CITOREK

by

Oleh: YUYUN ROSALIA

 

Citorek atau biasa di sebut dengan masyarakat kesepuhan citorek,yang berasal dari guradog kecamatan curug bitung, Pada zaman dahulu para kesepuhan mengadakan musyawarah yang bertempat di guradog yang di pimpin oleh kesepuhan yang bernama, aki buyut sainta , dan hasil musyawarah itu menentukan atau mencari lahan yang luas untuk mendirikan pemukiman dan ladang, kesepuhan tersebut mengutus 10 orang untuk mencari lahan itu , lamanya perjalanan tiga hari tiga malam untuk mencari lahan tersebut, sesudah tiga hari tiga malam itu orang yang di perintahkan belum ketemu air (sungai).

Sudah tiga hari baru ketemu sungai yang di cari selama ini, sesudah di temukan sungai itu orang-orang yang di perintahkan itu langsung memberitahukan kepada para sesepuh bahwa ada sungai yang sama sekali tidak kedengaran suaranya yang kemudian di beri nama CITOREK, Sesudah berhasil orang -orang suruhan tadi di suruh pulang oleh para sesepuh, jarak perjalanan cepat 2(dua) hari l(satu) malam tiba di guradog, dan para sesepuh mengadakan musyawarah lagi tetapi musyawarah tersebut di tunda selama 4 (empat) tahun ,4 (empat) tahun kemudian masyarakat kesepuhan guradog, mengumumkan hasil musyawarah tersebut, dan hasilnya masyarakat akan menetap di CITOREK,

SEJARAH merupakan langkah awal dimana kita menuju kesuksesan, maka dengan ini kami sengaja menyusun sebuah buku yang berisi tentang ASAL-USUL CITOREK tujuan nya adalah agar kita semua dapat memahami awal mulanya ada citorek dan bagaimana proses terjadi nya citorek ini, karna dulu pernah menjabat yang kita tahu bahwa citorek merupakan perkampungan yang sangat melekat dengan adat istiadat nya. Di dalam buku ini juga di bahas mengenai keturunan-keturunan kesepuahan citorek yang pernah menjadi (pemimpin di desa kesepuhan citorek atau yang di sebut (kokolot). Kokolot atau pemimpin adat adalah seorang tokoh masyarakat yang memiliki keturunan dari keluarga nya untuk menjadi seorang pemimpin adat dan biasanya orang citorek menyebut nya dengan sebutan bapa kolot. Dengan demikian bahwa dengan ada nya sebuah sejarah kita bisa mengetahui akan kejadian tempo dulu untuk melangkah lebih maju dalam menatap masa depan dalam kehidupan, karna dalam sebuah riwayat mengatakan bahwa apa bila ingin menjadi seorang pemimpin yang baik dan benar haruslah di pahami dahulu akan sejarah wilayah tersebut. Pada tahun 1842 , masyarakat citorek atau biasa di sebut dengan masyarakat kesepuhan citorek,yang berasal dari guradog kecamatan curug bitung,

Pada zaman dahulu para kesepuhan mengadakan musyawarah yang bertempat di guradog yang di pimpin oleh kesepuhan yang bernama, aki buyut sainta , dan hasil musyawarah itu menentukan atau mencari lahan yang luas untuk mendirikan pemukiman dan ladang, kesepuhan tersebut mengutus 10 orang untuk mencari lahan itu , lamanya perjalanan tiga hari tiga malam untuk mencari lahan tersebut, sesudah tiga hari tiga malam itu orang yang di perintahkan belum ketemu air (sungai). Sudah tiga hari baru ketemu sungai yang di cari selama ini, sesudah di tumukan sungai itu orang-orang yang di perintahkan itu langsung memberitahukan kepada para sesepuh bahwa ada sungai yang sama sekali tidak kedengaran suaranya yang kemudian di beri nama CITOREK, Sesudah berhasil orang -orang suruhan tadi di suruh pulang oleh para sesepuh, jarak perjalanan cepat 2(dua) hari l(satu) malam tiba di guradog, dan para sesepuh mengadakan musyawarah lagi tetapi musyawarah tersebut di tunda selama 4 (empat) tahun ,4 (empat) tahun kemudian masyarakat kesepuhan guradog, mengumumkan hasil musyawarah tersebut, dan hasilnya masyarakat akan menetap di CITOREK,

Pada tahun 1846 tujuan mereka meninggalkan guradog adalah mencari lahan yang luas di sebelah selatan yang sering di sapa “gunung keneng ” untuk mengembangkan pertanian sesuai dengan wangsit dari leluhur sejak dari guradog,Mereka sudah tahu bahwa akan menuju suatu wilayah yang akan menjadi wewengkon (wilayah adat) wilayah adat tersebut di tandai mulai dari parakan saat di sebelah timur , pasir sage di sebelah barat, dan gunung keneng di sebelah utara .Pada mulanya datang ke citorek hanyalah bertani bikin huma, dari tahun 1846 sampai tahun 1930, itu bertani huma, dari tahun 1930 ketika jaro Negara di pegang oleh RATAM, sesuai wangsit leluhur pada tahun 1964 masyarakat kesepuhan citorek sempat pindah ke ciawitali dan pada awal tahun 1966 masyarakat citorek kembali lagi ke citorek untuk menetap di citorek, sampai sekarang, Masyarakat meyakini bahwa mereka adalah “keturunan pangawinan” (masyarakat kesepuhan di wilayah kidul kecamatan bayah dan cibeber, cikotok) Dan sejarah kepemimpinan masyarakat kesepuhan citorek meyakini bahwa kesepuhan citorek merupakan masyarakat yang bernegara, bermasyarakat dan ber adat , sebagai wujud dari keyakinan tersebut mereka memiliki kepemimpinan yang mewarisi ketiga perinsip tersebut, yaitu kesepuhan sebutan untuk kepemimpin kesepuhan yaitu (oyok), jaro kolot (jaro adat) penghulu (pimpinan agama) jaro Negara sekarang di sebut keapala desa, dan baris kolot. Dalam perkembangan di citorek di angkatlah jadi jaro Negara yaitu jaro RATAM, yang kemudian jaro MARJA’I menjadi jaro kolot. Kesepuhan ini di wariskan secara turun- temurun, dan tidak bisa di gantiakn begitu saja selama orang yang di wariskan tersebut masih ada, dan hanya kematian yang bisa menggantikan nya,

Pada masa jabatan jaro nurkib atau yang biasa di sebut sekarang kepala desa , desa citorek di pekarkan menjadi 2(dua) desa yaitu desa citorek dan ciparay, ciparay menccakup wilayah baru dimana bermukim kesepuhan dan baris kolot, pada saat itu desa citorek di duduki 15.465 orang jiwa sebagian besar menetap di wewengkon citorek, MASYARAKAT KESEPUHAN CITOREK

Yang di maksud kesepuhan citorek adalah tradisi dari para pengurus adat, Incu putu (anak cucu keturunannya), anggota masyarakat lain yang bersedia untuk ikut “nyusup nubuy” dan ” ciri sabumina cara sadesana” yang artinya setuju untuk mengikuti seluruh tradisi yang ada di wewengkon citorek, misalnya: ikut melaksanakn balik tahun, atau yang biasa di sebut oleh masyarakat wewengkon citorek adalah seren tahun , dimana acara tersebut di laksanakan sesudah panen padi, atau bisa di sebut hajatan panen padi, yang biasa di lakukan oleh masyarakat wewengkon citorek 1 (satu) tahun sekali , karena msayarakat di wewengkon citorek ini hampir semua masyarakat bertani, pertanian masyarakat yang di dominasi oleh penanaman padi lokal dengan masa tanaman satu tahun sekali dan seluruh kegiatan di awali hanya pada hari senin adapun penanamannya tidak dapat atau tidak di perbolehkan memakai alat – alat modern, pertanian itu di ikuti oleh seluruh- seluruh masyarakat wewengkon citorek.

Desa Citorek terletak di Kabupaten Lebak, Kec. Cibeber, dan mempunyai 4 wilayah adat/kasepuhan yaitu :

1. Citorek Timur yang dipimpin oleh Olot Didi

2. Citorek Barat dipimpin oleh Olot Umar

3. Citorek Tengah dipimpin oleh Olot Undikar

4. Citorek Selatan dipimpin oleh Olot Kusdi

Pada waktu di Lebak Singka ada Raja bernama Raja Suna, beliau membawa 2 orang keturunan Pangawinan (Pacalikan), kedua orang tersebut yaitu sepasang laki-laki dan perempuan, yang laki-laki dibawa ke Cikaret (Cisungsang, Cicarucub, dll) disebut Dulur Lalaki dan diberi bekal kemenyan, sedangkan yang perempuan dibawa ke Citorek disebut Dulur Awewe diberi bekal Panglay (kunyit besar), Masyarakat Citorek disebut juga dengan pangawinan kehidupannya sudah setengah modern karena jalan sudah ada, listrik dan Televisi sudah ada dan bangunan rumahnya beberapa sudah modern tetapi sebagian besar rumahnya masih asli (rumah panggung). Bahasa yang dimenggunakan bahasa Sunda, sebagian besar masyarakatnya menganut agama Islam dan setiap melakukan suatu kegiatan biasanya memakai kalender hijriah/islam, untuk itu setiap melakukan/menanam sesuatu harus membaca dua kalimat syahadat. Dalam kehidupan sosialnya menganut 3 (tiga) sistim yang di anut yaitu : Negara (jaro/lurah), Agama (panghulu), dan Karuhun (kasepuhan/kaolotan). Masyarakat Citorek sebagian besar penghidupannya dari menanam padi (nyawah), oleh karena itu masyarakat desa citorek jika ingin mempunyai istri harus bisa menanam padi. Ada hari-hari tertentu masyarakat Citorek tidak boleh melakukan kegiatan terutama di sawah yaitu hari Jumat dan Minggu, maksudnya kalau hari Jumat mereka harus melaksanakan shalat jumat, dan hari minggu mereka menghormati hari libur nasional/menghormati pemerintah. Dahulu masyarakat Citorek/pangawinan tidak boleh/dilarang memakai pakaian warna hitam, kain yang dibelah dua (semacam kain bugis), kopiah/laken, sepatu, rok/anderok , kebiasaan tersebut sekarang sudah tidak berlaku lagi, tapi kalau perempuannya sebagian besar masih memakai kain (tidak pakai rok). Setiap mengadakan perayaan selalu diiringi Goong Gede (Goong besar), goong gede ini dimainkan setahun 4 kali yaitu pada saat Ngaseuk, Mipit, Gegenek dan Seren Tahun. Goong gede terdiri dari saron, kecrek, kenong, dan kending. dimainkan oleh kurang lebih lima orang. Masyarakat Citorek sekarang sudah banyak meninggalkan tradisinya misal Neres dan Sedekah Bumi sudah tidak pernah dilakukan lagi karena masyarakatnya sudah modern dan tidak percaya kepada keyakinan leluhurnya.

1. Kasepuhan Citorek timur pertama di pimpin oleh Aki Mardai kakek dari Oyot/Oyok Didi, setelah beliau meninggal dunia digantikan oleh anaknya bernama Oyot Ijrai, Oyot Ijrai meninggal dunia digantikan oleh anak yaitu Oyot Didi sampai sekarang.

2. Kasepuhan Citorek Barat pertama di pimpin oleh seorang santri bernama Kiai Sarkam setelah meninggal dunia digantikan oleh anaknya bernama Oyot Sartim, setelah meninggal dunia digantikan oleh adiknya bernama oyot Usup dan beliau meninggal dunia digantikan oleh cucunya bernama Oyot Umar sampai sekarang.

3. Citorek Tengah pertama di pimpin oleh Aki Saki, setelah meninggal dunia diganti oleh anaknya Aki Sali dan satu bulan yang lalu beliau meninggal dunia digantikan oleh anaknya yang masih sekolah di kelas 3 SMP bernama Aki undikar.

4. Citorek Selatan yang sekarang dipimpin oleh Aki Kusdi

1. Neres

Neres adalah ritual yang dilakukan untuk menghilangkan penyakit masyarakat atau dilakukan jika daerah tersebut mengalami kejadian-kejadian yang merugikan, seperti menyebarnya wabah penyakit, paceklik, setiap menanam padi atau pepohonan yang hasilnya tidak bagus. Ritual ini dilakukan tidak setiap tahun tetapi sesuai dengan kejadian yang dialami.

a. Neres ada 2 yaitu :

– Neres Cai dilakukan di pinggir kali/walungan/parakan

– Neres Darat dilakukan didepan rumah masing-masing.

b. Peralatan Neres

– Rumput /Palias

– Basin/Baskom/Tobas (di isi oleh air yang muter /cai mulang dan ikan paray yang hidup).

– Sesajen (isinya Nasi kuning, dodol dll)

c. Cara-cara Neres

Neres bisa dilakukan dengan cara neres cai atau neres darat, pertama masyarakat berkumpul di pinggir kali atau di depan rumah sambil berjejer lalu kasepuhan/kaolotan memercikan air yang ada di basin oleh rumput yang telah dicelupkan ke basin tersebut beberapa kali setelah selesai air tersebut dibuang ke kali Cimadur. Sekarang Neres tidak pernah dilakukan lagi terakhir Neres dilakukan 15 tahun yang lalu, karena masyarakat sudah tidak percaya lagi dengan ritual tersebut.

2. Sedekah Bumi

Sedekah bumi adalah selamatan/ruatan yang dilakukan oleh masyarakat dengan cara menyembelih kerbau. Tujuannya agar tanah leluhurnya selalu mendapat keberkahan, selalu subur, aman dan tentram. Sedekah Bumi dilakukan 3 tahun sekali. Caranya : kerbau disembelih , kepalanya di kubur dan dagingnya dibagikan ke masyarakat, setelah sebelumnya diadakan syukuran/selametan. Sekarang tidak pernah dilakukan lagi, terlakhir dilakukan pada waktu Jaro Nurkib kurang lebih 50 tahun yang lalu.

3. Seren taun

Seren taun adalah ritual yang dilakukan oleh masyarakat Citorek tiap satu tahun sekali, biasanya di bulan Syawal. Tujuannya untuk menghormati dan sebagai tanda terima kasih kepada Yang Maha Kuasa dan Leluhur yang telah memberikan keberkahan dan kesuburan. Masyarakat Citorek setiap mengadakan perayaan Sunatan/hajatan selalu dilakukan saat seren taun, perayaan sunatan dilakukan secara besar-besaran beda dengan mengadakan perayaan pernikahan dilakukan hanya dengan penghulu tanpa perayaan. Sampai sekarang Perayaan Seren taun masih dilakukan. Sebelum dilakukan perayaan Seren taun, masyarakat melakukan hal-hal sebagai berikut :

1. Ngaseuk

Ngaseuk adalah waktu menanam padi, dan Acara Ngaseuk biasanya dirayakan dengan menabuh Goong besar (goong gede). Pada waktu ngaseuk dilaksanakan Tanur/tandur (binih kana binih) yang biasanya dilakukan waktu Silih Mulud . Pada saat padi sudah bagus (pare geus gumuna) atau supaya padi jadi bagus masyarakat Citorek biasanya tidak memakai pupuk yang memakai bahan kimia dari luar atau tidak pernah membeli pupuk, mereka biasanya membuat pupuk sendiri yaitu dari padi yang dibikin tepung atau bikin bubur dicampur dengan kelapa muda dan gula merah.

2. Mipit

Mipit adalah perayaan di waktu panen (ngambil padi). Biasanya dirayakan dengan menabuh Goong besar (goong gede). Sebelum sawah tangtu atau sawah yang punya kokolot/kasepuhan dipanen, maka masyarakat tidak akan memanen sawahnya walaupun sawah masyarakat tersebut sampe busuk sebelum sawah tangtu di ambil harus nunggu (kajeun teuing nu kami buruk lamun sawah tangtu can kolot atau can asak ulah di ala heula). Mipit biasanya dilakukan bulan Rewah/Ruwah. Setelah dipanen disimpan di lantai atau di jemur setelah kering diangkut/direngkong, dimasukan dan didudukan ke leuit (tempat padi).

3. Gegenek / Bendrong lisung

Gegenek adalah saat numbuk padi dan dilakukan oleh ibu-ibu sebanyak kurang lebih sepuluh orang, sambil nyanyi-nyanyi/lalaguan dan diiringi oleh goong gede. Sebelum padi ditumbuk harus nganyaran/dianyaran maksudnya jika padi sudah dipanen maka harus di jemur lalu di tumbuk, tetapi sebelumnya harus mengadakan syukuran/salametan.

5. Seren taun di Desa Adat Citorek :

1. Nganjang/babawaan

Nganjang yaitu satu hari sebelum perayaan seren tahun (sebelum hari H) harus membawa/masrahkeun sisa hasil bumi kepada kasepuhan yang disebut ngajiwa dan biasanya di tempat Olot Didi. Hasil buminya biasanya apa saja yang mereka punya misal : padi, pisang, ternak dll. Dengan diiringi Goong Gedek sambil iring-iringan.

2. Hiburan/raramean

Hiburan dilakukan pada malam hari sebelum perayaan seren taun, biasanya hiburan topeng, koromong, Angklung, dankdutan dll.

3. Memotong Kerbau

Motong kerbau dilakukan pagi hari dilakukan oleh para sesepuh/kokolot setelah itu daging tersebut yang disebut daging jiwaan dibagikan kepada seluruh masyarakat Citorek/ kepada tiap keluarga (susuhunan), semua masyarakat harus dapat bagian walaupun sedikit. Daging Kerbau tersebut dibeli dari iuran masyarakat.

5. Rasul serah tahun / syukuran / selametan

Syukuran dilakukan di Citorek Timur di tempat Oyok Didi, biasanya para kasepuhan/kokolot, jaro, panghulu berkumpul sambil makan-makan dan musyawarah.

6. Hajatan/Sunatan

Kebiasaan masyarakat Citorek jika akan mengadakan perayaan sunatan selalu dilakukan sekalian pada saat seren taun, dilakukan setelah selametan/syukuran.

7. Kariyaan/mulangkeun ka kolot

Penutup acara sambil menabuh Goong gede, mereka menyebut acara asup leuweung menta kahirupan maksudnya mulai ke kehidupan rutinitas, masyarakat mulai kerja seperti biasa ada yang pergi kerja ke kota atau ke sawah.

CITOREK adalah sebuah perkampungan yang sangat strategis, yang letak nya berada di kaki gunung halimun ujung kulon.citorrek merupkan desa yang di dalam nya terdapat adat istiadat yang sangat melekat dalam jiwa penduduk citorek.selain dari pada itu warga citorek juga memilki keunikan tersendiri yaitu warga citorek hampir 100% semua nya tani dan mengharapkan hasil tanah yang biasanya menanam padi dan di panenen pada satu tahun sekali. Citorek memiliki adat yang berbeda dengan desa lain seperti membawa arak-arakan padi dari sawah kokolot kampung yang di sebut dengan istilah ( ngarengkong), sebenranya banyak berbagai kunikan yang di miliki oleh kesepuhan desa citorek, maka ini tugas kita bersama bagaimana unntuk melestarikan nya.

Rabu, 25 juni 2012, http://www.bantenculturetourism.com

Kusanaka adimardja “pengolahan lingkungan secara tradisoinal di kawasan gunung halimun jawa barat. Penerbit taristi. 1992

 

WAWANCARA

(43 TAHUN) Maman. Tokoh masyarakat citorek

(30 TAHU ) ROHENDI. Kordinator kesepuahan

 

 

 

 

 

Prinsip Dasar Pembangunan Ekonomi Daerah

by

Herry Darwanto

Setiap daerah mempunyai corak pertumbuhan ekonomi yang berbeda dengan daerah lain. Oleh sebab itu perencanaan pembangunan ekonomi suatu daerah pertama-tama perlu mengenali karakter ekonomi, sosial dan fisik daerah itu sendiri, termasuk interaksinya dengan daerah lain. Dengan demikian tidak ada strategi pembangunan ekonomi daerah yang dapat berlaku untuk semua daerah. Namun di pihak lain, dalam menyusun strategi pembangunan ekonomi daerah, baik jangka pendek maupun jangka panjang, pemahaman mengenai teori pertumbuhan ekonomi wilayah, yang dirangkum dari kajian terhadap pola-pola pertumbuhan ekonomi dari berbagai wilayah, merupakan satu faktor yang cukup menentukan kualitas rencana pembangunan ekonomi daerah.

Keinginan kuat dari pemerintah daerah untuk membuat strategi pengembangan ekonomi daerah dapat membuat masyarakat ikut serta membentuk bangun ekonomi daerah yang dicita-citakan. Dengan pembangunan ekonomi daerah yang terencana, pembayar pajak dan penanam modal juga dapat tergerak untuk mengupayakan peningkatan ekonomi. Kebijakan pertanian yang mantap, misalnya, akan membuat pengusaha dapat melihat ada peluang untuk peningkatan produksi pertanian dan perluasan ekspor. Dengan peningkatan efisiensi pola kerja pemerintahan dalam pembangunan, sebagai bagian dari perencanaan pembangunan, pengusaha dapat mengantisipasi bahwa pajak dan retribusi tidak naik, sehingga tersedia lebih banyak modal bagi pembangunan ekonomi daerah pada tahun depan.

Pembangunan ekonomi daerah perlu memberikan solusi jangka pendek dan jangka panjang terhadap isu-isu ekonomi daerah yang dihadapi, dan perlu mengkoreksi kebijakan yang keliru. Pembangunan ekonomi daerah merupakan bagian dari pembangunan daerah secara menyeluruh. Dua prinsip dasar pengembangan ekonomi daerah yang perlu diperhatikan adalah (1) mengenali ekonomi wilayah dan (2) merumuskan manajemen pembangunan daerah yang pro-bisnis.

I. Mengenali Ekonomi Wilayah

Isu-isu utama dalam perkembangan ekonomi daerah yang perlu dikenali adalah antara lain sebagai berikut.

a. Perkembangan Penduduk dan Urbanisasi

Pertumbuhan penduduk merupakan faktor utama pertumbuhan ekonomi, yang mampu menyebabkan suatu wilayah berubah cepat dari desa pertanian menjadi agropolitan dan selanjutnya menjadi kota besar. Pertumbuhan penduduk terjadi akibat proses pertumbuhan alami dan urbanisasi. Petumbuhan alami penduduk menjadi faktor utama yang berpengaruh pada ekonomi wilayah karena menciptakan kebutuhan akan berbagai barang dan jasa. Penduduk yang bertambah membutuhkan pangan. Rumah tangga baru juga membutuhkan rumah baru atau renovasi rumah lama berikut perabotan, alat-alat rumah tangga dan berbagai produk lain. Dari sini kegiatan pertanian dan industri berkembang.

Urbanisasi dilakukan oleh orang-orang muda usia yang pergi mencari pekerjaan di industri atau perusahaan yang jauh dari tempat dimana mereka berasal. Perpindahan ke wilayah lain dari desa atau kota kecil telah menjadi tren dari waktu ke waktu akibat pengaruh dari televisi, perusahaan pengerah tenaga kerja, dan berbagai sumber lainnya. Suatu kajian mengindikasikan bahwa pendidikan berkaitan erat dengan perpindahan ini. Secara umum semakin tinggi tingkat pendidikan maka tingkat perpindahan pun semakin tinggi. Hal ini semakin meningkat dengan semakin majunya telekomunikasi, komputer dan aktivitas high tech lainnya yang memudahkan akses keluar wilayah.

Urbanisasi orang-orang muda ini dipandang pelakunya sebagai penyaluran kebutuhan ekonomi mereka namun merupakan peristiwa yang kurang menguntungkan bagi wilayah itu bila terjadi dalam jumlah besar. Untuk mengurangi migrasi keluar ini masyarakat perlu untuk mulai melatih angkatan kerja pada tahun-tahun pertama usia kerja dengan memberikan pekerjaan sambilan, selanjutnya merencanakan masa depan mereka sebagai tenaga dewasa yang suatu saat akan membentuk keluarga. Sebagai dorongan bagi mereka untuk tetap tinggal adalah dengan menyediakan lapangan pekerjaan yang sesuai.

Lembaga pendidikan/pelatihan dan dunia usaha perlu menyadari adanya kebutuhan untuk membangun hubungan kerjasama. Pendidikan mencari cara agar mereka cukup berguna bagi pengusaha lokal dan pengusaha lokal mengandalkan pada pendidikan untuk meningkatkan kemampuan tenaga kerja lokal. Jika metode pendidikan yang ada tidak dapat mengatasi tantangan yang dihadapi, maka ada keperluan untuk mendatangkan tenaga ahli dari wilayah lain untuk memberikan pelatihan yang dapat mensuplai tenaga kerja terampil bagi pengusaha lokal.

b. Sektor Pertanian

Di setiap wilayah berpenduduk selalu terjadi kegiatan pembangunan, namun ada beberapa wilayah yang pembangunannya berjalan di tempat atau bahkan berhenti sama sekali, dan wilayah ini kemudian menjadi wilayah kelas kedua dalam kegiatan ekonomi. Hal ini mengakibatkan penanam modal dan pelaku bisnis keluar dari wilayah tersebut karena wilayah itu dianggap sudah tidak layak lagi untuk dijadikan tempat berusaha. Akibatnya laju pertumbuhan ekonomi wilayah itu menjadi semakin lambat.

Upaya pengembangan sektor agribisnis dapat menolong mengembangkan dan mempromosikan agroindustri di wilayah tertinggal. Program kerjasama dengan pemilik lahan atau pihak pengembang untuk mau meminjamkan lahan yang tidak dibangun atau lahan tidur untuk digunakan sebagai lahan pertanian perlu dikembangkan. Dari jumlah lahan pertanian yang tidak produktif ini dapat diciptakan pendapatan dan lapangan kerja bagi penganggur di perdesaan. Program kerjasama mengatasi keterbatasan modal, mengurangi resiko produksi, memungkinkan petani memakai bahan baku impor dan produk yang dihasilkan dapat mampu bersaing dengan barang impor yang sejenis serta mencarikan dan membuka pasaran yang baru.

Faktor-faktor penentu pertumbuhan ekonomi dapat berasal dari dalam wilayah maupun dari luar wilayah. Globalisasi adalah faktor luar yang dapat menyebabkan merosotnya kegiatan ekonomi di suatu wilayah. Sebagai contoh, karena kebijakan AFTA, maka di pasaran dapat terjadi kelebihan stok produk pertanian akibat impor dalam jumlah besar dari negara ASEAN yang bisa merusak sistem dan harga pasar lokal. Untuk tetap dapat bersaing, target pemasaran yang baru harus segera ditentukan untuk menyalurkan kelebihan hasil produksi pertanian dari petani lokal. Salah satu strategi yang harus dipelajari adalah bagaimana caranya agar petani setempat dapat mengikuti dan melaksanakan proses produksi sampai ke tingkat penyaluran. Namun daripada bersaing dengan produk impor yang masuk dengan harga murah, akan lebih baik jika petani setempat mengolah komoditi yang spesifik wilayah tersebut dan menjadikannya produk yang bernilai jual tinggi untuk kemudian disebarluaskan di pasaran setempat maupun untuk diekspor.

Apa yang telah terjadi di Pulau Jawa kiranya perlu dihindari oleh daerah-daerah lain. Pengalihan fungsi sawah menjadi fungsi lain telah terjadi tanpa sulit dicegah. Hal ini mengurangi pemasukan ekonomi dari sektor pertanian di wilayah tersebut, disamping itu juga menghilangkan kesempatan untuk menjadikan wilayah yang mandiri dalam pengadaan pangan, termasuk mengurangi kemungkinan berkembangnya wisata ekologi yang memerlukan lahan alami.

c. Sektor Pariwisata

Pariwisata memberikan dukungan ekonomi yang kuat terhadap suatu wilayah. Industri ini dapat menghasilkan pendapatan besar bagi ekonomi lokal. Kawasan sepanjang pantai yang bersih dapat menjadi daya tarik wilayah, dan kemudian berlanjut dengan menarik turis dan penduduk ke wilayah tersebut. Sebagai salah satu lokasi rekreasi, kawasan pantai dapat merupakan tempat yang lebih komersial dibandingkan kawasan lain, tergantung karakteristiknya. Sebagai sumber alam yang terbatas, hal penting yang harus diperhatikan adalah wilayah pantai haruslah menjadi aset ekonomi untuk suatu wilayah.

Wisata ekologi memfokuskan pada pemanfaatan lingkungan. Kawasan wisata ekologi merupakan wilayah luas dengan habitat yang masih asli yang dapat memberikan landasan bagi terbentuknya wisata ekologi. Hal ini merupakan peluang unik untuk menarik pasar wisata ekologi. Membangun tempat ini dengan berbagai aktivitas seperti berkuda, surfing, berkemah, memancing dll. akan dapat membantu perluasan pariwisata serta mengurangi kesenjangan akibat pengganguran.

Wisata budaya merupakan segmen yang berkembang cepat dari industri pariwisata. Karakter dan pesona dari desa/kota kecil adalah faktor utama dalam menarik turis. Namun kegiatan pariwisata bersifat musiman, sehingga banyak pekerjaan bersifat musiman juga, yang dapat menyebabkan tingginya tingkat pengangguran pada waktu-waktu tertentu. Hal ini menyebabkan ekonomi lokal dapat rentan terhadap perputaran siklus ekonomi.

Ekonomi wilayah sebaiknya tidak berbasis satu sektor tertentu. Keaneka-ragaman ekonomi diperlukan untuk mempertahankan lapangan pekerjaan dan untuk menstabilkan ekonomi wilayah. Ekonomi yang beragam lebih mampu bertahan terhadap konjungtur ekonomi.

d. Kualitas Lingkungan

Persepsi atas suatu wilayah, apakah memiliki kualitas hidup yang baik, merupakan hal penting bagi dunia usaha untuk melakukan investasi. Investasi pemerintah daerah yang meningkatkan kualitas hidup masyarakat sangat penting untuk mempertahankan daya saing. Jika masyarakat ingin menarik modal dan investasi, maka haruslah siap untuk memberi perhatian terhadap: keanekaragaman, identitas dan sikap bersahabat. Pengenalan terhadap fasilitas untuk mendorong kualitas hidup yang dapat dinikmati oleh penduduk suatu wilayah dan dapat menarik bagi investor luar perlu dilakukan.

Kawasan bersejarah adalah pembentuk kualitas lingkungan yang penting. Pelestarian kawasan bersejarah berkaitan dengan berbagai aspek ekonomi lokal seperti keuangan daerah, permukiman, perdagangan kecil, dan pariwisata dengan menciptakan pekerjaan yang dapat signifikan. Kegiatan ini memberikan kontribusi terhadap kualitas hidup, meningkatkan citra masyarakat dan menarik kegiatan ekonomi yang menghasilkan pendapatan bagi penduduk. Pelestarian kawasan bersejarah memberikan perlindungan kepada warisan budaya dan membuat masyarakat memiliki tempat yang menyenangkan untuk hidup. Investor dan developer umumnya menilai kekuatan wilayah melalui kualitas dan karakter dari wilayahnya, salah satunya adalah terpeliharanya kawasan bersejarah.

Selain aset alam dan budaya, sarana umum merupakan penarik kegiatan bisnis yang penting. Untuk melihat dan mengukur tingkat kenyamanan hidup pada suatu wilayah dapat dilihat dari ketersediaan sarana umum di wilayah tersebut. Sarana umum merupakan kerangka utama dari pembangunan ekonomi dan sarana umum ini sangat penting bagi aktivitas masyarakat. Sarana umum yang palling dasar adalah jalan, pelabuhan, pembangkit listrik, sistim pengairan, sarana air bersih, penampungan dan pengolahan sampah dan limbah, sarana pendidikan seperti sekolah, taman bermain, ruang terbuka hijau, sarana ibadah, dan masih banyak fasilitas lainnya yang berhubungan dengan kegiatan sehari-hari masyarakat.

Kepadatan, pemanfaatan lahan dan jarak merupakan tiga faktor utama dalam pengembangan sarana umum yang efektif. Semakin padat dan rapat penduduk, biaya yang dikeluarkan untuk pengadaan sarana umum jauh lebih murah jika dilihat daya tampung per unitnya. Pola pembangunan yang padat, kompak dan teratur, berbiaya lebih murah daripada pembangunan yang linier atau terpencar-pencar. Semakin efisien biaya yang dikeluarkan untuk pemeliharaan dan pengadaan sarana umum maka akan semakin memperkokoh dan memperkuat pembangunan ekonomi wilayah tersebut.

Sarana umum yang baru perlu dibangun sejalan dengan pertambahan jumlah penduduk. Idealnya fasilitas sarana umum yang ada harus dapat menampung sesuai dengan kapasitas maksimalnya, sehingga dapat memberikan waktu untuk dapat membangun sarana umum yang baru. Penggunaan lahan dan sarana umum haruslah saling berkaitan satu sama lainnya. Perencana pembangunan seharusnya dapat memprediksikan arah pembangunan yang akan berlangsung sehingga dapat dibuat sarana umum yang baru untuk menunjang kegiatan masyarakat pada wilayah tersebut. Penyediaan sarana dapat juga dilakukan dengan memberikan potongan pajak dan ongkos kompensasi berupa pengelolaan sarana umum kepada sektor swasta yang bersedia membangun fasilitas umum.

Wilayah pinggiran biasanya memiliki karakter sebagai wilayah yang tidak direncanakan, berkepadatan rendah dan tergantung sekali keberadaannya pada penggunaan lahan yang ada. Tempat seperti ini akan membuat penyediaan sarana umum menjadi sangat mahal. Dalam suatu wilayah antara kota, desa dan tempat-tempat lainnya harus ada satu kesatuan. Pemerintah daerah perlu mengenali pola pengadaan sarana umum di suatu wilayah yang efektif, baik di wilayah lama maupun di wilayah pinggiran.

e. Keterkaitan Wilayah dan Aglomerasi

Kemampuan wilayah untuk mengefisienkan pergerakan orang, barang dan jasa adalah komponen pembangunan ekonomi yang penting. Suatu wilayah perlu memiliki akses transportasi menuju pasar secara lancar. Jalur jalan yang menghubungkan suatu wilayah dengan kota-kota lebih besar merupakan prasarana utama bagi pengembangan ekonomi wilayah. Pelabuhan laut dan udara berpotensi untuk meningkatkan hubungan transportasi selanjutnya. Pemeliharaan jaringan jalan, perluasan jalur udara, jalur air diperlukan untuk meningkatkan mobilitas penduduk dan pergerakan barang. Pembangunan prasarana diperlukan untuk meningkatkan daya tarik dan daya saing wilayah. Mengenali kebutuhan pergerakan yang sebenarnya perlu dilakukan dalam merencanakan pembangunan tarsnportasi.

Umumnya usaha yang sama cenderung beraglomerasi dan membentuk kelompok usaha dengan karakter yang sama serta tipe tenaga kerja yang sama. Produk dan jasa yang dihasilkan juga satu tipe. Sumber daya alam dan industri pertanian biasanya berada di tahap awal pembangunan wilayah dan menciptakan kesempatan yang potensial untuk perkembangan wilayah. Pengelompokan usaha (aglomerasi) berarti semua industri yang saling berkaitan saling membagi hasil produk dan keuntungan. Pengelompokan itu juga menciptakan potensi untuk menciptakan jaringan kerjasama yang dapat membangun kegiatan pemasaran bersama dan untuk menarik kegiatan lainnya yang berkaitan ke depan atau ke belakang.

Pertumbuhan ekonomi yang sehat sangat penting jika suatu wilayah ingin bersaing di pasar lokal dan nasional. Untuk mencapai tujuan ini, pendekatan kawasan yang terpadu diperlukan untuk mempromosikan pembangunan ekonomi. Prioritas utama adalah mengidentifikasi kawasan-kawasan yang menunjukkan tanda-tanda aglomerasi dengan seluruh kegiatan dan institusi yang membentuknya. Kemungkinan kawasan ini menjadi pusat usaha dan perdagangan tergantung pada jaringan transportasi yang baik, prasarana yang lengkap, tempat kerja yang mudah dicapai, dukungan modal, dan kesempatan pelatihan/pendidikan.

II. Manajemen Pembangunan Daerah Yang Pro-Bisnis

Pemerintah daerah dan pengusaha adalah dua kelompok yang paling berpengaruh dalam menentukan corak pertumbuhan ekonomi daerah. Pemerintah daerah, mempunyai kelebihan dalam satu hal, dan tentu saja keterbatasan dalam hal lain, demikian juga pengusaha. Sinergi antara keduanya untuk merencanakan bagaimana ekonomi daerah akan diarahkan perlu menjadi pemahaman bersama. Pemerintah daerah mempunyai kesempatan membuat berbagai peraturan, menyediakan berbagai sarana dan peluang, serta membentuk wawasan orang banyak. Tetapi pemerintah daerah tidak mengetahui banyak bagaimana proses kegiatan ekonomi sebenarnya berlangsung. Pengusaha mempunyai kemampuan mengenali kebutuhan orang banyak dan dengan berbagai insiatifnya, memenuhi kebutuhan itu. Aktivitas memenuhi kebutuhan itu membuat roda perekonomian berputar, menghasilkan gaji dan upah bagi pekerja dan pajak bagi pemerintah. Dengan pajak, pemerintah daerah berkesempatan membentuk kondisi agar perekonomian daerah berkembang lebih lanjut.

Pemerintah daerah dalam mempertahankan keberlanjutan pembangunan ekonomi daerahnya agar membawa dampak yang menguntungkan bagi penduduk daerah perlu memahami bahwa manajemen pembangunan daerah dapat memberikan pengaruh yang baik guna mencapai tujuan pembangunan ekonomi yang diharapkan. Bila kebijakan manajemen pembangunan tidak tepat sasaran maka akan mengakibatkan perlambatan laju pertumbuhan ekonomi. Maka manajemen pembangunan daerah mempunyai potensi untuk meningkatkan pembangunan ekonomi serta menciptakan peluang bisnis yang menguntungkan dalam mempercepat laju pertumbuhan ekonomi daerah.

Prinsip-prinsip manajemen pembangunan yang pro-bisnis adalah antara lain sebagai berikut.

a. Menyediakan Informasi kepada Pengusaha

Pemerintah daerah dapat memberikan informasi kepada para pelaku ekonomi di daerahnya ataupun di luar daerahnya kapan, dimana, dan apa saja jenis investasi yang sesuai dengan kebutuhan pembangunan yang akan datang. Dengan cara ini maka pihak pengusaha dapat mengetahui arah kebijakan pembangunan daerah yang diinginkan pemerintah daerah, sehingga dapat digunakan sebagai dasar pertimbangan dalam menentukan dalam kegiatan apa usahanya akan perlu dikembangkan. Pemerintah daerah perlu terbuka mengenai kebijakan pembangunannya, dan informasi yang diterima publik perlu diupayakan sesuai dengan yang diinginkan.

b. Memberikan Kepastian dan Kejelasan Kebijakan

Salah satu kendala berusaha adalah pola serta arah kebijakan publik yang berubah-ubah sedangkan pihak investor memerlukan ada kepastian mengenai arah serta tujuan kebijakan pemerintah. Strategi pembangunan ekonomi daerah yang baik dapat membuat pengusaha yakin bahwa investasinya akan menghasilkan keuntungan di kemudian hari. Perhatian utama calon penanam modal oleh sebab itu adalah masalah kepastian kebijakan. Pemerintah daerah akan harus menghindari adanya tumpang tindih kebijakan jika menghargai peran pengusaha dalam membangun ekonomi daerah. Ini menuntut adanya saling komunikasi diantara instansi-instansi penentu perkembangan ekonomi daerah. Dengan cara ini, suatu instansi dapat mengetahui apa yang sedang dan akan dilakukan instansi lain, sehingga dapat mengurangi terjadinya kemiripan kegiatan atau ketiadaan dukungan yang diperlukan.

Pengusaha juga mengharapkan kepastian kebijakan antar waktu. Kebijakan yang berubah-ubah akan membuat pengusaha kehilangan kepercayaan mengenai keseriusannya membangun ekonomi daerah. Pengusaha daerah umumnya sangat jeli dengan perilaku pengambil kebijakan di daerahnya. Kerjasama yang saling menguntungkan mensyaratkan adanya kepercayaan terhadap mitra usaha. Membangun kepercayaan perlu dilakukan secara terencana dan merupakan bagian dari upaya pembangunan daerah.

c. Mendorong Sektor Jasa dan Perdagangan

Sektor ekonomi yang umumnya bekembang cepat di kota-kota adalah sektor perdagangan kecil dan jasa. Sektor ini sangat tergantung pada jarak dan tingkat kepadatan penduduk. Persebaran penduduk yang berjauhan dan tingkat kepadatan penduduk yang rendah akan memperlemah sektor jasa dan perdagangan eceran, yang mengakibatkan peluang kerja berkurang. Semakin dekat penduduk, maka interaksi antar mereka akan mendorong kegiatan sektor jasa dan perdagangan. Seharusnya pedagang kecil mendapat tempat yang mudah untuk berusaha, karena telah membantu pemerintah daerah mengurangi pengangguran. Pada waktunya pengusaha kecil akan membayar pajak kepada pemerintah daerah. Dengan menstimulir usaha jasa dan perdagangan eceran, pertukaran ekonomi yang lebih cepat dapat terjadi sehingga menghasilkan investasi yang lebih besar. Adanya banyak pusat-pusat pedagang kaki lima yang efisien dan teratur akan menarik lebih banyak investasi bagi ekonomi daerah dalam jangka panjang.

Sebagian besar lapangan kerja yang ada dalam suatu wilayah diciptakan oleh usaha kecil dan menengah. Namun usaha kecil juga rentan terhadap ketidakstabilan, yang terutama berkaitan dengan pasar dan modal, walaupun secara umum dibandingkan sektor skala besar, usaha kecil dan menengah lebih tangguh menghadapi krisis ekonomi. Pemerintah daerah perlu berupaya agar konjungtur ekonomi tidak berpengaruh negatif terhadap kelangsungan usaha kecil.

d. Meningkatkan Daya Saing Pengusaha Daerah

Kualitas strategi pembangunan ekonomi daerah dapat dilihat dari apa yang akan dilakukan pemerintah daerah dalam menyiapkan pengusaha-pengusaha di daerahnya menghadapi persaingan global. Globalisasi (atau penduniaan) akan semakin mempengaruhi perkembangan ekonomi daerah dengan berlakunya perjanjian AFTA, APEC dan lain-lain. Mau tidak mau, siap atau tidak siap perdagangan bebas akan menjadi satu-satunya pilihan bagi masyarakat di semua daerah. Upaya untuk menyiapkan pengusaha daerah oleh sebab itu perlu dilakukan. Pengusaha dari negara maju telah siap atau disiapkan sejak lama. Pengusaha daerah juga perlu diberitahu konsekuensi langsung dari ketidaksiapan menghadapi perdagangan bebas. Saat ini, pengusaha lokal mungkin masih dapat meminta pengertian manajer supermarket untuk mendapatkan tempat guna menjual produksinya. Tahun depan, bisa tidak ada toleransi untuk produksi lokal yang tidak lebih murah, tidak lebih berkualitas dan tidak lebih tetap pasokannya.

Meningkatkan daya saing adalah dengan meningkatkan persaingan itu sendiri. Ini berarti perlakuan-perlakukan khusus harus ditinggalkan. Proteksi perlu ditiadakan segera ataupun bertahap. Pengembangan produk yang sukses adalah yang berorientasi pasar, ini berarti pemerintah daerah perlu mendorong pengusaha untuk selalu meningkatkan efisiensi teknis dan ekonomis. Peraturan perdagangan internasional harus diperkenalkan dan diterapkan. Perlu ada upaya terencana agar setiap pejabat pemerinah daerah mengerti peraturan-peraturan perdagangan internasional ini, untuk dapat mendorong pengusaha-pengusaha daerah menjadi pemain-pemain yang tangguh dalam perdagangan bebas, baik pada lingkup daerah, nasional maupun internasional.

e. Membentuk Ruang yang Mendorong Kegiatan Ekonomi

Membentuk ruang khusus untuk kegiatan ekonomi akan lebih langsung menggerakkan kegiatan ekonomi. Pemerintah daerah perlu berusaha mengantisipasi kawasan-kawasan mana yang dapat ditumbuhkan menjadi pusat-pusat perekonomian wilayah. Kawasan-kawasan yang strategis dan cepat tumbuh ini dapat berupa kawasan yang sudah menunjukkan tanda-tanda aglomerasi, seperti sentra-sentra produksi pertanian tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, peternakan, perikanan; klaster industri, dsb. Kawasan cepat tumbuh juga dapat berupa kawasan yang sengaja dibangun untuk memanfaatkan potensi SDA yang belum diolah, seperti yang dulu dikembangkan dengan sistim permukiman transmigrasi. Kawasan-kawasan ini perlu dikenali dan selanjutnya ditumbuhkan dengan berbagai upaya pengembangan kegiatan ekonomi, seperti pengadaan terminal agribisnis, pengerasan jalan, pelatihan bisnis, promosi dsb. Pengembangan kawasan-kawasan strategis dan cepat tumbuh ini perlu dilakukan bersamaan dengan upaya peningkatan keterampilan, pengembangan usaha, dan penguatan keberdayaan masyarakat

sumber: www.bappenas.go.id

zp8497586rq
Komentar Dinonaktifkan pada Prinsip Dasar Pembangunan Ekonomi Daerah

Pengelolaan Sampah Terpadu 3R, Era Baru Manajemen Sampah Kota

by

Mohamad Satori )*
Salah satu tantangan yang dihadapi oleh pengelola perkotaan adalah penanganan masalah persampahan. Berdasarkan data BPS tahun 2000, dari 384 kota yang menimbulkan sampah sebesar 80.235,87 ton setiap hari, penanganan sampah yang diangkut ke dan dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) adalah sebesar 4,2 %, yang dibakar sebesar 37,6 % , yang dibuang ke sungai 4,9 % dan tidak tertangani sebesar 53,3 % (Infrastruktur Indonesia Sebelum, Selama dan Pasca Krisis, Deputi Bidang Sarana dan Prasarana Bappenas, Oktober 2002).
Hal tersebut disebabkan oleh beberapa hal, diantaranya pertambahan penduduk dan arus urbanisasi yang pesat telah menyebabkan timbulan sampah pada perkotaan semakin tinggi, kendaraan pengangkut yang jumlah maupun kondisinya kurang memadai, sistem pengelolaan TPA yang kurang tepat dan tidak ramah lingkungan, dan belum diterapkannya pendekatan reduce, reuse dan recycle (3 R).
Besarnya timbulan sampah yang tidak dapat ditangani tersebut akan menyebabkan berbagai permasalahan baik langsung maupun tidak langsung bagi penduduk kota. Dampak langsung dari penanganan sampah yang kurang bijaksana diantaranya adalah berbagai penyakit menular maupun penyakit kulit serta gangguan pernafasan, sedangkan dampak tidak langsungnya di antaranya adalah bahaya banjir yang disebabkan oleh terhambatnya arus air di sungai karena terhalang timbunan sampah yang dibuang ke sungai. Salah satu tujuan wisata, Indonesia pernah diberitakan dalam media cetak asing sebagai kawasan tidak sehat karena persampahan yang tidak ditangani secara serius. Berita tersebut mencuat karena dalam satu kurun waktu, beberapa turis mancanegara terserang penyakit kolera sehingga perlu diterbangkan kembali ke negaranya (Wibowo dan Djajawinata, 2004).
Menurunnya kualitas pengelolaan sampah secara signifikan umumnya mulai terjadi sejak krisis ekonomi yang berkepanjangan menimpa seluruh kota di Indonesia. Hal tersebut berdampak pada penurunan kinerja sarana dan prasarana persampahan serta menurunnya kapasitas pembiayaan dan retribusi. Selain itu juga muncul fenomena menurunnya peran serta masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan. Berdasarkan hasil survey BPS tahun 2000, tingkat pelayanan sampah hanya mencapai 41 % (rata-rata nasional) dan penerimaan retribusi hanya 22 %.
Adanya berbagai komitmen internasional seperti pemenuhan target MDGs yang mensyaratkan peningkatan pelayanan separuh dari jumlah penduduk yang belum mempunyai akses pelayanan persampahan sampai tahun 2015 (kurang lebih 70 % pada tahun 2015) dan pengurangan emisi berdasarkan Kyoto Protocol, menuntut kesungguhan semua stakeholders persampahan baik di tingkat pusat, daerah, dunia usaha dan masyarakat untuk meningkatkan sistem pengelolaan persampahan agar berkelanjutan.
Dalam rangka memperingati Hari Habitat Dunia yang jatuh pada tanggal 3 Oktober telah dilakukan serangkaian diskusi nasional yang salah satu hasilnya adalah suatu rencana tindak untuk menyikapi kondisi persampahan yang ada saat ini serta dalam rangka menerapkan Kebijakan Nasional Pembangunan Bidang Persampahan dan sebagai upaya pencapaian target MDGs.
Permasalahan persampahan yang sudah mengemuka secara nasional didominasi oleh wilayah perkotaan yang memiliki keterbatasan wilayah TPA sehingga dampaknya tidak saja terhadap pencemaran lingkungan tetapi sudah menelan korban. Meskipun demikian, saat ini permasalahan sampah masih terus berlanjut. Upaya perbaikan yang telah dilakukan oleh berbagai pihak masih belum menunjukan hasil yang signifikan. Demikian juga yang berkaitan dengan upaya pengurangan volume sampah yang harus dibuang ke TPA melalui program 3 R masih belum dilaksanakan secara sungguh-sungguh, karena sulitnya melaksanakan perubahan prilaku masyarakat dalam pemilahan sampah serta sulitnya merubah cara pandang ” sampah sebagai sumber daya “
)*Wakil Dekan I Fakultas Teknik UNISBA

zp8497586rq