The Baduy of Indonesia

by

The Baduy (or Badui), who call themselves Kanekes, are a traditional community living in the western part of the Indonesian province of Banten, near Rangkasbitung. Their population of between 5,000 and 8,000 is centered in the Kendeng mountains at an elevation of 300-500 meters above sea level. Their homeland in Banten, Java is contained in just 50 sq. kilometers of hilly forest area 120 km from Jakarta, Indonesia’s capital.The word Baduy may come from the term “Bedouin”, although other sources claim the source is a name of a local river. The Baduy observe many mystical taboos. They are forbidden to kill, steal, lie, commit adultery, get drunk, eat food at night, take any form of conveyance, wear flowers or perfumes, accept gold or silver, touch money, or cut their hair. Other taboos relate to defending Baduy lands against invasion: they may not grow sawah (wet rice), use fertilizers, raise cash crops, use modern tools for working ladang soil, or keep large domestic animals

SENDRATARI RAMAYANA DI KAWASAN WISATA CANDI PRAMBANAN

by

Emiliana Sadilah

Abstrak
Sendratari Ramayana merupakan salah satu bentuk kesenian tradisional dan telah diangkat sebagai seni pertunjukan di arena wisata Candi Prambanan. Sendratari Ramayana ini mengisahkan perjalanan hidup Rama dan Shinta dengan sumber ceritanya diambil dari cerita epos Ramayana. Sinopsis ceritanya terdapat pada dinding Candi Prambanan dalam bentuk relief, khususnya yang ada pada Candi Siwa dan Brahma.
Pada awalnya pementasan sendratari Ramayana ini dilakukan pada bulan purnama saat musim kemarau bertempat di panggung terbuka, sebelah barat kompleks candi. Kini acara tersebut sudah mengalami perkembangan, pementasannya disesuaikan dengan program yang dijadwalkan untuk satu tahun dan dikaitkan dengan event tertentu.
Pertunjukan Sendratari Ramayana ini tidak hanya diminati oleh wisatawan dalam negeri saja tetapi juga wisatawan asing, bahkan telah kondang hampir di seluruh dunia. Kepopuleran Sendratari Ramayana di Prambanan tidak lepas dari keberadaan Candi Prambanan yang letaknya strategis, dan memiliki nilai kesejarahan, seni kriya, arsitektural maupun simbolis.
Seni pertunjukan Sendratari Ramayana kini telah dipaketkan menjadi satu dengan objek wisata Candi Prambanan. Pada umumnya para wisatawan khususnya wisatawan asing yang berkunjung ke Candi Prambanan dan sekitarnya, menyempatkan diri untuk menyaksikan Sendratari Ramayana. Para wisatawan yang datang dan menginap di Yogyakarta tidak hanya berkunjung ke kraton tetapi juga ke objek-objek wisata lainnya, termasuk di Kompleks Candi Prambanan dan sekaligus menyaksikan atraksi Sendratari Ramayana.
Jumlah wisatawan dalam setiap tahunnya selalu meningkat, terlebih di hari libur. Sehubungan dengan hal itu, keberadaannya menjadi salah satu aset pariwisata yang memiliki omset cukup baik. Maka hal ini perlu dilestarikan karena di samping sebagai salah satu suguhan wisatawan yang mampu memberikan sumbangan pada devisa negara, juga merupakan salah satu bukti karya seni budaya bangsa.

EKSISTENSI WAYANG WONG PANGGUNG PURAWISATA YOGYAKARTA

by

Endah Susilantini

Abstrak
Seni pertunjukan Wayang Wong Panggung memiliki filosofi dan nilai ajaran yang sangat penting bagi kehidupan. Melalui beberapa pertunjukan yang ditampilkan, seringkali Wayang Wong Panggung mengangkat ceritera-ceritera tentang keseharian. Penghargaan terhadap seni pertunjukan, tidak harus dilakukan dengan pemberian berupa award atau bentuk-bentuk simbolitas lainnya. Namun, penghargaan yang diharapkan dari para pelaku seni adalah kepedulian masyarakat, terhadap apresisasi seni yang mereka perankan dalam pertunjukan itu.

sumber: Jantra Vol. II, No. 4, Desember 2007