PEMBELAJARAN PUISI DENGAN MENGGUNAAN METODE DEMONSTRASI (Survey Pada Siswa Kelas VIII SMP Wilayah Bina 1 Kabupaten Lebak Tentang Minat Terhadap Apresiasi Puisi) Oleh Mohamad Soleh

by

ABSTRAKS

Kata Kunci: Meningkatakan Apresiasi puisi menggunakan metode demonstrasi.

 Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh data tentang: keefektifan pembelajaran puisi dengan menggunakan metode  demonstrasi di kelas VIII SMP Wilayah Bina 1 SMP Kabupaten Lebak. Metode demonstrasi merupakan metode yang dinilai paling efektif untuk penyampaian materi apresiasi puisi khususnya berkaitan dengan cara-cara membaca puisi yang baik dan benar. Metode demonstrasi ini adalah metode atau teknik pengajaran puisi yang dilakukan dengan cara guru  memberikan contoh membaca puisi yang baik dan benar, dengan memperlihatkan penjiwaan, ekspresi, keatraktifan dalam membaca puisi, sehingga pusi tersebut seolah-olah hidup saat dibaca. Kesempurnaan sebuah puisi dapat terlihat ketika seseorang mampu membacanya dengan baik, sehingga pendengar puisi akan merasakan kenikmatan dan kepuasan saat puisi tersebut di baca.

Tujuan penelitian ini adalah melihat dampak dari penggunaan metode demonstrasi terhadap keefektifan pembelajaran dan peningkatan minat serta pengembangan bakat apresiasi puisi pada siswa SMP.

Kurangnya minat terhadap pembelajaran sastra khususnya puisi, antara lain disebabkan oleh pembelajaran sastra yang kurang menarik. Berbagai faktor mempengaruhi di dalamnya, baik faktor dari segi guru maupun dari siswa sendiri. Keterlibatan berbagai unsur penting yang saling terkait di antaranya unsur guru, kurikulum, metode, pengajaran, sarana dan prasarana, akan sangat mendukung terciptanya keefektifan dalam tercapainya tujuan pendidikan.

Dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode survey karena penulis ingin mengungkapkan masalah yang aktual, yaitu tentang pembelajaran puisi dengan menggunakan metode demonstrasi, juga untuk mengukur keefektifan pembelajaran puisi..

            Hasil penelitian yang penulis lakukan di kelas VIII SMP Wilayah Bina 1 Kabupaten Lebak  memeberikan gambaran bahwa minat siswa terhadap apresiasi puisi dipengaruhi oleh ketepatan pemilihan metode guru pada waktu  pembelajaran puisi. Apabila pembelajaran guru memberikan contoh semaksimal mungkin dalam membaca puisi yang baik dan penuh keatraktifan, yang  akan menjadi pedoman bagi siswa untuk meniru cara-cara membaca puisi yang benar, sehingga  siswa memperoleh gambaran bagaimana  cara membaca  puisi yang baik.

A.    Pendahuluan

Puisi merupakan ragam karya sastra yang tercipta melalui bentuk tulisan, dirangkai seindah mungkin dengan menuangkan kata-kata puitis dan pemilihan kata konotasi yang memiliki nilai rasa tinggi, baik dari segi estetis maupun makna etika bahasa. Kesempurnaan sebuah puisi akan tercipta manakala dibacakan dengan penuh penjiwaan, ekspresi dari wajah si pembaca yang benar-benar imajinatif, mampu menggetarkan rasa pada diri penonton, sehingga puisi tidak sekadar dibaca dengan  cara yang menoton dan membuat jenuh suasana. Bentuk-bentuk apresiasi terhadap puisi merupakan wadah untuk   memberikan suatu penghargaan terhadap karya sastra, seperti pementasan puisi, perlombaan-perlombaan membaca puisi, penobatan-penobatan terhadap penyair, akan memberikan kebanggaan yang mendalam.

Karya sastra dianggap mampu membuka pintu hati pembacanya untuk menjadi manusia berbudaya, yakni manusia yang responsif terhadap lingkungan komunitasnya dan berusaha menghindari perilaku negatif yang bisa menodai citra keharmonisan hidup.   Hal ini bisa terwujud manakala seseorang memiliki tingkat apresiasi sastra yang cukup, khususnya di bidang apresiasi puisi. Artinya ia mampu menangkap pernak-pernik makna yang tersirat dalam karya puisi dan sanggup menikmati menu estetika kata yang terhidang di dalamnya.

Puisi adalah bagian dari karya sastra yang wajib diperkenalkan atau disampaikan kepada siswa, karena materi tersebut tercantum  di dalam kurikulum sekolah. Dunia sekolah merupakan  dunia yang tepat untuk mensosialisasikan puisi kepada siswa.

Keberadaan pembelajaran puisi di sekolah harus diakui masih sangat minim dan kurang atraktif. Kenyataan yang sering ditemui adalah, siswa dalam membaca puisi masih terasa dangkal, tidak ada penjiwaan. Di sisi lain lemahnya pembelajaran puisi, karena peran guru yang kurang maksimal dalam  mendemonstrasikan membaca puisi yang benar. Penulis mengamati beberapa kemungkinan masalah yang timbul dalam pengajaran puisi adalah :

  1. Kurang adanya minat siswa terhadap puisi
  2. Tidak diberikan kesempatan melihat ataupun ikut perlombaan mencipta dan     membaca  puisi.
  3. Guru yang kurang pandai dalam mendemonstrasikan pembacaan puisi yang       menarik.

Kemampuan mengapresiasi puisi di kalangan siswa kurang mendapat perhatian baik dari guru bahasa indonesia maupun guru bidang studi lainnya yang mendukung. Metode yang tepat dalam pelaksanaan pengajaran harus terus diasah dan dikembangkan, agar  pengajaran puisi tidak mengalami kegagalan, bahkan harus dijadikan sebagai wadah untuk mengembangkan bakat siswa.

Pengajaran puisi adalah suatu proses pemberian materi dalam bentuk sebuah rangkaian tulisan yang memiliki makna konotatif, berbentuk  simbol-simbol kata, serta diakhiri dengan cara-cara mengapresiasi dan pengekspresian puisi dengan baik. Tujuan pengajaran puisi diberikan, dengan harapan siswa mampu menciptakan  karya puisi yang memiliki  bahasa puitis, dan  nilai-nilai estetis tinggi, sehingga dapat menyentuh rasa para penikmat puisi. Di samping itu, tujuan pengajaran puisi adalah agar siswa dapat membacakan puisi dengan penuh ekspresif, imajinatif dan memberikan daya tarik yang kuat bagi penonton  sehingga puisi tidak lagi dibacakan dengan cara monoton.

Penulis mengadakan wawancara dengan guru Bahasa Indonesia, berkaitan dengan proses belajar mengajar khususnya pelajaran apresiasi puisi. Metode yang digunakan dalam penyampaian materi apresiasi puisi di antaranya memang juga menggunakan metode demonstrasi di samping divariasikan dengan metode ceramah sebagai alat penyampai informasi, dan diskusi untuk mengulas materi apresiasi puisi secara berkelompok. Penggunaan metode demonstrasi menurut salah satu guru SMP di Wilayah Bina 1 Kabupaten Lebak  memang dinilai efektif sebagai media penyampain materi puisi, tetapi hasilnya belum menunjukkan persentase yang memuaskan. Apabila dilihat dari segi pendidik, guru bahasa indonesia SMP  Wilayah Bina 1 Kabupaten Lebak  di pandang cukup kompeten dalam penyampaian materi puisi. Hanya saja guru  dalam memberikan contoh membacakan puisi, kurang adanya fantasi saat membaca puisi.

  Pada penelitian ini penulis mencoba melakukan jajak pendapat terhadap siswa  di lima sekolah Wilayah Bina 1 SMP Kabupaten  Lebak  tentang bagaimana keefektifan  metode demonstrasi dalam pengajaran puisi sebagai upaya meningkatkan kemampuan mengapresiasi puisi.

B.    Kajian Teori

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia(1997) dituangkan bahwa metode adalah cara yang teratur untuk melaksanakan suatu pekerjaan agar tercapai sesuai dengan yang dikehendaki, cara kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai tujuan yang ditentukan.

Metode demonstrasi menurut Djamarah dan Zain adalah cara penyajian bahan pelajaran dengan memeragakan atau mempertunjukkan kepada siswa suatu proses,  situasi, atau benda tertentu yang sedang dipelajari, baik sebenarnya maupun tiruan. (2003 : 102)

Dari ungkapan tersebut penulis menyimpulkan bahwa metode demonstrasi adalah suatu proses memberikan contoh kepada siswa berkaitan dengan materi yang akan disampaikan  agar  siswa dapat meniru, memeragakan ulang segala sesuatu yang berkaitan dengan materi yang akan disampaikan kepada siswa, melalui cara kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaan kegiatan guna mencapai tujuan yang diinginkan.

Pengertian pengajaran dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia yaitu : 1. proses, cara, perbuatan mengajar atau mengajarkan; 2. perihal mengajar; segala sesuatu mengenai mengajar; 3. peringatan (pengalaman, peristiwa yang dialami atau dilihatnya).  Suatu kegiatan yang bernilai edukatif mewarnai interaksi yang terjadi antara guru dengan anak didik. Kegiatan belajar mengajar merupakan interaksi yang bernilai edukatif dikarenakan kegiatan belajar mengajar yang dilakukan, diarahkan untuk mencapai tujuan yang telah dirumuskan, demikian  pendapat yang disampaikan oleh  Djamarah. Kesimpulan yang dapat penulis sampaikan bahwa pengajaran adalah suatu proses kegiatan pembelajaran formal dengan acuan kurikulum sebagai pedoman dalam pencapaian tujuan pendidikan Nasional.

Definisi apresiasi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia(1997)  adalah kesadaran terhadap nilai seni dan budaya.

Aminuddin(1987)  mengungkapkan kembali bahwa definisi apresiasi sastra secara langsung adalah kegiatan mengapresiasi sastra pada performansinya, misalnya saat Anda melihat, mengenal, memahami, menikmati ataupun memberikan penilaian pada kegiatan membaca puisi, cerpen, pementasan drama, baik di radio, televisi maupun di panggung terbuka. Efffendi mengungkapkan bahwa apresiasi sastra adalah perwujudan pengalaman-pengalaman sastrawan atau pujangga yang diungkapkan dengan jujur, terus terang, sungguh-sungguh, dan penuh imajinasi (daya bayang) dengan bahasa yang khas pula. Pemahaman yang dapat disimpulkan yaitu apresiasi khususnya di bidang puisi adalah cara menikmati dan memahami kajian-kajian dalam pernak-pernik puisi yang disampaikan oleh penyair sekaligus memberikan penghargaan terhadap puisi dengan cara pembacaan yang atraktif sehingga kesempurnaan puisi nyata dinikmati oleh penikmat puisi.

Sastra menurut Fanamie adalah karya fiksi yang merupakan hasil kreasi berdasarkan luapan emosi yang spontan yang mampu mengungkapkan aspek estetik baik yang didasarkan aspek kebahasaan maupun aspek makna.

Puisi adalah ragam sastra yang bahasanya terikat oleh irama, matra, rima, serta penyusunan lirik dan bait,  demikian definisi puisi  yang terdapat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia.

Puisi itu sendiri menurut Ahmad Syubhanuddin(2005) adalah hasil proses kreatif penyair melalui penjelajahan empiris (unsur pengalaman), estetis (unsur keindahan), dan analistis (unsur pengamatan).

 C.    Metode dan Teknik Penelitian

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Metode Survay. Metode tersebut dalam penelitian menjadi tolok ukur untuk mengetahui minat siswa terhadap puisi sebagai dampak dari  keefektifan pengajaran puisi dengan menggunakan metode demonstrasi yang dilakukan guru.

Dalam mengumpulkan data penelitian, penulis memberikan angket kuisioner mengenai proses pembelajaran sastra, khususnya puisi dan pengalaman siswa terhadap proses pembelajara tersebut, hasilnya diolah dalam bentuk persentase  untuk memperoleh kesimpulan akhir.

 D.    Populasi Dan Sampel Penelitian

Populasi penelitian ini adalah  siswa kelas VIII  SMP Wilayah Bina 1 Kabupaten Lebak yang berjumlah 12 SMP, namun yang dijadikan populasi sebanyak  lima sekolah, yakni siswa SMPN 1,  SMPN 2 dan SMPN 3 Cibadak, SMPN 1 dan SMPN 4 Rngkasbitung di wilayah Bina 1 Kabupaten Lebak. Sedangka sampel diambil sebanyak 44 siswa dari populasi sasaran  secara acak.    Keempat puluh empat siswa tersebut adalah yang dijadikan  responden sebagai sumber data primer penelitian. Pengambilan sampel didasarkan kepada tingkat variatif siswa dengan karakteristik yang mengacu pada prestasi siswa di kelasnya.

 E.    Deskripis Data dan Analisis

Pengisian angket yang di berikan kepada siswa, bertujuan untuk menjaring dan mengetahui minat serta bakat siswa terhadap apreasi puisi. Di bawah ini adalah hasil angket apreasi puisi kelas VIII  SMP Wilayah Bina 1 Kabupaten Lebak.

Penulis perlu mengetahui seberapa besar siswa memiliki minat terhadap pengajaran puisi. Berbagai faktor dan kendala yang dihadapi, baik oleh pengajar maupun siswa, berpengaruh besar terhadap siswa dalam menumbuhkan minat untuk menyenangi puisi. Memang bukan suatu hal yang mudah unutk dipaksakan kepada siswa agar menyenangi pelajaran puisi. Apabila siswa tidak memiliki bakat yang kuat, minimal siswa bisa mengaplikasikan teori – teori mem,baca puisi dalamkonteks pelaksanaanya secara benar.

Penulis membagi dua kelompok pertanyaan untuk mengetahui mengenai kegiatan pembelajaran puisi :

  1. Pertanyaan yang berkaitan dengan pengalaman siswa dalam pembelajaran puisi.
  2. Pertanyaan mengenai minat siswa terhadap pengajaran apreasi puisi .

Setelah memberikan beberapa pertanyaan yang berkaitan dengan pengajaran apresiasi puisi, sedikitnya penulis dapat memperoleh gambaran tentang minat siswa terhadap apresiasi puisi

Beberapa Informasi mengenai pengajaran apresiasi puisi dan  minat siswa yang penulis peroleh yaitu di antaranya:

 1.     Analisis Pengajaran Apresiasi Puisi

1)     Pertanyaan yang penulis ajukan adalah: Pernakah kamu mendapat Pengajaran Apresiasi Puisi?

      Seluruh responden yang berjumlah 44 orang menjawab Pernah. Ini  menunjukan bahwa siswa kelas VIII SMP  Wilayah Bina 1 Kabupaten Lebak semua pernah mendapatkan pengajaran apresiasi puisi. Puisi memang merupakan mata pelajaran yang tercantum pada kurikulum. Dengan demikian, mata pelajaran sastra, khususnya puisi, wajib disampaikan kepada anak didik.

2)     Pertanyaan yang berikut adalah : Jenis puisi apakah yang sering diajarkan oleh gurumu?

      Dari Jumlah siswa sebanyak 44 orang, 56,8% atau 25 siswa menjawab puisi konvensioanal, sementara 47,5% atau 19 responden menjawab puisi jenis kontemporer.

3)     Pertanyaan ketiga : Metode apa yang digunakan guru dalam menyampaikan pengajaran puisi?

Jawaban yang menyatakan ceramah, 50% atau 22 responden, yang menyatakan diskusi sebanyak 30% atau 13 responden,dan yang menyatakan jawaban lain-lain adalah 20% atau 9 siswa.

4)     Penulis memberikan pertanyaan : Menyenangkankah gurumu dalam memberikan pelajaran puisi?

Responden yang menyatakan menyenangkan berjumlah 34,1% atau 15 siswa, yang menyatakan membosankan sebesar 45,% atau 20 responden, sedangkan yang menyatakan tidak menyenangkan adalah sebesar 20,5% atau sebanyaka 9 siswa.

5)     Apakah gurumu selalu memberikan contoh cara membaca puisi yang baik? 45,5% atau sebanyak 20 siswa memnjawab pernah, 06,8% atau 3 siswa menjawab tidak pernah, 47,7% atau sebanyak 21 siswa menyatakan jarang-jarang.

6)     “Dalam tes praktik membaca puisi, apakah gurumu selalu memberikan penilaian?” Yang menjawab YA sebanyak 75% atau sejumlah 30 siswa, yang menjawab kadang-kadang yaitu sebanyak 22,7% atau sejumlah 10 siswa, sementara sisanya adalah menjawab tidak pernah yaitu 0,9% atau sejumlah 4 siswa.

7)     Penulis mengajukan pertanyaan lebih lanjut yaitu: Berhasilkah gurumu menumbuhkembangkan bakat siswa dalam membaca puisi, dengan menggunakan metode yang dipakainya?

      22,7% atau sebanyak 10 siswa, menyatakan berhasil, sementara sejumlah 77,3% atau sebanyak 34 siswa menyatakan kurang berhasil.

8)     Sesuai dengan judul yang penulisangkat “ Penggunaan Metode Demontrasi dalam pengajaran Puisi”. Penulis juga mengajukan pertanyaan : “Pernahkah gurumu menyampaikan pelajaran puisi dengan menggunakan metode demontrasi?

      siswa yangmenjawab pernah sebanyak 50% atau 22 anak, sementara yang menjawab tidak pernah juga sebanyak 50% atau 22 siswa.

9)     Pertanyaan selanjutnya adalah: Apakah kamu menyenangi pelajaran puisi? Sebanyak 56,8% atau sebanyak 25 siswa menyenangi puisi. Sementara yang menjawab tidak menyenangi yaitu sebanyak 19 siswa atau 43,2%.

10)  Lebih lanjut Penulis mengajukan pertanyaan: Menurutmu perlukah di sekolah mendapat pelajaran apresiasi puisi

      Rata-rata mereka menyatakan jawaban perlu, yaitu sekitar 88,6% atau sejumlah 39 siswa. Sementara sisanya 11,4% atau 5 siswa yang menjawab tidak perlu.

2.Analisis Minat siswa Terhadap Pengajaran Apresiasi Puisi

Penulis perlu mengetahui seberapa besar siswa memiliki minat terhadap pengajaran puisi. Berbagai faktor dan kendala yang dihadapi, baik oleh pengajar maupun siswa, berpengaruh besar terhadap siswa dalam menumbuhkan minat untuk menyenangi puisi.

Beberapa Informasi mengenai minat siswa yang penulis peroleh yaitu diantaranya:

1). Senangkah kamu dengan pelajaran puisi?

Jawaban yang penulis peroleh yaitu 73,7% atau sebanyak 32 siswa menyenangi puisi, sisanya 27,3% atau sebanyak 12 siswa tidak menyenangi puisi. Dari analisa tersebut,memang pada dasarnya siswa kelas VIII SMP Wilayah Bina 1 Kabupaten Lebak sebagian besar menyenangi puisi. Seusia mereka yang mulai mengalami pubertas lebih condong menyukai pengungkapan kata-kata puitis, kata-kata yang mengandung makna indah luapan isi hatinya.

2)     Pertanyaan berikut yang penulis ajukan adalah “Senangkah kamu membaca puisi?”

Siswa yang  menjawab  senang membaca puisi adalah 64,6% atau sebanyak 28 anak, sedangkan yang tidak menyenangi membaca puisi yaitu 36,4% atau sebanyak 16 siswa

3)     Selanjutnya penulis memberikan pertanyaan senangkah kamu menulis puisi?”

Jawaban terhadap pertanyaan itu adalah 45,5% atau sebanyak 20 anak menjawab senang, dan 55,5% atau sebanyak 24 siswa menjawab tidak senang

4)     Apakah Anda selalu memperhatikan ketika guru sedang memberikan contoh membaca puisi?

Jawaban memperhatikan persentasenya sebesar 34,1% atau sebanyak 15 anak, kurang memperhatikan 22,7% atau sebanyak 10 anak, sisanya menjawab tidak memperhatikan 43,2% atau sebanyak 19 anak.

Hasil analisis  pada pertanyaan poin ini, banyak berbagai faktor yang menjadi penyebabnya, mengapa anak kurang memperhatikan disaat guru memberikan contoh membaca puisi ? resume siswa yang dikemukakan antara lain kurang menarik perhatian tatkala guru mendemontrasikan membaca puisi.

5)     Apakah kamu senang apabila ditunjuk untuk ikut lomba membaca puisi?

Pertanyaan terakhir yang penulis ajukan kepada siswa bertujuan untuk menganalisa keberhasilan guru dalam memberikan pelajaran apresiasi puisi, sekaligus melihat antusias siswa dalam merespon kegiatan apresiasi puisi dalam konteks kompetisi membaca puisi. Persentase yang diperoleh yaitu 11,4% atau sdebanyak 5 siswa menjawab senang, yang menjawab tidak senang yaitu 88,6% atau sebanyak 39 siswa.

 F.     Simpulan

 Berdasarkan uraian pada uraian di atas , dapat ditarik simpulan bahwa pada dasarnya  para siswa mempunyai kemampuan untuk mengapresiasikan puisi dengan baik, tetapi hal ini juga tidak terlepas dari kemampuan guru dalam membangkitkan minat dan kemampuan siswa tersebut. Para siswa pada umumnya, sebelum melakukan apresiasi sangat memerlukan teori-teori tentang apresiasi puisi, apa yang disebut dengan apresiasi dan bagaimana tata cara mengapresiasikan puisi tersebut. Untuk materi apresiasi puisi, guru dituntut dapat memberikan contoh-contoh membaca puisi yang benar, atraktif, penjiwaan, pengekspresian, serta penguasaan puisi, karena memang benar bahwa seorang siswa selalu mencontoh hal-hal yang diperbuat oleh gurunya. Untuk itu penulis yakin apabila seorang guru mampu membaca puisi dengan baik, niscaya siswanyapun akan mengikuti, meniru, apa yang dicontohkan oleh gurunya.

                                Penggunaan Metode Demonstrasi dalam Pengajaran Puisi dapat meningkatkan minat siswa untuk mengapresiasi Puisi”, bahwa penyampaian materi aprsiasi puisi dengan menggunakan metode demonstrasi, sangat efektif dilaksanakan dan mudah untuk diikuti oleh siswa dalam mengembangkan kemampuan membaca puisi, dengan catatan guru benar-benar mendemonstrasikan membaca puisi dengan sebaik-baiknya, sehingga siswa dapat secara langsung melihat, merasakan keatraktifan puisi yang dibaca oleh gurunya.

 G.    Daftar Pustaka

Alwy, Ahmad Syubhanudin,2005. Mozaik Sastra Indonesia.Bandung : Nuansa

Aminuddin, 1987. Pengantar Apresiasi Karya Sastra. Bandung : Sinar Baru.

Arikunto, Suharsimi. Prosedur Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta

Depdikbud. 1997. Kamus Besar bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka

Depdiknas. 2005. Bahasa Dan Satra Indonesia : Direktorat Jenderal Pendidikan  Dasar Dan Menengah

Depdikanas. 2007. Kamus Besar Indonesia. Jakarta :Balai Pustaka

Effendi, S. 2002. Bimbingan Apresiasi Puisi. Jakarta : Pustaka Jaya

Endraswara, Suwardi. 2008. Sanggar Sastra. Jogjakarta : Ramadhan Press

Fanamie, Zainuddin. 2000. Telaah Sastra. Surakarta : Muhammadiyah University Press

Rahmanto, B. 1988. Metode Pengajaran Sastra. Yogyakarta :Kanisius

Rosidi, Ajip.1968. Ikhtisar Sejarah Sastra Indonesia. Bandung : BinaCipta

Sarumpaet, Riris K. Toha. 2002. Apresiasi Puisi Remaja. Jakarta : Grasindo

zp8497586rq

MIGRASI, PEREMPUAN DAN PENGASUHAN ANAK (Tjut Afrida)

by

div>

Abstrak

 Migrasi untuk mencari pekerjaan bagi perempuan berkeluarga merupakan solusi untuk menyelematkan ekonomi keluarga. Tetapi status berkeluarga bagi perempuan membawa konsekwensi berbeda dengan laki-laki, karena secara cultural ibu mempunyai fungsi reproduksi. Oleh karena itu migrasi prempuan menyebabkan pola pengasuhan anak pun menjadi persoalan. Meski demikian mereka memiliki berbagai strategi dalam pengasuhan anak yang pada dasarnya tidak bias dilepaskan dari akar budaya.

 Kata Kunci: migrasi, perempuan dan pengasuhan anak

 

Pendahuluan

 Migrasi untuk mencari pekerjaan pada saat ini bukan lagi merupakan monopoli laki-laki, tetapi fenomena ini juga menyangkut perempuan. Oleh karena itu kajian migrasi perempuan baik dari Kaniapauni (2000) maupun Wahyuni (2000) mengatakan bahwa, perempuan cenderung berimigrasi dalam katagori permanen, yaitu dengan alasan perkawinan dan jarang karena pertemanan, sedangkan laki-laki banyak yang berimigrasi dalam katagori non permanen untuk mencari rezeki, perlu dipertanyakan. Seperti yang dihasilkan dari kajian ( Daulay,2000: Kustini, 2002 dan Poerwaningsih, 2003), memperlihatkan bahwa kepergian perempuan berimigrasi memang menjadi solusi bagi keselamatan keuangan keluarga dan sekaligus solusi bagi keterbatasan lapangan kerja di desa. Disamping itu, ada kecendrungan migrasi dapat menaikkan status ekonomi rumah tangga yang berkolerasi dengan naiknya status sosial.

Persoalan migrasi menjadi menarik untuk dikaji, karena kecenderungan migrasi perempuan bukannya hanya dilakukan mereka yang masih berstatus lajang, tetapi juga berstatus menikah. Menurut kajian Mantra (1999) di pulau Bawean, migran perempuan yang berstatus menikah 51,8 %, begitu pula hasil penelitian Poerwaningsih (2003) menunjukkan hal yang sama yaitu ada kecenderungan yang tinggi migran perempuan berstatus sudah menikah. Migrasi yang dilakukan perempuan yang telah berkeluarga menyebabkan keluarga inti menjadi tidak lengkap, kadang hanya berisi ayah dengan anak-anaknya atau berisi anak-anak saja, karena suami juga berimigrasi. Disamping itu, keterpisahan dengan keluarga membawa konsekuensi tertentu yang berkaitan dengan keluarga, karena besar kemungkinan mereka harus terpisah dengan keluarga untuk waktu yang cukup lama sebelum akhirnya berkumpul kembali dengan keluarga mereka. Menurut Gilbert (1996), pemisahan keluarga seringkali menciptakan bentuk migrasi musiman. Setelah masa kerja yang mungkin berakhir 6 bulan atau 2 bulan, migran tersebut kembali lagi untuk bermukim dengan keluarga besar mereka.

Keterpisahan tersebut menciptakan permasalahan, karena migrasi yang dilakukan perempuan berstatus keluarga menyebabkan terjadinya pergeseran dalam fungsi reproduksi yang sebelumnya menjadi tanggung jawab ibu. Berkaitan dengan pergeseran fungsi reproduksi tersebut, maka yang menjadi pertanyaan adalah bagaimanakah bentuk keluarga dan pola pengasuhan anak ketika ibunya bermigrasi.?

Pembahasan

 1.     Migrasi dan Keluarga

Berbagai kajian menjelaskan bahwa peranan keluarga besar tidaj bisa diabaikan ketika suami bermigrasi. Mentra (1999 : 45) yang menyoroti migrasi laki-laki, menjelaskan bahwa istri dan anak yang ditinggalkan oleh suaminya ke Malaysia menjadi tanggung jawab anggota keluarga lain untuk membantu kelangsungan hidupnya. Begitu pula Gilbert (1996 : 73) menyatakan bahwa dukungan keluarga luas sangat memudahkan migran. Menurut Koentjaraningrat (1956), migrasi yang dilakukan oleh suami karena desakan ekonomi, telah menyebabkan tumbuhnya keluarga matrifokal.

Pengertian keluarga matrifokal mula-mula dikembangkan oleh Smith (1956) untuk menamakan bentuk keluarga yang amat menyimpang dari bentuk keluarga batin yang umum, yaitu bentuk keluarga yang banyak ditemukan pada masyarakat Negro di kepulauan Hindia Barat. Pada masyarakat tersebut menurut Smith (1956 : 223) adalah sebagai berikut :

“The household group tends to be matrifocal in the sense that a woman in the status of mother is usually the factor leader of yhe group, and conversely the husband-father, although de jure head of the household group (if present), is usually marginal to the complex of internal relationship of the group”.

Pengertian keluarga matrifokal sebenarnya sama dengan apa yang oleh Horskovits (1958 : 169) disebut sebagai keluarga maternal atau matriakal yaitu:

“….. the attachements between a mother and her child are in the main closer than those between father and children : from the point of view of the parent, if means that the responsibilities of upbringing, discipline, and supervision are much more the province of the mother than the father.”

Untuk pengertian yang sama, Fraser (1939) menggunakan istilah keluarga mother headed. Sementara Smith (1956), menyarankan untuk membedakan antara kepala keluarga sebagai status resmi, dengan dominasi sebagai kenyataan social. Menurut Budhisantoso (1977 : 5), Nampaknya apa yang disarankan oleh Smith tersebut memperkuat anggapan bahwa keluarga matrifokal itu bukanlah suatu system kekerabatan melainkan suatu cirri yang bisa ditemukan dalam beberapa tipe kekerabatan.

Menurut Budhisantoso (1977 : 4), di dalam keluarga yang demikian itu suami-ayah kurang banyak bergaul dengan anggota keluarga lainnya, begitu pula ikatannya dengan kesatuan keluarga yang bersangkutan amat lemah. Oleh karena itu Murdock (1954 : 4), menyatakan bahwa dalam keluarga matrifokal, istri/ibu lebih besar pengaruh dan tanggung jawabnya terhadap keluarga dibandingkan dengan suami/ayah. Selanjutnya ia juga menerima lebih besar kasih saying serta kesetiaan dari anggota keluarga lainnya daripada apa yang dapat diharapkan oleh suami/ayah. Sementara itu, anak-anak yang lebih banyak bergaul dan menggantungkan nasib mereka kepada ibu dengan sendirinya juga lebih dekat kepada kerabat pihak ibu daripada kepada ayah serta kerabat ayah.

Atas Hendartini (1999), mengungkapkan bahwa leburnya keluang inti dalam keluarga luas akan menyebabkan beberapa peran suami dalam keluarga inti tidak ditemukan dalam keluarga luas. Sering kali peran suami dalam beberapa bidang diambil alih oleh mertua laki-laki. Jadi peleburan keluarga inti ke dalam keluarga luas tersebut telah mempengaruhi struktur keluarga.

Keontjaraningrat (1956), mengemukakan adanya kecendrungan kearah pola menetap secara matrifokal sebagai reaksi terhadap kesulitan ekonomi yang memaksa kaum lelaki untuk meninggalkan desa dan mencari nafkah di lain tempat. Keadaan demikian merupakan iklim yang baik bagi perkembangan keluarga, dimana pengaruh ibu rumah tangga menjadi lebih besar dari pada pengaruh suami-ayah dalam keluarga. Dengan membesarnya pengaruh ibu dalam keluarga, maka ia dapat memainkan peranan yang menentukan di dalam keluarga yang matrifokal.

Keluarga matrifokal ternyata bukan ditemukan pada migrasi laki-laki saja, karena dari berbagai penelitian menjelaskan fenomena yang sama juga terjadi pada migrasi perempuan. Seperti yang ditemukan Wahyuni (2000:21) yang menjelaskan munculnya keluarga matrifokal dikalangan migrant wanita di kota khususnya Jawa karena ketidak acuhan suami/ayah dalam pengasuhan anak dan kegiatan domestic lainnya. Dari hasil penelitian tersebut memperlihatkan bahwa migrasi perempuan menyisakan persoalan pengasuhan anak.

 2.          Migrasi Perempuan dan Pengasuhan Anak

 Menurut Abdullah (2000:204), orientasi kehidupan dewasa ini telah menjauhkan perempuan dari rumah, dari suami dan dari anak-anak. Perempuan yang bekerja ke Arab Saudi, Honhkonh, Korea, Singapura atau Malaysia, tentu saja meninggalkan suami, anak, saudara-saudara dan desa secara keseluruhan. Tekanan untuk pergi yang begitu besar (baik karena tekanan ekonomi maupun daya tarik soaial, politik atau budaya) merupakan suatu fakta yang sangat jelas bahwa pergeseran orientasi kehidupan di kalangan perempuan sering terjadi, yang secara langsung mengubah defenisi perempuan sebagai ibu. Anak yang secara tradisional merupakan pengikut perempuan untuk tetap tinggal di rumah, dewasa ini manjadi faktor yang hamper tidak berpengaruh secara umum. Anak yang secara tradisional merupakan pengikut perempuan untuk tetap tinggal di rumah, dewasa ini manjadi faktor yang hampir tidak berpengaruh secara umum. Berbagai faktor dan mekanisme telah terbentuk untuk mensahkan perilaku mobilitas perempuan. Oleh karena itu pergeseran perilaku tersebut membawa dampak terhadap penagsuhan anak.

Asuhan keluarga (parenting) merupakan kegiatan keluarga yang paling sentral, karena seperti diketahui, manusia lahir dalam kondisi ketergantungan dan tanpa asuhan dari orang dewasa, dalam hal ini khususnya orang tua, tidak mungkin anak dapat melanjutkan hidupnya. Melalui asuhan keluarga, kebutuhan biologis, intelektual dan keterampilan sosial dari seorang anak dapat terpenuhi sebagai proses persiapan untuk nantinya menjadi anggota masyarakat yang dapat memikul tanggung jawab sesuai dengan tuntutan lingkungan budaya masyarakat (peaece, 1977). Kegiatan asuhan sangat erat terkait dengan pembagian kerja antara suami istri dalam suatu keluarga, yaitu dengan siapa dan bagaimana mengerjakan apa dalam keluarga (paulus, 1990). Menurut Marx dalam Budiman (1982), masyarakat modern ternyata ikut memperkokoh asuhan model tradisional dan perempuan menjadi kelompok yang terasing dalam perkembangan industry modern. Dengan asuhan model tersebut, dimaksudkan suatu pembagian kerja dimana suami terutama bertugas mencari nafkah dan istri terutama bertanggung jawab mengurus tugas-tugas kerumah tanggaan termasuk tugas pengasuhan.

Pada Negara-negara industry maju substansi ibu bagi anak-anak disediakan oleh lembaga pengasuhan anak yang disediakan pemerintah maupun swasta, dengan demkian umumnya diskusi dan penelitian di Negara tersebut adalah memecahkan masalah perempuan bekerja dan pengasuhan anak berkisar pada penyediaan, biaya dan mutu lembaga pengasuhan anak yang ada dan meninjau berbagai kebijakan pemerintah untuk membantu keluarga tersebut ( Wahyuni, 2000). Menurut Alhburg dalam Wahyuni (2000) anak-anak Amerika sudah terbiasa untuk mendapatkan sosialisasi dan pendidikan dini di luar rumah. Lebih dari sepertiga ibu yang bekerja penuh di Amerika Serikat menitipkan anak-anak mereka di tempat penitipan anak komersial, sedangkan mereka yang bekerja paruh waktu, lebih banyak memilih untuk mengatur waktu kerja mereka saja, misalnya dengan mengatur shift kerja dari pada menggunakan fasilitas penitipan anak.

Pada Negara-negara sedang berkembang terlihat hal yang berbeda seperti Thailand ( Richter, 1992), melaporkan bahwa 32 %n anak berusia 2 tahun diasuh oleh ibu yang mengkombinasikan waktu bekerja dengan mengasuh anak, 27 % diasuh oleh anggota keluarga yang lain 11 % diasuh oleh bukan anggota keluarga di rumah dan 15 % tinggal terpisah dari ibunya. Lebih jauh dikatakan bahwa diantara anggota keluarga, maka nenek dari pihak ibu merupakan pilihan terbaik untuk mengasuh anak kecil. Pilihan untuk menitipkan anak kepada keluarga desa merupakan salah satu pilihan bagi para migrant perempuan di kota yang tidak mampu membayar pembantu rumah tangga dan tidak dapat mempercayai orang lain di kota untuk merawat anaknya.

Hetler (1986) menemukan suatu pola asuh yang berbeda dari migrant sirkuler perempuan, dimana mereka memilih meninggalkan anak-anak mereka di desa untuk bersekolah dan membawa serta anak-anak yang belum sekolah ikut dngan mereka ke kota. Jika perempuan penjual jamu itu bekerja sendirian, tanpa disertai suami, maka pengasuhan anak-anak yang ditinggalkan di desa diserahkan kepada suami mereka di desa. Tetapi jika suami istri menjadi migrant sirkuler di kota, maka mereka meninggalkan anak-anak usia sekolah di desa agar tetap dapat sekolah, meski harus mengurus diri sendiri. Dengan demikian        migrasi sirkuler dikalangan perempuan migrant menciptakan beberapa untuk pengasuhan anak,yaitu membayar gadis remaja untuk mengawasi anak-anak mereka ketika bekerja ( 42 % ), membuat kesepakatan dengan suami bahwa anak-anak yang lebih tua atau dengan kerabat lain untuk mengambil alih pengasuhan anak selama ibu sedang bekerja (33 %), membawa anak bekerja (5 % ) dan meninggalkan anak-anak untuk bermain sendiri (15 % ).

Penelitian Wahyuni (2000) menemukan 5  kemungkinan bentuk pengasuhan anak pasangan migrant tidak permanen. Faktor-faktor seperti jumlah anak yang dimiliki, umur anak, kemampuan ekonomi dan ketersediaan tenaga pengasuh anak yang dapat diandalkan mempengaruhi keputusan-keputusan pemilihan bentuk pengasuhan anak tertentu yaitu : Pertama , setelah disapih anak ditinggalkan dibawah asuhan nenek atau bibi dari pihak ibu sementara si ibu kembali ke kota untuk bekerja lagi. Artinya proses sosialisasi di pendidikan dini pada anak tersebut akan diberikan oleh nenek dan atau bibi di desa tanpa kehadiran orang tua secara penuh. Kedua, menjelang kelahiran anak si ibu keluar dari pekerjaan di kota dan kembali ke desa untuk melahirkan dan merawat anaknya. Dalam hal ini proses sosialisasi dan pendidikan dini anak hanya dilakukan oleh ibunya tanpa kehadiran ayah secara penuh. Ketiga, setelah dilahirkan di desa, anak dibawa ke kota untuk di asuh oleh ayah dan ibunya secara penuh dengan konsekuensi si ibu keluar dari pekerjaannya. Dalam kasus seperti ini anak mendapatkan sosialisasi dan pendidikan dini dari kedua orang tua mereka di kota. Keempat, setelah dilahirkan bayi di bawa ke kota untuk dirawat kedua orang tuanya dan dibantu oleh pengasuh anak, sementara si ibu terus bekerja. Artinya anak akan mendapatkan bagian sosialisasi dan pendidikan dini dari orang lain. Kelima, setelah memasuki usia sekolah seorang anak akan dikirim kembali kepada nenek dan kakeknya di desa untuk sekolah, kadang-kadang si ibu juga ikut kembali ke desa. Dalam kasus ini, sosialisasi dan pendidikan dini pada anak-anak itu sebelumnya mungkin mengikuti bentuk ketiga dan keempat.

Model pengasuhan ibu migrant tersebut memperlihatkan peran ibu dalam pengasuhan masih bisa terlihat walaupun kadang harus melibatkan keluarga besar dari desa. Model pengasuhan yang masih memperlihatkan peran ibu dalam pengasuhan sangat mungkin tidak ditemukan dalam migrasi perempuan ke luar negeri. Oleh karena itu bagaimana bentuk pengasuhan anak ketika ibu bermigrasi ke luar negeri? Sebagai bentuk tanggung jawab ketika suami tidak bisa menggantikan fungsi pengasuhan anak, maka pilihan yang paling aman adalah keluarga besar dari pihak ibu. Ini berarti migrasi perempuan memunculkan kecenderungan keluarga matrifokal semakin tajam. Tetapi hal itu masih merupakan sebuah hipotesa yang masih merupakan sebuah hipotesa yang masih memerlukan pembuktian lebih lanjut.

 

Kesimpulan

 Migrasi laki-laki telah menyebabkan bentuk keluarga lebih mengarah ke matrifokal, karena perempuan merasa lebih aman untuk berlindung pada keluarga besar dari pihak ibu dibandingkan pada keluarga pihak laki-laki. Pola demikian ternyata juga ditemukan pada migrant perempuan, dimana peran keluarga dalam pengasuhan anak masih menunjukkan pola yang sama yaitu keluarga yang tinggal cenderung diasuh oleh keluarga besar oleh pihak ibu. Keputusan untuk menyerahkan hak pengasuhan anak keluarga besar dari pihak ibu merupakan untuk penghindaran sanksi social terhadap peranan yang ditinggalkan. Keadaan ini juga sekaligus memberikan penekanan bahwa system tersebut mencerminkan ketidakadilan gender.

 

Daftar Pustaka

Abdullah, I, 2001. Seks,Gender & Reproduksi Kekuasaan.   Tarawang Press Budhisusanto.1997. Keluarga Matrifokal. Disertasi. Fakultas Pasca Sarjana Universitas Indonesia. Yogyakarta.

Daulay, H, 2001. Pergeseran Pola   Relasi Gender di Keluarga      Migran. Yogyakarta. Galang Press.

Kanaiaupuni, S. Malia, 2000. Reframin the Migration Question. An Analysis of Men, Women, and Gender in Mexico. Copyright 2000 University of North Corolina Press.

Mantra, I. Agus,. 1999. Mobilitas Tenaga Kerja Indonesia ke Malaysia. Pusat penelitian Kependudukan Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Atashendartini, H, 1999. Jender dan Pola Kekerabatan dalam Ihromi (ed), Sosiologi Keluarga. Yayasan Obor Indonesia, Jakarta.

Gilbert, Alan dan J. Gugler, 1996. Urbanisasi dan Kemiskinan di Dunia Ketiga. Tiara Wacana, Yogyakarta.

Goode, William J 1995. Sosiologi Keluarga. Aksara, Jakarta.

Koentjaraningrat, 1998. Pengantar Antropologi. Pokok-pokok Etnografi II. Penerbit Rineka Cipta, Jakarta.

Setiadi, 2001. Migran Kembali: Permasalahan Reintegrasi Sosial dan Ekonomi. Seminar. Pusat Penelitian Kependudukan UGM. Yogyakarta.

Paulus, T, 1990. Pengaruh Tiga Adicita Modernisasi Terhadap Kegiatan Ekonomi Keluarga Perkotaan. Disertasi. Sosiologi Pascasarjana UI, Jakarta.

Wahyuni, Ekawati S, 2000. Migran Wanita dan Persoalan dan Perawatan Anak : Sebuah analisa migrasi internal di Jawa. Dalam jurnal : Sosiologi Indonesia. No. 04/2000, Ikatan Sosiologi Indonesia, Jakarta.

Wirosuhardjo, K, 1983. Patterns and Trend of Internal Migration and Urbanization in Indonesia and Their Policy Implications. Disertasi. Fakultas Pasca Sarjana. Universitas Indonesia, Jakarta.

zp8497586rq
zp8497586rq
Komentar Dinonaktifkan pada MIGRASI, PEREMPUAN DAN PENGASUHAN ANAK (Tjut Afrida)

Kawasan Taman Nasional Gunung Halimun – Salak (TNGHS)

by

p style=”text-align: justify;”>Taman Nasional Gunung Halimun – Salak (TNGHS) adalah salah satu taman nasional yang terletak di Jawa bagian barat. Kawasan konservasi dengan luas 113.357 hektare ini menjadi penting karena melindungi hutan hujan dataran rendah yang terluas di daerah ini, dan sebagai wilayah tangkapan air bagi kabupaten-kabupaten di sekelilingnya. Melingkup wilayah yang bergunung-gunung, dua puncaknya yang tertinggi adalah Gunung Halimun (1.929 m) dan Gunung Salak (2.211 m). Keanekaragaman hayati yang dikandungnya termasuk yang paling tinggi, dengan keberadaan beberapa jenis fauna penting yang dilindungi di sini seperti elang jawa, macan tutul jawa, owa jawa, surili dan lain-lain. Kawasan TNGHS dan sekitarnya juga merupakan tempat tinggal beberapa kelompok masyarakat adat, antara lain masyarakat adat Kasepuhan Banten Kidul dan masyarakat Baduy.

Sejarah Kawasan

Wilayah Gunung Halimun telah ditetapkan menjadi hutan lindung semenjak tahun 1924, luasnya ketika itu 39.941 ha. Kemudian pada 1935 kawasan hutan ini diubah statusnya menjadi Cagar Alam Gunung Halimun. Status cagar alam ini bertahan hingga tahun 1992, ketika kawasan ini ditetapkan menjadi Taman Nasional Gunung Halimun dengan luas 40.000 ha, sesuai dengan Surat Keputusan Menteri Kehutanan No. 282/Kpts-II/1992 tanggal 28 Februari 1992. Sampai dengan lima tahun kemudian, taman nasional yang baru ini pengelolaannya ‘dititipkan’ kepada Taman Nasional Gunung Gede – Pangrango yang wilayahnya berdekatan. Baru kemudian pada 23 Maret 1997, taman nasional ini memiliki unit pengelolaan yang tersendiri sebagai Balai Taman Nasional Gunung Halimun.[1]

Pada tahun 2003 atas dasar SK Menteri Kehutanan No.175/Kpts-II/2003, kawasan hutan BTN Gunung Halimun diperluas, ditambah dengan kawasan hutan-hutan Gunung Salak, Gunung Endut dan beberapa bidang hutan lain di sekelilingnya, yang semula merupakan kawasan hutan di bawah pengelolaan Perum Perhutani. Sebagian besar wilayah yang baru ini, termasuk kawasan hutan G. Salak di dalamnya, sebelumnya berstatus hutan lindung. Namun kekhawatiran atas masa depan hutan-hutan ini, yang terus mengalami tekanan kegiatan masyarakat dan pembangunan di sekitarnya, serta harapan berbagai pihak untuk menyelamatkan fungsi dan kekayaan ekologi wilayah ini, telah mendorong diterbitkannya SK tersebut. Dengan ini, maka kini namanya berganti menjadi Balai Taman Nasional Gunung Halimun – Salak, dan luasnya bertambah menjadi 113.357 ha.[2]

Letak dan keadaan fisik

 Ci Berang lewat dekat Rangkasbitung, sebelum bermuara ke Ci Ujung

Secara administratif, kawasan konservasi TN Gunung Halimun – Salak termasuk ke dalam wilayah tiga kabupaten, yakni Kabupaten Bogor dan Sukabumi di Jawa Barat, dan Lebak di Propinsi Banten. Topografi wilayah ini berbukit-bukit dan bergunung-gunung, pada kisaran ketinggian antara 500–2.211 m dpl. Puncak-puncaknya di antaranya adalah G. Halimun Utara (1.929 m), G. Ciawitali (1.530 m), G. Kencana (1.831 m), G. Botol (1.850 m), G. Sanggabuana (1.920 m), G. Kendeng Selatan (1.680 m), G. Halimun Selatan (1.758 m), G. Endut (timur) (1.471 m), G. Sumbul (1.926 m), dan G. Salak (puncak 1 dengan ketinggian 2.211 m, dan puncak 2 setinggi 2.180 m).[1] Jajaran puncak gunung ini acapkali diselimuti kabut (Sd. halimun), maka dinamai demikian.

Wilayah ini merupakan daerah tangkapan air yang penting di sebelah barat Jawa Barat. Tercatat lebih dari 115 sungai dan anak sungai yang berhulu di kawasan Taman Nasional. Tiga sungai besar mengalir ke utara, ke Laut Jawa, yakni Ci Kaniki dan Ci Durian (yang bergabung dalam DAS Ci Sadane), serta Ci Berang, bagian dari DAS Ci Ujung. Sementara terdapat 9 daerah aliran sungai penting yang mengalir ke Samudera Hindia di selatan, termasuk di antaranya Cimandiri (Citarik, Cicatih), Citepus, Cimaja, dan Cisolok. Sungai-sungai ini mengalir melintasi wilayah Bogor, Tangerang, Rangkasbitung, Bayah dan Palabuhanratu.[1]

Kawasan TN Gunung Halimun – Salak memang merupakan daerah yang basah. Curah hujan tahunannya berkisar antara 4.000 – 6.000 mm, dengan bulan kering kurang dari 3 bulan di antara Mei hingga September. Iklim ini digolongkan ke dalam tipe A hingga B menurut klasifikasi curah hujan Schmidt dan Ferguson. Suhu bulanannya berkisar antara 19,7 – 31,8 °C, dan kelembaban udara rata-rata 88%.[1]

Kekayaan hayati kawasan taman nasional ini telah lama menarik perhatian para peneliti, dalam dan luar negeri. Banyak catatan telah dibuat, terutama setelah status kawasan ditingkatkan menjadi taman nasional, dan banyak pula yang telah diterbitkan, khususnya semasa masih bernama TN Gunung Halimun. Informasi berikut ini masih merujuk pada hasil-hasil penelitian di TN Gunung Halimun tersebut, terkecuali apabila disebutkan lain.

Hutan pegunungan

Tutupan hutan di taman nasional ini dapat digolongkan atas 3 zona vegetasi[3]:

• Zona perbukitan (colline) hutan dataran rendah, yang didapati hingga ketinggian 900 – 1.150 m dpl.

• Zona hutan pegunungan bawah (submontane forest), antara 1.050 – 1.400 m dpl; dan

• Zona hutan pegunungan atas (montane forest), di atas elevasi 1.500 m dpl.

Keanekaragamannya cenderung berkurang dengan bertambahnya ketinggian. Dua petak coba permanen, masing-masing seluas 1 ha, di zona submontana ditumbuhi 116 dan 105 spesies pohon. Sementara satu plot lagi dengan luas yang sama di zona montana didapati hanya berisi 46 spesies pohon.

Catatan sementara mendapatkan lebih dari 500 spesies tumbuhan, yang tergolong ke dalam 266 genera dan 93 suku, hidup di kawasan konservasi ini[4]. Hasil ini diduga masih jauh di bawah angka yang sesungguhnya, mengingat bahwa TN Gede Pangrango yang berdekatan dan mirip kondisinya, namun luasnya kurang dari sepertujuh TNGHS, tercatat memiliki 844 spesies tumbuhan berbunga[5]. Apalagi penelitian di atas belum mencakup wilayah-wilayah yang ditambahkan semenjak 2003.

Penelitian pada zona perbukitan di wilayah Citorek mendapatkan 91 spesies pohon, dari 70 marga dan 36 suku. Suku yang dominan adalah Fagaceae, yang diwakili oleh 10 spesies dan 144 (dari total 519) individu pohon; diikuti oleh Lauraceae, yang diwakili oleh 9 spesies dan 26 individu pohon. Jenis-jenis yang memiliki nilai penting tertinggi, berturut-turut adalah ki riung anak atau ringkasnya ki anak (Castanopsis acuminatissima), pasang parengpeng (Quercus oidocarpa), puspa (Schima wallichii), saketi (Eurya acuminata), dan rasamala (Altingia excelsa). Jenis-jenis tersebut selanjutnya membentuk tiga tipe komunitas hutan yang terbedakan di lapangan, yakni tipe Castanopsis acuminatissima – Quercus oidocarpa; Schima wallichii – Castanopsis acuminatissima, dan Schima wallichii – Eurya acuminata.[6]

Dua plot permanen yang dibuat pada hutan submontana di ketinggian 1.100 m dpl., yakni dekat Stasiun Riset Cikaniki dan di gigir utara G. Kendeng, berturut-turut didominasi oleh rasamala (A. excelsa) dan ki anak (C. acuminatissima). Sedangkan plot permanen pada hutan montana di bawah puncak G. Botol pada elevasi 1.700 m dpl, didominasi oleh pasang Quercus lineata.[7] Hutan montana di atas 1.500 m dpl. umumnya dikuasai oleh jenis-jenis Podocarpaceae, seperti jamuju (Dacrycarpus imbricatus), ki bima (Podocarpus blumei) dan ki putri (P. neriifolius).[1]

Di taman nasional ini juga didapati sekurang-kurangnya 156 spesies anggrek; diyakini jumlah ini masih jauh di bawah angka sebenarnya apabila dibandingkan dengan kekayaan anggrek Jawa Barat yang tidak kurang dari 642 spesies.[8]

Hutan-hutan primer dan pelbagai kondisi habitat lainnya menyediakan tempat hidup bagi aneka jenis margasatwa di TN Gunung Halimun – Salak. Tidak kurang dari 244 spesies burung, 27 spesies di antaranya adalah jenis endemik Pulau Jawa yang memiliki daerah sebaran terbatas. Dari antaranya terdapat 23 spesies burung migran.[9] Wilayah ini juga telah ditetapkan oleh BirdLife, organisasi internasional pelestari burung, sebagai daerah burung penting (IBA, important bird areas) dengan nomor ID075 (Gunung Salak) dan ID076 (Gunung Halimun). Wilayah-wilayah ini terutama penting untuk menyelamatkan jenis-jenis elang jawa (Spizaetus bartelsi), luntur jawa (Apalharpactes reinwardtii), ciung-mungkal jawa (Cochoa azurea), celepuk jawa (Otus angelinae), dan gelatik jawa (Padda oryzivora).[10]

Catatan sementara herpetofauna di taman nasional ini mendapatkan sejumlah 16 spesies kodok, 12 spesies kadal dan 9 spesies ular[11]. Daftar ini kemudian masing-masing bertambah dengan 10, 8, dan 10 spesies, berturut-turut untuk jenis-jenis kodok, kadal dan ular[12]. Namun demikian, daftar ini belum lagi mencakup jenis-jenis biawak dan kura-kura yang hidup di sini.

Mamalia terdaftar sebanyak 61 spesies. Di antaranya termasuk jenis-jenis langka seperti macan tutul jawa (Panthera pardus melas), owa jawa (Hylobates moloch), surili (Presbytis aygula), lutung budeng (Trachypithecus auratus), dan juga ajag (Cuon alpinus).[1]

Ancaman dan Tantangan Pengelolaan

Dilihat dari bentuk kawasannya, Taman Nasional Gunung Halimun Salak berbentuk seperti bintang atau jemari, sehingga batas yang mengelilingi kawasan taman nasional ini menjadi lebih panjang. Pengelolaan kawasan seperti ini lebih sulit dibandingkan dengan pengelolaan kawasan yang berbentuk relatif bulat. Apalagi di dalamnya terdapat beberapa enklave berupa perkebunan, pemukiman masyarakat tradisional serta beberapa aktifitas pertambangan emas, pembangkit energi listrik panas bumi dan pariwisata. Termasuk pula pemukiman-pemukiman masyarakat adat Kasepuhan Banten Kidul.

Banyak para petani tradisional maupun pendatang sudah tinggal di wilayah ini sebelum kawasan ini ditetapkan sebagai areal konservasi. Sehingga menjadi tantangan pengelola, para pihak dan masyarakat lokal dalam mengembangkan model pengelolaan kawasan TNGHS yang lebih kolaboratif dan berkelanjutan.

Catatan kaki

1. ^ a b c d e f HARTONO, T., H. KOBAYASHI, H. WIDJAYA, M. SUPARMO. 2007. Taman Nasional Gunung Halimun – Salak. Edisi revisi. JICA – BTNGHS – Puslit Biologi LIPI – PHKA. Pp. 48 vi

2. ^ SK Menteri Kehutanan No.175/Kpts-II/2003

3. ^ SIMBOLON, H., M. YONEDA, & J. SUGARDJITO. 1998. Biodiversity and its conservation in Gunung Halimun National Park. in H. Simbolon, M. Yoneda, & J. Sugardjito. (eds.) Research and Conservation of Biodiversity in Indonesia. Vol. IV: Gunung Halimun, the last submontane tropical forest in West Java. JICA – LIPI – PHPA. Pp. v- vi

4. ^ WIRIADINATA, H. 1997. Floristic study of Gunung Halimun National Park. in M. Yoneda, H. Simbolon, & J. Sugardjito. (eds.) Research and Conservation of Biodiversity in Indonesia. Vol. II: The inventory of natural resources in Gunung Halimun National Park. JICA – LIPI – PHPA. Pp. 7–13

5. ^ SOENARNO, B. & RUGAYAH. 1992. Flora Taman Nasional Gede Pangrango. Herbarium Bogoriense. Bogor. 375 hal.

6. ^ MIRMANTO, E. & H. SIMBOLON. 1998. Vegetation analysis of Citorek forest, Gunung Halimun National Park. in H. Simbolon, M. Yoneda, & J. Sugardjito. (eds.) op. cit.. Pp. 41–59

7. ^ SUZUKI, E., M. YONEDA, H. SIMBOLON, Z. FANANI, T. NISHIMURA, & M. KIMURA. 1998. Monitoring of vegetational changes on permanent plots in Gunung Halimun National Park. in H. Simbolon, M. Yoneda, & J. Sugardjito. (eds.) op. cit. Pp. 60–81

8. ^ MAHYAR, U.W., & A. SADILI. 1998. Orchids inventory and their distribution in south-western part of Gunung Halimun National Park. in H. Simbolon, M. Yoneda, & J. Sugardjito. (eds.) op. cit. Pp. 21–32

9. ^ PRAWIRADILAGA, D.M., S. WIJAMUKTI & A. MARAKARMAH. 2002. Buku Panduan Identifikasi Burung Pegunungan di Jawa: Taman Nasional Gunung Halimun. Biodiversity Conservation Project. LIPI – JICA – PHKA. Pp. 106 iv

10. ^ BirdLife International (2009) Important Bird Area factsheet: ID075 Gunung Salak, ID076 Gunung Halimun. Downloaded from the Data Zone at http://www.birdlife.org on 29/4/2010

11. ^ SIDIK, I. 1998. An inventory of amphibians and reptiles at Gunung Halimun National Park. in H. Simbolon, M. Yoneda, & J. Sugardjito. (eds.) op. cit. Pp. 141–147

zp8497586rq
Komentar Dinonaktifkan pada Kawasan Taman Nasional Gunung Halimun – Salak (TNGHS)