404 Not Found


nginx/1.4.6 (Ubuntu)

Pangesti Wiedarti

Frans Zwarts (58) menyebutkan nama mahasiswa Indonesia, Robert Manurung, yang berhasil memperdalam riset sumber energi terbarukan di kampusnya tahun 1993.Rektor Universitas Groningen Belanda ini terkesan atas hasil riset sumber energi alternatif dari minyak jarak, tetapi juga menyiratkan rasa keingintahuannyasejauh mana implementasi riset Manurung itu. Riset itu bagus sekali. Bukankah jarak pagar (Jatropha curcas) bisa tumbuh dimana saja di Indonesia?” kata Zwarts.

Kualitas individual peneliti dari Indonesia yang melanjutkan studi ke luar negeri sering diakui cukup andal. Namun untuk implementasi hasil penelitian setelah dibawa pulang ke Indonesia kerap menjumpai kendala.

Ketika melihat peran pendidikan tinggi di Indonesia sendiri dalam mengembangkan

riset juga masih sangat kurang. Apalagi sinergi antara perguruan tinggi dan industri yang tidak terdukung, membuat anggapan perguruan tinggi di Indonesia masih pada taraf sekadar bertahan hidup. Ini seperti termaktub dalam rekomendasi Strategi dan Kebijaksanaan Penyelenggaraan Sistem Pendidikan Nasional kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono oleh Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI).

Dari kalangan akademisi di Belanda, para akademisi perguruan tinggi di Indonesia

pun mendapat kritikan. Seperti diungkapkan Direktur Institut Aplikasi Ilmu/Bioinformatika HAN University CW van Verseveld, mahasiswa di Indonesia kurang dilatih mandiri, dan ketika ingin menghubungi dosennya pun tak jarang

menemui kesulitan akses.

Indonesia berpotensi

Zwarts ketika itu didampingi Tim Zwaagstra menerima kunjungan Kompas di ruang kerjanya, Selasa (25/9), atas prakarsa Netherlands Education Support Office (Neso) Indonesia. Tim Zwaagstra selaku Koordinator Asia untuk bidang Relasi Internasional pada universitas yang juga dikenal sebagai Rijksuniversiteit

Groningen(RuG) ini.

Zwarts menuturkan, betapa penting peranan universitas menjadi lembaga riset ilmu, pengetahuan, dan teknologi untuk memengaruhi kebijakan serta mendukung dinamika masyarakat suatu bangsa.

Untuk masalah implementasi hasil riset perguruan tinggi di Indonesia yang masih

lemah, tidak menjadi fokus perhatian Zwarts. Zwarts hanya ingin menunjukkan, Indonesia memiliki kualitas manusia yang berpotensi untuk mengembangkan riset yang bisa bermanfaat bagi dunia. Apalagi berbagai riset itu ditunjang kekayaan alam Indonesia yang berlimpah. Dia mengatakan, Robert Manurung sebagai periset hebat dari Indonesia yang membawa konsep perlunya alternatif sumber energi terbarukan bagi dunia. Penelitian itu dibuat ketika dunia dihadapkan kemungkinan pasokan bahan bakar minyak bumi yang kian menipis sehingga harganya akan terus melonjak.

Solusi bahan baku untuk bahan bakar terbarukan pun ditawarkan Manurung berupa jarak pagar. Zwarts menyinggung perihal jenis tanaman ini bisa tumbuh dimana saja di Indonesia, tetapi pada praktiknya masyarakat tidak mudah membudidayakannya. Zwarts menghargai riset Manurung, juga karena pemanfaatan jarak pagar untuk bahan bakar tidak akan bersaing dengan kebutuhan makanan. Berbeda dengan sumber bahan bakar terbarukan lain untuk bioetanol pengganti bensin berasal dari jagung atau tebu.

Kemudian biosolar dari minyak kelapa sawit. Pemanfaatan jagung, tebu, atau minyak online casino kelapa sawit itu bersaing dengan kebutuhan pangan dan ditolak Zwarts. Tidak dapat dimungkiri, riset Manurung telah dituangkan ke dalam disertasi doktoralnya dan hingga kini sudah berlalu 14 tahun silam. Sebetulnya, waktu 14

tahun tidaklah sedikit untuk mengimplementasikan hasil riset tersebut.

Robert Manurung (53) saat ini aktif mengajar di Institut Teknologi Bandung(ITB). Dia menjabat Kepala Pusat Penelitian Bioteknologi ITB. Jika hasil riset Manurung diimplementasikan dengan baik di Indonesia,semestinya ketersediaan bahan bakar nabati di Indonesia sekarang berlimpah. Kemudian kerumitan pemerintah dalam menyusun Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk menyubsidi bahan bakar minyak mungkin makin terkurangi.

“The Battle for Brain Power”

Zwarts, satu di antara sekian banyak akademisi yang ditemui di Belanda, yang berusaha meyakinkan Indonesia mampu berkembang untuk makin maju karena potensi manusia dan kekayaan lingkungannya. Namun, untuk melangkah pertama kali harus didasarkan pada hasil riset ilmiah.

Perguruan tinggi menjadi salah satu jawaban untuk mengembangkan riset. Namun tidak mudah mengandalkan perguruan tinggi di Indonesia menempuh berbagai riset. Hasil riset para peneliti Indonesia dengan fasilitas dari perguruan tinggi di luar negeri pun tidak pernah mendapat apresiasi. Apalagi hasil riset dari perguruan tinggi di Indonesia yang kalah mapan, dibandingkan dengan

perguruan tinggi di luar negeri.

“Penyelenggaraan pendidikan tinggi di Indonesia masih berjuang hanya untuk sekadar hidup,” begitu yang dipaparkan di dalam rekomendasi Strategi dan Kebijaksanaan Penyelenggaraan Sistem Pendidikan Nasional kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono oleh ISPI.

Ketua Umum ISPI Soedijarto beserta timnya menyerahkan rekomendasi tersebut kepada presiden pada Maret 2007. Dinyatakan, persaingan perguruan tinggi internasional sekarang sudah pada taraf The Battle for Brain Power, yaitu taraf”peperangan” demi meraih kualitas kekuatan intelektual.

Manifestasi The Battle for Brain Power antarnegara ditunjukkan dengan statistika tahun 2002-2004 perguruan tinggi India yang mencetak 700.000 teknolog dan ilmuwan, China 510.000 teknolog dan ilmuwan, Amerika Serikat 405.000teknolog dan ilmuwan, Uni Eropa 490.000 teknolog dan ilmuwan, serta Jepang 350.000 teknolog dan ilmuwan.

Untuk anggaran pendidikan dari pemerintah bagi satu mahasiswa di Amerika Serikat mencapai Rp 200 juta, di Jepang Rp 108 juta, dan di Uni Eropa Rp 81 juta. ISPI pun mengingatkan agar Pemerintah Indonesia mempertimbangkan upaya-upaya peningkatan anggaran secara signifikan untuk penyelenggaraan pendidikan tinggi. Satu di antara banyak alasan penting lainnya adalah pendidikan tinggi atau universitas sekarang menjadi kontributor utama temuan ilmiah.

Pada beberapa dekade terakhir sudah tidak ada lagi temuan ilmiah seperti dihasilkan para amatir Thomas Alva Edison (1847-1931) dan James Watt (1736-1819). Anugerah nobel setiap tahun sudah beralih kepada kalangan ilmuwan dari berbagai universitas di dunia. Itu semua berkat pengembangan pendidikan tinggi yang terarah dan tak sekadar ada.

Mudah dihubungi

Selama mengunjungi beberapa perguruan tinggi di Belanda, CW van Verseveld, akademisi Hogeschool van Arnhem en Nijmegen (HAN University), mengemukakan apa saja terkait dengan kegiatan para mahasiswanya. Beberapa laboratorium terlihat saling bersebelahan dan hanya dibatasi dinding yang transparan. Verseveld selaku Direktur Institut Aplikasi Ilmu/Bioinformatika HAN University mengajak berkeliling ke beberapa laboratorium biologi dan kimia.

Di salah satu laboratorium, sejumlah mahasiswa mengamati unsur-unsur mikroskopik. Di ruang sebelahnya para mahasiswa mengamati reaksi kimiawi di dalam tabung-tabung kaca kecil. Verseveld sempat mengajak ke laboratorium yang diisolasi. Laboratorium untuk penelitian produksi sel dengan tujuan perbaikan fungsi organ tubuh yang menunjang program HAN BioCentre. HAN BioCentre merupakan perusahaan jasa ilmiah di bidang kesehatan milik HAN University.

Dalam kunjungan singkat ke beberapa laboratorium kampus itu, tiba-tiba Verseveld menghentikan langkahnya. Ia pun lalu diam sejenak. Verseveld seperti ingin memberitahukan sesuatu yang sangat penting, atau sesuatu yang sempat terlupakan, sehingga menahan langkahnya tiba-tiba. Ia terlihat ingin mengatakan sesuatu. Namun, tidak sesegera mungkin ia katakan. “Di sebelah sini adalah ruang dosen,” katanya.

Beberapa ruang dosen terlihat di dekat ruang-ruang laboratorium. Dengan dinding-dinding kaca sangat memudahkan mahasiswa berkomunikasi dengan dosen. Komunikasi yang mudah antara dosen dan mahasiswa, serta pendidikan kemandirian dalam penelitian, kurang dikembangkan di Indonesia. “Itu masalah sangat sederhana. Namun, yang sederhana itu sangat penting dijelaskan,” kata

Verseveld.

http://www.kompas.com/ 24 Oktober 2005

Komentar-Komentar

Tulis Komentar

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *