalam menghadapi berbagai gejolak Manusia selalu menghadapi perubahan yang tidak mungkin dihindarinya. Dengan potensi fisik dan psikisnya yang berupa kemampuan rasional, emosional dan spiritual, manusia mampu membawa diri sesuai dengan jatidirinya dengan mengadakan adaptasi terhadap perubahan tersebut.

Untuk merealisasikan pikiran tersebut hanya dengan jalan mengimplementasikan Pancasila secara nyata dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Hanya dengan cara ini, maka Pancasila sebagai jatidiri bangsa akan tetap kokoh dan lestari, yang sekaligus berarti tetap tegaknya integritas bangsa Indonesia yang sejahtera dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Referensi:

zp8497586rq

APPROACHES, METHODS AND TEACHNIQUES ON ENGLISH AS SECOND LANGUAGE TEACHING STRATEGY Witten By: SUDARMAN

by

ABSTRACT

There are, at least, three terms on teaching strategy; approaches, methods and techniques. They determine how the language is taught to the learners. They can be technical tools to assist the teacher to reach their goal of their teaching learning activities based on the Basic Outline Coarse of the lesson. In sense of language teaching learning as foreign language, approaches, methods and techniques cannot be an outer part of the activity. Approach is defines as how the language is viewed; structural achievement or communicative purpose. Meanwhile, method is supposed to be a set of philosophy view of how language is taught. It considers the philosophy and linguistic view why a particular action by students is conducted. In another words, method is a practical realizations of an approach(Jeremy Harmer, 2007:62). The latest, technique, is the operational steps of doing particular activities.

 In case of the issue of the teaching learning strategy , all terms have significantly established due to the challenge of the science and technology. Language was used to be considered to be a tool of understanding literature works; it implied on the way the English teacher conducted the activities in the class by focusing more on how the students acquired sets of language formulas to comprehend texts in target language.

By the last 90th, some language practical realized that language was not merely aimed as the tool of understanding literature works any more, it was aimed as the tool of integrated communication instead. The paradigm of teaching learning should, undeniably, be changed. The focus of teaching is not on reading and structure but how the students use the language to communicate comprehensively, actively and passively.

The terms seem to be similar for common sense, but it is extremely different in term of pedagogy sense. Therefore, the terms should be clearly distinguished and comprehended.

((..UNTUK MENDAPATKAN INFO LEBIH LANJUT bisa didapat via emal (kirimkan emal anda)……………………

writing services online

765qwerty765
Komentar Dinonaktifkan pada APPROACHES, METHODS AND TEACHNIQUES ON ENGLISH AS SECOND LANGUAGE TEACHING STRATEGY Witten By: SUDARMAN

KTSP VS UJIAN NASIONAL Oleh: Haerudin

by

ABSTRAK

                Pendidikan merupakan modal dasar pembangunan. Pendidikan akan menghasilkan lulusan yang baik sesuai kebutuhan manakala dikelola dengan cara yang bijak. Peran serta Perguruan Tinggi, LPMP, Pemerintah sangat menentukan keberhasilan pendidikan di negeri ini. Selain itu adanya guru yang profesional, terlindungi dan sejahtera serta kurikulum yang tepat sangat memungkinkan akan tercapainya keberhasilan dalam penyelenggaraan pendidikan di Indonesia.

Masalah yang kita hadapi dalam dunia pendidikan kita adalah masih adanya mismacth antara Kurikulum yang disusun oleh satuan pendidikan (KTSP) dengan diadakannya Ujian Nasional yang tiap tahun selalu mentargetkan nilai tertentu yang dijadikan standar kululusan. Untuk mengatasi kesenjangan tersebut, pemerintah telah memberikan kebijakan penghitungan kelulusan disertakan juga nilai rata-rata rapot dan rata-rata ujian sekolah, tetapi menurut hemat penulis itu bukan merupakan solusi yang tepat, karena tetap saja Ujian Nasional yang menjadi standar kelulusan.

Alangkah bijaknya apabila Ujian Nasional hanya merupakan tolak ukur (pengontrol mutu) untuk mengontrol keberhasilan penyelenggaraan pendidikan di Indonesia. Mengenai lulus atau tidaknya siswa semestinya diserahkan kepada satuan pendidikan masing-masing (sekolah).

A.  Pendahuluan

 Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Tujuan tertentu ini meliputi tujuan pendidikan nasional serta kesesuaian  dengan kekhasan, kondisi dan potensi daerah, satuan pendidikan dan peserta didik. Oleh sebab itu kurikulum disusun oleh satuan pendidikan untuk memungkinkan penyesuaian program pendidikan dengan kebutuhan dan potensi yang ada di daerah.

Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang beragam mengacu pada standar nasional pendidikan untuk menjamin pencapaian tujuan pendidikan nasional. Standar nasional pendidikan terdiri atas standar isi, proses, kompetensi lulusan, tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, pengelolaan, pembiayaan dan penilaian pendidikan. Dua dari kedelapan standar nasional pendidikan tersebut, yaitu Standar Isi (SI) dan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) merupakan acuan utama bagi satuan pendidikan dalam mengembangkan kurikulum.

Panduan pengembangan kurikulum disusun antara lain agar dapat memberi kesempatan peserta didik untuk :

a)     belajar untuk beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa,

b)     belajar untuk memahami dan menghayati,

c)     belajar untuk mampu melaksanakan dan berbuat secara efektif,

d)     belajar untuk hidup bersama dan berguna untuk orang lain, dan

e)     belajar untuk membangun dan menemukan jati diri melalui proses belajar yang aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan.

KTSP adalah kurikulum operasional yang disusun oleh dan dilaksanakan di masing-masing satuan pendidikan. KTSP terdiri dari tujuan pendidikan tingkat satuan pendidikan, struktur dan muatan kurikulum tingkat satuan pendidikan, kalender pendidikan, dan silabus.

Silabus adalah rencana pembelajaran pada suatu dan/atau kelompok mata pelajaran/tema tertentu yang mencakup standar kompetensi , kompetensi dasar, materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator, penilaian, alokasi waktu, dan sumber/bahan/alat belajar. Silabus merupakan penjabaran standar kompetensi dan kompetensi dasar ke dalam materi pokok/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi untuk penilaian.

 

BPrinsip-Prinsip Pengembangan

      KurikulumTingkat Satuan Pendidikan

 KTSP dikembangkan sesuai dengan relevansinya oleh setiap kelompok atau satuan pendidikan di bawah koordinasi dan supervisi dinas pendidikan atau kantor Departemen Agama Kabupaten/Kota untuk pendidikan dasar dan provinsi untuk pendidikan menengah. Pengembangan KTSP mengacu pada SI dan SKL dan berpedoman pada panduan penyusunan kurikulum yang disusun oleh BSNP, serta memperhatikan pertimbangan komite sekolah/madrasah. Penyusunan KTSP untuk pendidikan khusus dikoordinasi dan disupervisi oleh dinas pendidikan provinsi, dan berpedoman pada SI dan SKL serta panduan penyusunan kurikulum yang disusun oleh BSNP. KTSP dikembangkan berdasarkan prinsip-prinsip sebagai berikut:

1.       Berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik dan lingkungannya.

Kurikulum dikembangkan berdasarkan prinsip bahwa peserta didik memiliki posisi sentral untuk mengembangkan kompetensinya agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Untuk mendukung pencapaian tujuan tersebut pengembangan kompetensi peserta didik disesuaikan dengan potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik serta tuntutan lingkungan. Memiliki posisi sentral berarti kegiatan pembelajaran berpusat pada peserta didik.

2.       Beragam dan terpadu

Kurikulum dikembangkan dengan memperhatikan keragaman karakteristik peserta didik, kondisi daerah, jenjang dan jenis pendidikan, serta menghargai dan tidak diskriminatif terhadap perbedaan agama, suku, budaya, adat istiadat, status sosial ekonomi, dan jender. Kurikulum meliputi substansi komponen muatan wajib kurikulum, muatan lokal, dan pengembangan diri secara terpadu, serta disusun dalam keterkaitan dan kesinambungan yang bermakna dan tepat antarsubstansi. 

3.       Tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni

Kurikulum dikembangkan atas dasar kesadaran bahwa ilmu pengetahuan, teknologi dan seni yang berkembang secara dinamis. Oleh karena itu, semangat dan isi kurikulum memberikan pengalaman belajar peserta didik untuk mengikuti dan memanfaatkan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni.

4.       Relevan dengan kebutuhan kehidupan

Pengembangan kurikulum dilakukan dengan   melibatkan pemangku kepentingan (stakeholders) untuk menjamin relevansi pendidikan dengan kebutuhan kehidupan, termasuk di dalamnya kehidupan  kemasyarakatan, dunia usaha dan  dunia kerja. Oleh karena itu, pengembangan keterampilan pribadi,  keterampilan  berpikir, keterampilan sosial, keterampilan akademik, dan keterampilan vokasional merupakan keniscayaan.

5.       Menyeluruh dan berkesinambungan

Substansi kurikulum mencakup keseluruhan dimensi kompetensi,   bidang kajian keilmuan dan mata pelajaran yang direncanakan dan disajikan secara berkesinambungan antarsemua jenjang pendidikan.

6.       Belajar sepanjang hayat

Kurikulum diarahkan kepada proses pengembangan, pembudayaan, dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat. Kurikulum mencerminkan keterkaitan antara unsur-unsur pendidikan formal, nonformal, dan informal  dengan memperhatikan kondisi dan tuntutan lingkungan yang selalu berkembang serta arah pengembangan manusia seutuhnya.

7.       Seimbang antara kepentingan nasional dan kepentingan daerah

Kurikulum dikembangkan dengan memperhatikan kepentingan nasional dan kepentingan daerah untuk membangun kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Kepentingan nasional dan kepentingan daerah harus saling mengisi dan memberdayakan sejalan dengan motto Bhineka Tunggal Ika dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Dalam muatan KTSP tercantum ketuntasan belajar yang berbunyi:

Ketuntasan belajar setiap indikator yang telah ditetapkan dalam suatu kompetensi dasar berkisar antara 0-100%. Kriteria ideal ketuntasan untuk masing-masing indikator 75%. Satuan pendidikan harus menentukan kriteria ketuntasan minimal dengan mempertimbangkan tingkat kemampuan rata-rata peserta didik serta kemampuan sumber daya pendukung dalam penyelenggaraan pembelajaran. Satuan pendidikan diharapkan meningkatkan kriteria ketuntasan belajar secara terus menerus untuk mencapai kriteria ketuntasan ideal.

Kalau kita kaji kalimat tersebut di atas, bahwa nilai yang akan diperoleh oleh siswa di masing-masing sekolah akan sangat beragam yang tentunya dengan mempertimbangkan:

  1. Intak siswa,
  2. Keluasan materi
  3. Sumber belajar/Sarana dan prasarana pendukung pembelajaran.

Dengan memperhatikan tiga hal tersebut di atas, maka lahirlah KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) untuk setiap mata pelajaran.               Dari  penjabaran di atas terjadi kepincangan  atau pertentangan antara  kebebasan yang diberikan kepada sekolah untuk menentukan KKM masing-masing mata pelajaran di satu pihak,  sementara pemerintak sendiri mematok standar kelulusan untuk mata pelajaran yang di UN-kan   rata-rata 5.50. Hal ini menimbulkan dilema bagi  siswa, guru, sekolah dan intansi terkait. Sebagai contoh  sebuah sekolah  menentukan KKM untuk mata pelajaran B. Inggris  4.50, Matematika, 4.00, IPA 4.50, B. Indonesia 6.00, dst.


 Permasalahan

CONTOH PERHITUNGAN KELULUSAN SISWA

Rata2 Nilai Raport X 40% + US x60% = N X 40%= N X 60% NILAI UN = L/TL

Nama : Ahmadinejap
Asal Sekolah: SMP Bojong Rahul

Bidang Studi

Rapor

Pengali

Jml

US

Pengali

Jml

Jml Rapt & US

Pengali

Jml

UN

Pengali

Jml

Hasil Akhir

PAI

7.00

40%

2.80

6.70

60%

4.02

6.82

0

PKN

8.00

40%

3.20

8.80

60%

5.28

8.48

0

BIN

7.50

40%

3.00

7.80

60%

4.68

7.68

40%

3.07

5

60%

3.00

6.07

BING

6.50

40%

2.60

8.80

60%

5.28

7.88

40%

3.15

3.5

60%

2.10

5.25

MATEM

6.00

40%

2.40

7.70

60%

4.62

7.02

40%

2.80

2.5

60%

1.50

4.31

IPA

6.00

40%

2.40

7.60

60%

4.56

6.96

40%

2.78

3

60%

1.80

4.58

IPS

8.80

40%

3.52

8.00

60%

4.80

8.32

0.00

SEBUD

7.70

40%

3.08

8.80

60%

5.28

8.36

0

PENJAS

8.90

40%

3.56

8.00

60%

4.80

8.36

0.00

TIK

7.90

40%

3.16

8.80

60%

5.28

8.44

0

B.SUN

7.80

40%

3.12

9.90

60%

5.94

9.06

0

BTA

7.60

40%

3.04

7.90

60%

4.74

7.78

0

Jumlah

20.22

Rata-rata

3.6

Kalau kita perhatikan Tabel di atas , dari mata pelajaran yangdi UN-kan terlihat jelas bahwa  anak tersebut  tidak lulus karena hanya mendapatkan rata-rata nilai Ujian Nasional 3,68.

Hal inilah yang membuat para guru dan mungkin juga kepala sekolah merasa was-was atas kelulusan siswa didiknya. Alangkah bijaksananya apabila pemerintah merevisi kembali aturan kelulusan bagi siswa untuk dikembalikan kepada satuan pendidikan (sekolah) dan Ujian Nasional hanya dijadikan tolak ukur  kualitas untuk mengukur keberhasilan pendidikan di Indonesia, yang kemudian dilakukan evaluasi dimana letak kelemahan penyelenggaraan pendidikan di Indonesia. Apakah dalam input pendidikan (siswa), apakah semua peserta didik kita sudah memiliki kemampuan awal yang diperlukan untuk menempuh tingkat pendidikan di atasnya, sudah memiliki tingkat kesehatan dan gizi yang baik untuk mendukung proses pendidikannya, memiliki kemauan dan daya juang yang cukup untuk mendukung proses pendidikan, apakah sarana prasarana, pembiayaan. Daya dukung orang tua dan masyarakat yang sangat mempengaruhi keberhasilan proses pendidikan   atau factor guru sebagai ujung tombak dalam penyelenggaraan pembelajaran. Sudah sejahterakah guru, sudah amankah guru dalam melaksanakan tugas  proses belajar mengajar dll. Semua perlu dipertimbangkan secara holistik  menyeluruh karena keberhasilan proses pendidikan dipengaruhi oleh  komponen-komponen pendidikan yang satu sama lain saling mendukung dan menunjang yang jika salah satu unsur tersebut tidak terpenuhi keberhasilan proses pendidikan akan menjadi sebuah keniscayaan. Demikian juga peran stakeholder sangat mendukung atas keberhasilannya sebuah pendidikan di negeri ini.

Kalau kelemahan ada pada tataran sarana dan prasarana, sudah tentu pada ranah ini tugas pemerintahlah baik pusat ataupun daerah untuk melengkapinya. Bila kekurangan ada pada standar pembiayaan, maka dana penyelenggaraan harus lebih ditingkatkan lagi. Apabila kelemahan ada pada guru, maka disini peran LPMP, perguruan tinggi penyelenggara pendidikan keguruan harus memberikan pelatihan bagi guru untuk meningkatkan kompetensi pada bidang tugasnya masing-masing.

Suhary dalam Kabar Banten, Selasa, 19 April 2011 menyatakan “bahwa UN sebaiknya diubah dengan nama EBTANAS seperti yang dilakukan oleh pemerintah sebelumnya. Setiap kelulusan UN/US dan rata-rata nilai rapor, tidak menjadi jaminan  bahwa siswa/siswi yang lulus dapat dijamin masuk PTN. Bahwa di Negara maju seperti Australia tidak ada ujian nasional, yang ada ujian-ujian di sekolah-sekolah.”

Selanjutnya Suhari menyatakan, menurutnya ada beberapa kelemahan dalam Ujian Nasional tahun 2011 ini, yaitu: pertama, distribusi soal belum merata dan sama. Kedua, belum meratanya kualitas pendidikan. Ketiga, UN 2011 masih saja menjadi momok menakutkan, mimpi buruk bagi siswa dan menjadikan efek psikis yang cukup luar biasa bagi siswa.

 

D. Penutup

 Ujian Nasional tetap diadakan hanya saja pelaksanaannya tidak ditargetkan bahwa siswa harus lulus dengan nilai tertentu. Ujian Nasional hanya dijadikan bahan evaluasi pemerintah dan tolak ukur keberhasilan pendidikan di Indonesia, sehingga ujungnya mutu pendidikan akan semakin terlihat.

Masalah kelulusan siswa diserahkan kepada sekolah yang bersangkutan, karena guru (sekolah) yang paling tahu kualitas siswanya. Kalau pemerintah menganggap mutu lulusan belum berkualitas, sebaiknya dievaluasi secara keseluruhan; guru, sarana prasarana, anggaran pendidikan (biaya)-gaji gurunya-, dan tentunya hal-hal lain yang menunjang terhadap keberhasilan dunia pendidikan di Indonesia.

 

 

Sumber Rujukan:

Panduan Penyusunan KTSP 2006

  1. POS Ujian Nasional 2011
  2. Kabar Banten 19 April 2011