ABSTRAKS

Kata Kunci: Meningkatakan Apresiasi puisi menggunakan metode demonstrasi.

 Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh data tentang: keefektifan pembelajaran puisi dengan menggunakan metode  demonstrasi di kelas VIII SMP Wilayah Bina 1 SMP Kabupaten Lebak. Metode demonstrasi merupakan metode yang dinilai paling efektif untuk penyampaian materi apresiasi puisi khususnya berkaitan dengan cara-cara membaca puisi yang baik dan benar. Metode demonstrasi ini adalah metode atau teknik pengajaran puisi yang dilakukan dengan cara guru  memberikan contoh membaca puisi yang baik dan benar, dengan memperlihatkan penjiwaan, ekspresi, keatraktifan dalam membaca puisi, sehingga pusi tersebut seolah-olah hidup saat dibaca. Kesempurnaan sebuah puisi dapat terlihat ketika seseorang mampu membacanya dengan baik, sehingga pendengar puisi akan merasakan kenikmatan dan kepuasan saat puisi tersebut di baca.

Tujuan penelitian ini adalah melihat dampak dari penggunaan metode demonstrasi terhadap keefektifan pembelajaran dan peningkatan minat serta pengembangan bakat apresiasi puisi pada siswa SMP.

Kurangnya minat terhadap pembelajaran sastra khususnya puisi, antara lain disebabkan oleh pembelajaran sastra yang kurang menarik. Berbagai faktor mempengaruhi di dalamnya, baik faktor dari segi guru maupun dari siswa sendiri. Keterlibatan berbagai unsur penting yang saling terkait di antaranya unsur guru, kurikulum, metode, pengajaran, sarana dan prasarana, akan sangat mendukung terciptanya keefektifan dalam tercapainya tujuan pendidikan.

Dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode survey karena penulis ingin mengungkapkan masalah yang aktual, yaitu tentang pembelajaran puisi dengan menggunakan metode demonstrasi, juga untuk mengukur keefektifan pembelajaran puisi..

            Hasil penelitian yang penulis lakukan di kelas VIII SMP Wilayah Bina 1 Kabupaten Lebak  memeberikan gambaran bahwa minat siswa terhadap apresiasi puisi dipengaruhi oleh ketepatan pemilihan metode guru pada waktu  pembelajaran puisi. Apabila pembelajaran guru memberikan contoh semaksimal mungkin dalam membaca puisi yang baik dan penuh keatraktifan, yang  akan menjadi pedoman bagi siswa untuk meniru cara-cara membaca puisi yang benar, sehingga  siswa memperoleh gambaran bagaimana  cara membaca  puisi yang baik.

A.    Pendahuluan

Puisi merupakan ragam karya sastra yang tercipta melalui bentuk tulisan, dirangkai seindah mungkin dengan menuangkan kata-kata puitis dan pemilihan kata konotasi yang memiliki nilai rasa tinggi, baik dari segi estetis maupun makna etika bahasa. Kesempurnaan sebuah puisi akan tercipta manakala dibacakan dengan penuh penjiwaan, ekspresi dari wajah si pembaca yang benar-benar imajinatif, mampu menggetarkan rasa pada diri penonton, sehingga puisi tidak sekadar dibaca dengan  cara yang menoton dan membuat jenuh suasana. Bentuk-bentuk apresiasi terhadap puisi merupakan wadah untuk   memberikan suatu penghargaan terhadap karya sastra, seperti pementasan puisi, perlombaan-perlombaan membaca puisi, penobatan-penobatan terhadap penyair, akan memberikan kebanggaan yang mendalam.

Karya sastra dianggap mampu membuka pintu hati pembacanya untuk menjadi manusia berbudaya, yakni manusia yang responsif terhadap lingkungan komunitasnya dan berusaha menghindari perilaku negatif yang bisa menodai citra keharmonisan hidup.   Hal ini bisa terwujud manakala seseorang memiliki tingkat apresiasi sastra yang cukup, khususnya di bidang apresiasi puisi. Artinya ia mampu menangkap pernak-pernik makna yang tersirat dalam karya puisi dan sanggup menikmati menu estetika kata yang terhidang di dalamnya.

Puisi adalah bagian dari karya sastra yang wajib diperkenalkan atau disampaikan kepada siswa, karena materi tersebut tercantum  di dalam kurikulum sekolah. Dunia sekolah merupakan  dunia yang tepat untuk mensosialisasikan puisi kepada siswa.

Keberadaan pembelajaran puisi di sekolah harus diakui masih sangat minim dan kurang atraktif. Kenyataan yang sering ditemui adalah, siswa dalam membaca puisi masih terasa dangkal, tidak ada penjiwaan. Di sisi lain lemahnya pembelajaran puisi, karena peran guru yang kurang maksimal dalam  mendemonstrasikan membaca puisi yang benar. Penulis mengamati beberapa kemungkinan masalah yang timbul dalam pengajaran puisi adalah :

  1. Kurang adanya minat siswa terhadap puisi
  2. Tidak diberikan kesempatan melihat ataupun ikut perlombaan mencipta dan     membaca  puisi.
  3. Guru yang kurang pandai dalam mendemonstrasikan pembacaan puisi yang       menarik.

Kemampuan mengapresiasi puisi di kalangan siswa kurang mendapat perhatian baik dari guru bahasa indonesia maupun guru bidang studi lainnya yang mendukung. Metode yang tepat dalam pelaksanaan pengajaran harus terus diasah dan dikembangkan, agar  pengajaran puisi tidak mengalami kegagalan, bahkan harus dijadikan sebagai wadah untuk mengembangkan bakat siswa.

Pengajaran puisi adalah suatu proses pemberian materi dalam bentuk sebuah rangkaian tulisan yang memiliki makna konotatif, berbentuk  simbol-simbol kata, serta diakhiri dengan cara-cara mengapresiasi dan pengekspresian puisi dengan baik. Tujuan pengajaran puisi diberikan, dengan harapan siswa mampu menciptakan  karya puisi yang memiliki  bahasa puitis, dan  nilai-nilai estetis tinggi, sehingga dapat menyentuh rasa para penikmat puisi. Di samping itu, tujuan pengajaran puisi adalah agar siswa dapat membacakan puisi dengan penuh ekspresif, imajinatif dan memberikan daya tarik yang kuat bagi penonton  sehingga puisi tidak lagi dibacakan dengan cara monoton.

Penulis mengadakan wawancara dengan guru Bahasa Indonesia, berkaitan dengan proses belajar mengajar khususnya pelajaran apresiasi puisi. Metode yang digunakan dalam penyampaian materi apresiasi puisi di antaranya memang juga menggunakan metode demonstrasi di samping divariasikan dengan metode ceramah sebagai alat penyampai informasi, dan diskusi untuk mengulas materi apresiasi puisi secara berkelompok. Penggunaan metode demonstrasi menurut salah satu guru SMP di Wilayah Bina 1 Kabupaten Lebak  memang dinilai efektif sebagai media penyampain materi puisi, tetapi hasilnya belum menunjukkan persentase yang memuaskan. Apabila dilihat dari segi pendidik, guru bahasa indonesia SMP  Wilayah Bina 1 Kabupaten Lebak  di pandang cukup kompeten dalam penyampaian materi puisi. Hanya saja guru  dalam memberikan contoh membacakan puisi, kurang adanya fantasi saat membaca puisi.

  Pada penelitian ini penulis mencoba melakukan jajak pendapat terhadap siswa  di lima sekolah Wilayah Bina 1 SMP Kabupaten  Lebak  tentang bagaimana keefektifan  metode demonstrasi dalam pengajaran puisi sebagai upaya meningkatkan kemampuan mengapresiasi puisi.

B.    Kajian Teori

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia(1997) dituangkan bahwa metode adalah cara yang teratur untuk melaksanakan suatu pekerjaan agar tercapai sesuai dengan yang dikehendaki, cara kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaan suatu kegiatan guna mencapai tujuan yang ditentukan.

Metode demonstrasi menurut Djamarah dan Zain adalah cara penyajian bahan pelajaran dengan memeragakan atau mempertunjukkan kepada siswa suatu proses,  situasi, atau benda tertentu yang sedang dipelajari, baik sebenarnya maupun tiruan. (2003 : 102)

Dari ungkapan tersebut penulis menyimpulkan bahwa metode demonstrasi adalah suatu proses memberikan contoh kepada siswa berkaitan dengan materi yang akan disampaikan  agar  siswa dapat meniru, memeragakan ulang segala sesuatu yang berkaitan dengan materi yang akan disampaikan kepada siswa, melalui cara kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksanaan kegiatan guna mencapai tujuan yang diinginkan.

Pengertian pengajaran dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia yaitu : 1. proses, cara, perbuatan mengajar atau mengajarkan; 2. perihal mengajar; segala sesuatu mengenai mengajar; 3. peringatan (pengalaman, peristiwa yang dialami atau dilihatnya).  Suatu kegiatan yang bernilai edukatif mewarnai interaksi yang terjadi antara guru dengan anak didik. Kegiatan belajar mengajar merupakan interaksi yang bernilai edukatif dikarenakan kegiatan belajar mengajar yang dilakukan, diarahkan untuk mencapai tujuan yang telah dirumuskan, demikian  pendapat yang disampaikan oleh  Djamarah. Kesimpulan yang dapat penulis sampaikan bahwa pengajaran adalah suatu proses kegiatan pembelajaran formal dengan acuan kurikulum sebagai pedoman dalam pencapaian tujuan pendidikan Nasional.

Definisi apresiasi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia(1997)  adalah kesadaran terhadap nilai seni dan budaya.

Aminuddin(1987)  mengungkapkan kembali bahwa definisi apresiasi sastra secara langsung adalah kegiatan mengapresiasi sastra pada performansinya, misalnya saat Anda melihat, mengenal, memahami, menikmati ataupun memberikan penilaian pada kegiatan membaca puisi, cerpen, pementasan drama, baik di radio, televisi maupun di panggung terbuka. Efffendi mengungkapkan bahwa apresiasi sastra adalah perwujudan pengalaman-pengalaman sastrawan atau pujangga yang diungkapkan dengan jujur, terus terang, sungguh-sungguh, dan penuh imajinasi (daya bayang) dengan bahasa yang khas pula. Pemahaman yang dapat disimpulkan yaitu apresiasi khususnya di bidang puisi adalah cara menikmati dan memahami kajian-kajian dalam pernak-pernik puisi yang disampaikan oleh penyair sekaligus memberikan penghargaan terhadap puisi dengan cara pembacaan yang atraktif sehingga kesempurnaan puisi nyata dinikmati oleh penikmat puisi.

Sastra menurut Fanamie adalah karya fiksi yang merupakan hasil kreasi berdasarkan luapan emosi yang spontan yang mampu mengungkapkan aspek estetik baik yang didasarkan aspek kebahasaan maupun aspek makna.

Puisi adalah ragam sastra yang bahasanya terikat oleh irama, matra, rima, serta penyusunan lirik dan bait,  demikian definisi puisi  yang terdapat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia.

Puisi itu sendiri menurut Ahmad Syubhanuddin(2005) adalah hasil proses kreatif penyair melalui penjelajahan empiris (unsur pengalaman), estetis (unsur keindahan), dan analistis (unsur pengamatan).

 C.    Metode dan Teknik Penelitian

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Metode Survay. Metode tersebut dalam penelitian menjadi tolok ukur untuk mengetahui minat siswa terhadap puisi sebagai dampak dari  keefektifan pengajaran puisi dengan menggunakan metode demonstrasi yang dilakukan guru.

Dalam mengumpulkan data penelitian, penulis memberikan angket kuisioner mengenai proses pembelajaran sastra, khususnya puisi dan pengalaman siswa terhadap proses pembelajara tersebut, hasilnya diolah dalam bentuk persentase  untuk memperoleh kesimpulan akhir.

 D.    Populasi Dan Sampel Penelitian

Populasi penelitian ini adalah  siswa kelas VIII  SMP Wilayah Bina 1 Kabupaten Lebak yang berjumlah 12 SMP, namun yang dijadikan populasi sebanyak  lima sekolah, yakni siswa SMPN 1,  SMPN 2 dan SMPN 3 Cibadak, SMPN 1 dan SMPN 4 Rngkasbitung di wilayah Bina 1 Kabupaten Lebak. Sedangka sampel diambil sebanyak 44 siswa dari populasi sasaran  secara acak.    Keempat puluh empat siswa tersebut adalah yang dijadikan  responden sebagai sumber data primer penelitian. Pengambilan sampel didasarkan kepada tingkat variatif siswa dengan karakteristik yang mengacu pada prestasi siswa di kelasnya.

 E.    Deskripis Data dan Analisis

Pengisian angket yang di berikan kepada siswa, bertujuan untuk menjaring dan mengetahui minat serta bakat siswa terhadap apreasi puisi. Di bawah ini adalah hasil angket apreasi puisi kelas VIII  SMP Wilayah Bina 1 Kabupaten Lebak.

Penulis perlu mengetahui seberapa besar siswa memiliki minat terhadap pengajaran puisi. Berbagai faktor dan kendala yang dihadapi, baik oleh pengajar maupun siswa, berpengaruh besar terhadap siswa dalam menumbuhkan minat untuk menyenangi puisi. Memang bukan suatu hal yang mudah unutk dipaksakan kepada siswa agar menyenangi pelajaran puisi. Apabila siswa tidak memiliki bakat yang kuat, minimal siswa bisa mengaplikasikan teori – teori mem,baca puisi dalamkonteks pelaksanaanya secara benar.

Penulis membagi dua kelompok pertanyaan untuk mengetahui mengenai kegiatan pembelajaran puisi :

  1. Pertanyaan yang berkaitan dengan pengalaman siswa dalam pembelajaran puisi.
  2. Pertanyaan mengenai minat siswa terhadap pengajaran apreasi puisi .

Setelah memberikan beberapa pertanyaan yang berkaitan dengan pengajaran apresiasi puisi, sedikitnya penulis dapat memperoleh gambaran tentang minat siswa terhadap apresiasi puisi

Beberapa Informasi mengenai pengajaran apresiasi puisi dan  minat siswa yang penulis peroleh yaitu di antaranya:

 1.     Analisis Pengajaran Apresiasi Puisi

1)     Pertanyaan yang penulis ajukan adalah: Pernakah kamu mendapat Pengajaran Apresiasi Puisi?

      Seluruh responden yang berjumlah 44 orang menjawab Pernah. Ini  menunjukan bahwa siswa kelas VIII SMP  Wilayah Bina 1 Kabupaten Lebak semua pernah mendapatkan pengajaran apresiasi puisi. Puisi memang merupakan mata pelajaran yang tercantum pada kurikulum. Dengan demikian, mata pelajaran sastra, khususnya puisi, wajib disampaikan kepada anak didik.

2)     Pertanyaan yang berikut adalah : Jenis puisi apakah yang sering diajarkan oleh gurumu?

      Dari Jumlah siswa sebanyak 44 orang, 56,8% atau 25 siswa menjawab puisi konvensioanal, sementara 47,5% atau 19 responden menjawab puisi jenis kontemporer.

3)     Pertanyaan ketiga : Metode apa yang digunakan guru dalam menyampaikan pengajaran puisi?

Jawaban yang menyatakan ceramah, 50% atau 22 responden, yang menyatakan diskusi sebanyak 30% atau 13 responden,dan yang menyatakan jawaban lain-lain adalah 20% atau 9 siswa.

4)     Penulis memberikan pertanyaan : Menyenangkankah gurumu dalam memberikan pelajaran puisi?

Responden yang menyatakan menyenangkan berjumlah 34,1% atau 15 siswa, yang menyatakan membosankan sebesar 45,% atau 20 responden, sedangkan yang menyatakan tidak menyenangkan adalah sebesar 20,5% atau sebanyaka 9 siswa.

5)     Apakah gurumu selalu memberikan contoh cara membaca puisi yang baik? 45,5% atau sebanyak 20 siswa memnjawab pernah, 06,8% atau 3 siswa menjawab tidak pernah, 47,7% atau sebanyak 21 siswa menyatakan jarang-jarang.

6)     “Dalam tes praktik membaca puisi, apakah gurumu selalu memberikan penilaian?” Yang menjawab YA sebanyak 75% atau sejumlah 30 siswa, yang menjawab kadang-kadang yaitu sebanyak 22,7% atau sejumlah 10 siswa, sementara sisanya adalah menjawab tidak pernah yaitu 0,9% atau sejumlah 4 siswa.

7)     Penulis mengajukan pertanyaan lebih lanjut yaitu: Berhasilkah gurumu menumbuhkembangkan bakat siswa dalam membaca puisi, dengan menggunakan metode yang dipakainya?

      22,7% atau sebanyak 10 siswa, menyatakan berhasil, sementara sejumlah 77,3% atau sebanyak 34 siswa menyatakan kurang berhasil.

8)     Sesuai dengan judul yang penulisangkat “ Penggunaan Metode Demontrasi dalam pengajaran Puisi”. Penulis juga mengajukan pertanyaan : “Pernahkah gurumu menyampaikan pelajaran puisi dengan menggunakan metode demontrasi?

      siswa yangmenjawab pernah sebanyak 50% atau 22 anak, sementara yang menjawab tidak pernah juga sebanyak 50% atau 22 siswa.

9)     Pertanyaan selanjutnya adalah: Apakah kamu menyenangi pelajaran puisi? Sebanyak 56,8% atau sebanyak 25 siswa menyenangi puisi. Sementara yang menjawab tidak menyenangi yaitu sebanyak 19 siswa atau 43,2%.

10)  Lebih lanjut Penulis mengajukan pertanyaan: Menurutmu perlukah di sekolah mendapat pelajaran apresiasi puisi

      Rata-rata mereka menyatakan jawaban perlu, yaitu sekitar 88,6% atau sejumlah 39 siswa. Sementara sisanya 11,4% atau 5 siswa yang menjawab tidak perlu.

2.Analisis Minat siswa Terhadap Pengajaran Apresiasi Puisi

Penulis perlu mengetahui seberapa besar siswa memiliki minat terhadap pengajaran puisi. Berbagai faktor dan kendala yang dihadapi, baik oleh pengajar maupun siswa, berpengaruh besar terhadap siswa dalam menumbuhkan minat untuk menyenangi puisi.

Beberapa Informasi mengenai minat siswa yang penulis peroleh yaitu diantaranya:

1). Senangkah kamu dengan pelajaran puisi?

Jawaban yang penulis peroleh yaitu 73,7% atau sebanyak 32 siswa menyenangi puisi, sisanya 27,3% atau sebanyak 12 siswa tidak menyenangi puisi. Dari analisa tersebut,memang pada dasarnya siswa kelas VIII SMP Wilayah Bina 1 Kabupaten Lebak sebagian besar menyenangi puisi. Seusia mereka yang mulai mengalami pubertas lebih condong menyukai pengungkapan kata-kata puitis, kata-kata yang mengandung makna indah luapan isi hatinya.

2)     Pertanyaan berikut yang penulis ajukan adalah “Senangkah kamu membaca puisi?”

Siswa yang  menjawab  senang membaca puisi adalah 64,6% atau sebanyak 28 anak, sedangkan yang tidak menyenangi membaca puisi yaitu 36,4% atau sebanyak 16 siswa

3)     Selanjutnya penulis memberikan pertanyaan senangkah kamu menulis puisi?”

Jawaban terhadap pertanyaan itu adalah 45,5% atau sebanyak 20 anak menjawab senang, dan 55,5% atau sebanyak 24 siswa menjawab tidak senang

4)     Apakah Anda selalu memperhatikan ketika guru sedang memberikan contoh membaca puisi?

Jawaban memperhatikan persentasenya sebesar 34,1% atau sebanyak 15 anak, kurang memperhatikan 22,7% atau sebanyak 10 anak, sisanya menjawab tidak memperhatikan 43,2% atau sebanyak 19 anak.

Hasil analisis  pada pertanyaan poin ini, banyak berbagai faktor yang menjadi penyebabnya, mengapa anak kurang memperhatikan disaat guru memberikan contoh membaca puisi ? resume siswa yang dikemukakan antara lain kurang menarik perhatian tatkala guru mendemontrasikan membaca puisi.

5)     Apakah kamu senang apabila ditunjuk untuk ikut lomba membaca puisi?

Pertanyaan terakhir yang penulis ajukan kepada siswa bertujuan untuk menganalisa keberhasilan guru dalam memberikan pelajaran apresiasi puisi, sekaligus melihat antusias siswa dalam merespon kegiatan apresiasi puisi dalam konteks kompetisi membaca puisi. Persentase yang diperoleh yaitu 11,4% atau sdebanyak 5 siswa menjawab senang, yang menjawab tidak senang yaitu 88,6% atau sebanyak 39 siswa.

 F.     Simpulan

 Berdasarkan uraian pada uraian di atas , dapat ditarik simpulan bahwa pada dasarnya  para siswa mempunyai kemampuan untuk mengapresiasikan puisi dengan baik, tetapi hal ini juga tidak terlepas dari kemampuan guru dalam membangkitkan minat dan kemampuan siswa tersebut. Para siswa pada umumnya, sebelum melakukan apresiasi sangat memerlukan teori-teori tentang apresiasi puisi, apa yang disebut dengan apresiasi dan bagaimana tata cara mengapresiasikan puisi tersebut. Untuk materi apresiasi puisi, guru dituntut dapat memberikan contoh-contoh membaca puisi yang benar, atraktif, penjiwaan, pengekspresian, serta penguasaan puisi, karena memang benar bahwa seorang siswa selalu mencontoh hal-hal yang diperbuat oleh gurunya. Untuk itu penulis yakin apabila seorang guru mampu membaca puisi dengan baik, niscaya siswanyapun akan mengikuti, meniru, apa yang dicontohkan oleh gurunya.

                                Penggunaan Metode Demonstrasi dalam Pengajaran Puisi dapat meningkatkan minat siswa untuk mengapresiasi Puisi”, bahwa penyampaian materi aprsiasi puisi dengan menggunakan metode demonstrasi, sangat efektif dilaksanakan dan mudah untuk diikuti oleh siswa dalam mengembangkan kemampuan membaca puisi, dengan catatan guru benar-benar mendemonstrasikan membaca puisi dengan sebaik-baiknya, sehingga siswa dapat secara langsung melihat, merasakan keatraktifan puisi yang dibaca oleh gurunya.

 G.    Daftar Pustaka

Alwy, Ahmad Syubhanudin,2005. Mozaik Sastra Indonesia.Bandung : Nuansa

Aminuddin, 1987. Pengantar Apresiasi Karya Sastra. Bandung : Sinar Baru.

Arikunto, Suharsimi. Prosedur Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta

Depdikbud. 1997. Kamus Besar bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka

Depdiknas. 2005. Bahasa Dan Satra Indonesia : Direktorat Jenderal Pendidikan  Dasar Dan Menengah

Depdikanas. 2007. Kamus Besar Indonesia. Jakarta :Balai Pustaka

Effendi, S. 2002. Bimbingan Apresiasi Puisi. Jakarta : Pustaka Jaya

Endraswara, Suwardi. 2008. Sanggar Sastra. Jogjakarta : Ramadhan Press

Fanamie, Zainuddin. 2000. Telaah Sastra. Surakarta : Muhammadiyah University Press

Rahmanto, B. 1988. Metode Pengajaran Sastra. Yogyakarta :Kanisius

Rosidi, Ajip.1968. Ikhtisar Sejarah Sastra Indonesia. Bandung : BinaCipta

Sarumpaet, Riris K. Toha. 2002. Apresiasi Puisi Remaja. Jakarta : Grasindo

zp8497586rq